Polsekta Blimbing Tembak Pembobol Rumah

DITANGKAP : Polsekta Blimbing menunjukkan dua pembobol rumah kosong, Julius Hendrik Oktavianus Sapulete dan Dedi Sutrisno serta barang-barang curiannya.
 
MALANG– Pistol polisi akhirnya menyalak juga. Akhir pekan kemarin, satu dari dua pelaku spesialis pencurian rumah kosong yang selama ini beraksi di wilayah Kota dan Kabupaten Malang, ditembak persis di kaki kanannya oleh anggota reskrim Polsekta Blimbing. Yakni Julius Hendrik Oktavianus Sapulete alias Jhon alias Eki, 41 tahun, warga Jalan Kapasari Pedukuhan Gg 5, Kelurahan Tambakrejo, Simokerto, Surabaya. “Dia yang juga beralamat di Jalan Putat Jaya Gg III B Surabaya ini, terpaksa kami lumpuhkan karena berusaha melawan dan kabur saat akan kami tangkap,” ungkap Kapolsekta Blimbing, Kompol Rofik Ripto Himawan. Sedangkan satu pelaku, Dedi Sutrisno alias Tuwek, 44 tahun, asal Cipinang Melayu, Kota Makasar, yang selama ini tinggal di rumah orangtuanya di Jalan Embong Brantas Gg Ledok, Malang tidak ikut ditembak karena dianggap kooperatif.
Menurut Ripto, sapaannya, bermula dari diamankannya Dedi, akhir pekan kemarin. Pria yang pernah dua kali masuk penjara karena kasus perampokan nasabah bank tahun 1996 dan 2003 ini diamankan petugas Polsekta Blimbing di Jalan Embong Brantas Malang. Warga sekitar melaporkan dia ke polisi, kalau Dedi sedang mabuk narkoba dan berperilaku seperti orang gila. Mendapat laporan itu, petugas lantas mendatangi lokasi dan mengamankannya. Setelah sadar, petugas yang sejak awal mencurigai pria ini terlibat berbagai kasus kejahatan, langsung menginterogasinya. Dari keterangan dia, terungkap kalau pernah melakukan pencurian di Jalan Letjen S Parman Malang, pertengahan Februari ini.
“Berdasarkan keterangan itu kami lalu menggeledah rumahnya. Di sana, kami menemukan beberapa barang bukti. Seperti 5 batu permata warna biru, dua cincin putih, satu gelang, tas hitam, tas punggung merek Export, sandal merek Nike, sepasang sepatu merek HI TECH, uang recehan logam sebesar Rp 11.500, uang Rp 760.000, jam tangan serta dompet warna biru,” papar mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini. Dalam pemeriksaan lanjutan, Dedi mengaku pencurian itu dilakukan bersama Jhon alias Eki. Akhirnya petugas pun langsung mengembangkan dengan mencari keberadaan pria tersebut. Hasilnya, setelah disanggong Jhon berhasil ditangkap di sebuah kamar di Lokalisasi Jarak, Surabaya. Karena berusaha melawan dan kabur, Jhon yang bekerja sebagai debt collector ini terpaksa ditembak. Dari penangkapan ini, petugas juga mendapat beberapa barang bukti lain. Diantaranya satu buah dompet, uang Rp 2.532.000, 11 jam tangan berbagai merek, kawa mata hitam, dua pasang sepatu merek Adidas dan Crocodile, tiga buah gelang emas, satu bros emas, satu cincin emas, obeng,  12 buah HP berbagai merek, satu tas merek Hernes dan sepeda motor Yamaha Mio, B 3286 NRW. (agp/mar)

Rumah Sasaran Ditelepon dan Dilempari Batu

POLISI mulai memeriksa Hendrik Oktavianus Sapulete alias Jhon alias Eki dan Dedi Sutrisno alias Tuwek secara intensif. Dari keterangan kedua tersangka ini, diketahui pula bila bukan hanya mereka berdua saja yang melakukan pencurian. Masih ada empat pelaku lain yang masih buron. Yakni Niko Sapulete, adik kandung Jhon, Rama, Molot dan Bulton alias Sulton. Keempatnya diketahui tinggal di Surabaya. Kelompok pencuri spesialis rumah kosong tersebut, beraksi lebih dari 20 TKP di Kota dan Kabupaten Malang, sejak pertengahan 2012 lalu. ”Namun, kedua tersangka baru mampu menunjukkan 10 lokasi pencurian saja,” tutur Kapolsekta Blimbing, Kompol Rofiq Ripto Himawan.
Mulai dari Pondok Blimbing Indah (PBI) Malang, Jalan Aluminium Malang, Jalan Emas Malang, Perum Dieng Atas Permai, Dau, Jalan Sarangan, Perum De Cluster Jalan Pisang Kipas Malang, Perum Joyo Grand Blok L Malang, Perum Lembah Dieng, Pondok Alam Jalan Sigura-Gura Malang dan di Jalan Letjen S Parman Malang. Rata-rata, mereka melakukan pencurian di pertengahan tahun 2012 lalu. “TKP lainnya masih banyak, karena beberapa barang bukti yang kami amankan banyak yang belum teridentifikasi siapa korban dan dimana TKPnya. Selain itu, kawanan ini juga terlibat kasus curanmor yang kini masih kami selidiki keberadaan barang buktinya,” jelas Ripto.  Modus operandi yang dilakukan kawanan ini, mencari sasaran rumah yang ditinggal kosong pemiliknya.
Caranya dengan menelpon telepon rumah yang akan menjadi sasaran aksi. Setelah tiga kali ditelpon tidak diangkat, kawanan ini lantas mendatangi rumah tersebut. Selanjutnya untuk memastikan lagi tidak ada penghuni, mereka melempari rumah dengan batu sebanyak tiga kali. Begitu tidak ada reaksi, mereka pun merusak pagar dan pintu rumah dengan menggunakan obeng. Setelah berhasil, barang jarahan itu lalu dibawa kabur ke Surabaya untuk dijual. Uang hasil penjualan lalu dibagi rata dengan mencari tempat aman di sebuah hotel. “Yang menjadi eksekutornya saya dan adik saya Niko. Sedangkan lainnya menunggu di luar. Kami beraksi kadang dua sampai tiga orang,” aku Jhon alias Eki. (agp/mar)