Tuntut Polisi Serius Usut BPF

LAPOR : Delapan lagi nasabah PT. Bestprofit Futures melapor ke Mapolres Malang Kota.

Lagi, Delapan Nasabah Melapor
MALANG- Delapan nasabah PT. Bestprofit Futures (BPF), kemarin mendatangi Mapolres Malang Kota. Mereka didampingi tim dari Law Firm Gunadi Handoko and Partners, melaporkan perusahaan perdagangan berjangka komoditi ini ke polisi. Pelaporan delapan nasabah ke Polres Malang Kota tersebut, menambah daftar panjang lima nasabah yang sebelumnya sudah mengadu ke polisi. Informasi yang didapat Malang Post, total kerugian delapan nasabah tersebut berkisar Rp 2 miliar. Namun para nasabah yang hanya sekitar 15 menit menyerahkan laporan penipuan BPF ke bagian umum Polres Malang Kota ini, enggan memberikan komentar lebih banyak. Hal ini diakui Gunadi Handoko, SH, MM, M.Hum saat dihubungi kemarin siang.
”Ya, untuk kepentingan kasus ini, mereka memang meminta tidak disebutkan namanya. Termasuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Gunadi. Tetapi, lanjut dia, nasabah-nasabah ini menuntut polisi untuk segera melangkah lebih cepat menangani kasus tersebut. ”Banyak nasabah yang menanyakan langkah polisi yang katanya berjanji akan memanggil pihak-pihak terkait untuk penyelesaian masalahnya, termasuk katanya akan segera melakukan gelar perkara. Mereka berharap agar polisi serius menangani perkara ini,” tambah dia. Pasalnya, selama ini, polisi dianggap belum cukup serius untuk meningkatkan status penyelidikan ke penyidikan dengan alasan masih perlu mencari keterangan tambahan dari saksi ahli.  
Sementara itu, terkait gugatan perdata yang dimasukkan BPF kepada Dwi Rubingi, salah satu nasabahnya di Pengadilan Negeri Kabupaten Malang di Kepanjen, bakal dilawan Gunadi dan timnya dengan membeberkan berbagai kebobrokan yang dilakukan perusahaan perdagangan berjangka komoditi yang berkantor di Jalan Letjen S Parman Malang tersebut. Pihaknya mempertanyakan isi gugatan yang menyatakan bila Dwi yang tinggal di Perum Sengkaling Indah, Desa Mulyo Agung, Dau itu dianggap telah melakukan intimidasi dan fitnah kepada perusahaan perdagangan berjangka komoditi ini.
”Gugatan perdata itu malah bakal jadi bumerang buat mereka. Pasti kita lakukan gugat balik kepada BPF. Yang disebut intimidasi dan fitnah itu harus dibuktikan dulu unsur pidananya. Sekarang pak Dwi masih ada di Jakarta untuk melaporkan BPF ke beberapa instansi. Dia bahkan sudah dimintai keterangan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI),” tegas dia. Dihubungi Malang Post, Dwi yang ditunjuk sebagai juru bicara nasabah yang dirugikan BPF membenarkannya. ”Selasa (19/2), selama tiga jam saya dimintai keterangan oleh Kepala Biro Hukum BAPPEBTI, Alfons Samosir dan stafnya, Alfred. Saya sempat bersitegang ketika mengatakan apa adanya tentang penipuan yang dilakukan BPF,” terangnya. Menurut dia, salah satu materi yang dilaporkan ke BAPPEBTI adalah pelanggaran yang dilakukan wakil pialang dalam melakukan transaksi tanpa persetujuan dari nasabahnya.
Seperti diketahui, BPF menggugat secara perdata Dwi Rubingi.  Mereka meminta ganti rugi sebesar Rp 5,85 miliar kepada Dwi, dengan alasan dia melakukan tindakan melawan hukum seperti melakukan intimidasi dan fitnah kepada perusahaan perdagangan berjangka komoditi itu. (mar)