Pemakai dan Pengedar Ganja Dibekuk

DIBEKUK :  Sulis Triyono dan Andik Harianto alias Broto dibekuk dengan barang buktinya.

MALANG– Peredaran narkotika di Kota Malang, seakan tidak ada habisnya. Rabu (20/20 lalu, Satreskoba Polres Malang Kota, kembali menangkap pemakai dan pengedar narkotika jenis daun ganja kering. Mereka diamankan secara terpisah berikut dengan barang buktinya. Keduanya adalah Sulis Triyono, 27 tahun, warga Jalan MT Haryono Gg X Malang dan Andik Harianto alias Broto, 26 tahun, warga Jalan Imam Bonjol, Desa Codo, Wajak. Sulis yang kali pertama ditangkap oleh polisi. Residivis kasus yang sama pada 2009 ini, dibekuk di pinggir Jalan Ciamis Malang. Dari tangan Sulis yang bekerja sebagai karyawan rumah makan ini, petugas mengamankan sepoket ganja kering yang dibungkus kertas koran.
“Dia berhasil ditangkap, setelah sebelumnya mendapat informasi dari masyarakat kalau dia mengkonsumsi ganja. Setelah dilakukan penyelidikan dan informasi itu benar, petugas langsung menangkap dan menemukan barang bukti ganja di lipatan lengan jaket sebelah kiri,” ungkap Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan. Dalam pemeriksaan, Sulis mengaku kalau ganja kering tersebut didapat dari Andik Harianto. Dia membeli sepoket ganja ukuran besar sekitar sepekan lalu seharga Rp 1,5 juta. “Saya baru sekali membeli dan sebagian habis saya pakai,” ujar Sulis. Selanjutnya, berdasarkan pengakuan Sulis itu, petugas lalu mengembangkan kasusnya dengan menggrebek rumah Andi Harianto alias Broto. Pria yang mempunyai keahlian mengukir ini, ditangkap ketika sedang tidur nyenyak.
Dari tangan dia  petugas mendapatkan barang bukti sepoket ganja dibungkus kertas cokelat. Dihadapan penyidik sendiri, tersangka Broto mengatakan kalau daun ganja kering itu dibeli dari Jakarta, dengan lewat perantara temannya SM asal Surabaya. Dia mengaku membeli satu kilogram ganja seharga Rp 4 juta. Daun ganja tersebut, kemudian dibagi menjadi beberapa poket. Setengah kilogram ganja dijual dengan harga Rp 3 juta. “Dia juga mengatakan kalau sebagian ganja dinikmati sendiri. Saat ini sendiri, kasus ini masih dikembangkan untuk memburu bandarnya yang lebih besar,” ujar Dwiko. (agp/mar)