Nasabah Akhirnya Menggugat

Kelompok Tiga Segera Polisikan BPF
MALANG-  Jengkel tidak ada kejelasan penyelesaian masalah, nasabah PT. Bestprofit Futures (BPF) dalam minggu ini segera menasukkan gugatan perdata untuk melawan perusahaan perdagangan berjangka komoditi di Jalan Letjen S Parman Malang tersebut. Gugatan yang akan dimasukkan ke dalam pengadilan itu, terkait pelanggaran yang dilakukan wakil pialang dalam melakukan transaksi. ”Mereka melanggar Pasal 52 ayat (1) Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Amandemen UU No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi berbunyi pialang berjangka dilarang melakukan transaksi kontrak berjangka, kontrak derivatif syariah, dan/atau kontrak derivatif lainnya untuk rekening nasabah kecuali telah menerima perintah untuk setiap kali transaksi dari nasabah atau kuasanya yang ditunjuk secara tertulis untuk mewakili kepentingan nasabah yang bersangkutan,” tutur kuasa hukum para nasabah, Gunadi Handoko SH, MM, M.Hum, kemarin.
Salah satu nasabah wanita berinisial M menerangkan, dasar gugatan perdata ini juga pengalaman pribadinya dan beberapa nasabah lain yang tidak pernah mendapat password dan username secara rahasia. ”Kami hanya diberi password dan username lewat SMS, bukan lewat surat. Anehnya lagi, saat kami coba gunakan untuk melihat transaksi, password dan usernamenya sudah diganti oleh wakil pialangnya,” terangnya. Mau komplain pun, menurutnya, sangat susah. Hal ini juga dibenarkan B, nasabah yang merugi Rp 125 juta. ”Saya malah ketemu dengan marketingnya dan dia mengakui mengganti password dan username lalu menggunakannya untuk bertransaksi atas perintah wakil pialang. Saya lalu minta dia untuk membuat surat pernyataan yang bakal dijadikan bukti nanti,” ujar pria ini. Dalam waktu bersamaan gugatan perdata ini dimasukkan ke pengadilan, nasabah lain yang baru bergabung ke Aliansi Korban BPF ikut melapor ke polisi tentang penipuan yang dilakukan BPF.
”Yang pasti, minggu depan ada beberapa nasabah lagi yang masuk kelompok tiga, menyerahkan kasus penipuan ini ke Polres Malang Kota. Sekarang saja, sudah ada total 35 nasabah yang bergabung di Aliansi Korban BPF dengan nilai kerugian mencapai Rp 15,5 miliar,” tambah Gunadi. Bahkan, beberapa nasabah yang mnjadi korban di kota-kota lain seperti Pontianak, diakuinya sudah menyatakan bergabung untuk menuntut BPF dan ikut berunjuk rasa di Jakarta dalam bulan ini. Menurutnya, nasabah makin marah dengan klarifikasi yang diberikan Andri Pung, Pimpinan Cabang BPF Malang yang menyatakan bahwa bisnis BPF bukanlah bisnis investasi emas, melainkan transaksi emas.
”Kalau dia mengatakan di televisi nasional bahwa masalah ini hanyalah kesalahpahaman dengan dua nasabah, keliru besar namanya. Itu 1.000 persen bohong,” tegas Gunadi. Senada dengannya, Tjoe Kang Long juga menunjukkan penawaran terbaru dari BPF lewat marketingnya. Di dalam penawaran itu, ada perbandingan pendapatan untung antara investasi deposito dengan Gold Loco London yang digunakan BPF untuk memainkan dana nasabah.  ”Di dalam penawaran itu, misalkan asumsi dana kita Rp 500 juta. Kalau ikut investasi deposito, total bunga yang didapat dalam satu tahun bisa mencapai Rp 30.838.905,93. Kalau ikut Gold Loco London dengan asumsi dana yang sama, keuntungan perbulan dapat Rp 35,6 juta dan setahun keuntungan mencapai Rp 427,2 juta. Siapa yang nggak keblinger,” ujar Long, sapaannya. Dia dan perwakilan nasabah yang berkumpul kemarin menuding, Andri sama sekali tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan masalah tersebut. ”Dia dan dua pengacaranya sama-sama pembohong. Setelah demo hari Selasa (5/3) lalu, kita coba cek ke rumahnya Andri. Menurut orang di dalam rumah itu, pagi itu Andri sudah diantarkan sopirnya ke kantornya. Banyak saksi yang tahu dia ada di lantai dua kantor BPF Malang, tapi dikatakan dia pergi ke Jakarta,” katanya mengakhiri. (mar)