Hentikan Aksi, Cabut Laporan

TEGANG : Dwi Rubingi bersitegang dengan kuasa hukum BPF yang mengawal ketat Andri Pung, bos BPF.

Permintaan BPF
KEPANJEN- Upaya penyelesaian mediasi gugatan perdata PT. Bestprofit Futures (BPF) terhadap salah seorang nasabahnya, Dwi Rubingi gagal mencapai titik temu, kemarin. Dalam sidang lanjutan gugatan di Pengadilan Negeri Kabupaten Malang tersebut, perdamaian antara pihak penggugat dan tergugat tidak tercapai. Sidang pun dilanjutkan Kamis (14/3) depan, dengan agenda pembacaan gugatan. Dalam mediasi yang dipimpin hakim Heru, SH selama satu jam itu, Dwi Rubingi dan Andri Pung, Pimpinan Cabang BPF Malang sama-sama hadir. Andri tidak datang sendirian. Dia didampingi dua kuasa hukumnya, Wimbo Joesworo SH, MH dan Djoko Tritjahjana SE, SH. Sedangkan Dwi didampingi kuasa hukumnya, Muhammad Nadzib Asrori SH, dari kantor Law Firm Gunadi Handoko & Partners.
”Proses mediasinya berjalan alot. Mereka meminta kepada klien kami hal-hal yang tak masuk akal. Yakni menghentikan aksi demo dan mencabut laporan di kepolisian,” ujar Nadzib ditemui usai mediasi ini. Permintaan itu, menurut dia, ditolak mentah-mentah oleh pihaknya lantaran BPF tidak memberikan kompensasi apapun bagi nasabahnya yang dirugikan, bila menghentikan aksi demo  yang sudah dilakukan selama tiga kali ini. “Lain lagi bila BPF mengembalikan uang nasabah secara keseluruhan beserta ganti ruginya,“ paparnya. Dwi Rubingi sendiri, sebagai tergugat mengaku sempat memprotes Djoko, kuasa hukum BPF karena dianggap tidak berkompeten dalam hal mediasi.
Juru bicara Aliasi Korban BPF ini mengatakan, Djoko tidak bisa menunjukkan surat izin praktek dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). “Mengenai hal itu, nanti kita ajukan eksepsi dipersidangan selanjutnya,“ kata Nadzib menegaskan. Sementara itu, Andri Pung sendiri, enggan berkomentar usai sidang. Dia dan dua pengacaranya memilih langsung masuk ke dalam mobil dan pergi. Sempat terjadi ketegangan ketika kedua belah pihak keluar dari ruang sidang. Dwi yang kemarin dikawal beberapa nasabah sempat adu mulut dengan Wimbo dan Djoko yang masih mempermasalahkan permintaan untuk tidak demo dan mencabut laporan polisi.
Andri yang melihat ulah Dwi ini hanya tertawa kecil dari belakang punggung kedua pengacaranya tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya, BPF menuduh Dwi yang tinggal di Perum Sengkaling Indah, Desa Mulyo Agung, Dau telah melakukan tindakan intimidasi dan provokasi terhadap karyawan marketing BPF. Akibatnya, perusahaan perdagangan berjangka komoditi di Jalan Letjen S Parman Malang, ditinggalkan sekitar 70 nasabah dan calon nasabah. Mereka juga mengalami kerugian sebesar Rp 5,85 miliar. Dalam gugatan itu, Dwi diminta untuk memberikan ganti rugi sebesar kerugian yang diderita BPF.  (big/mar)