Politik Devide Et Impera

BERTEMU : Dua kuasa hukum BPF bertemu dengan kuasa hukum nasabah.

SUHU panas PT. Bestprofit Futures (BPF) dan nasabahnya yang dirugikan benar-benar kuat. Beberapa polisi yang berjaga di depan kantor perusahaan perdagangan berjangka komoditi ini kemarin, berusaha menjaga emosi nasabah dan massanya tidak dalam kondisi memuncak. Wakapolsekta Blimbing, AKP Tukimin Hadi akhirnya memediasi beberapa perwakilan nasabah didampingi Gunadi Handoko SH, MM, M.Hum untuk bertemu dengan kuasa hukum BPF, Dwi Wimbo SH dan Joko Tri Cahyono SH. Beberapa nasabah yang masuk ke dalam kantor BPF langsung menuding bila pihak perusahaan tersebut berusaha melakukan politik pecah belah kepada seluruh nasabah yang dirugikan.
”Perusahaan ini telah melakukan politik devide et impera kepada kami semua. Mereka datangi satu persatu nasabah yang sudah melapor ke polisi,” kata salah satu nasabah wanita yang minta namanya dirahasiakan. Dijelaskannya, saat bertemu dengan para nasabah yang menjadi korban ini, ada tiga hal yang disampaikan mereka. Yang pertama, nasabah diminta untuk mencabut laporannya ke polisi, tuntutan kedua, nasabah diminta mencabut kuasa hukumnya kepada Gunadi Handoko dan  yang ketiga, menanyakan apakah laporan yang dibuat kepada polisi merupakan intrik atau paksaan dari Dwi Rubingi sebagai juru bicara nasabah selama ini. Kalau ini semua dipenuhi nasabah, pihak BPF mengiming-imingi dan menjanjikan segera akan mengembalikan uang nasabah antara 30 persen hingga 40 persen.
”Untungnya, selama ini para nasabah tetap kompak. Sehingga keinginan orang-orang BPF yang datang untuk memecah belah nasabah dan kuasa hukum tidak terjadi. Kami sendiri tidak mau kalau uang hanya dikembalikan 40 persen. Kami ingin semua uang kembali. Itu saja. Tidak usah sama untungnya,” papar nasabah tersebut. Di sisi lain, Gunadi juga segera meminta polisi untuk menetapkan Pimpinan Cabang BPF Malang, Andri Pung masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). ”Selama ini dia sama sekali tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan masalah. Kesannya, dia selalu menghilang,” kata dia.
Menyikapi tudingan para nasabah ini, Joko Tri hanya mengatakan bila kliennya ingin menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan proses hukum. ”Perkembangan terakhir, klien kami ingin seperti itu. Sebab, selama ini jalan kekeluargaan yang diminta tidak pernah bisa ketemu,” paparnya. Sehingga menurut dia, ada kejelasan hukum terhadap kasus ini. ”Kami juga akan berikan jawaban secara tertulis setelah pimpinan BPF datang,” pungkasnya. (mar)