Uang Tanah Dihabiskan BPF

LAPOR : Tiga nasabah BPF memasukkan pengaduan ke bagian umum Polres Malang Kota.

MALANG- Sedikit demi sedikit, nasabah PT. Bestprofit Futures (BPF) kembali melapor ke polisi. Kemarin, tiga nasabah yang masuk dalam kelompok tiga, mengajukan pengaduannya lewat bagian umum Polres Malang Kota, didampingi kuasa hukumnya, Muhammad Nadzib Asrori SH, dari kantor Law Firm Gunadi Handoko & Partners. Ketiga orang yang masuk dalam Aliansi Korban BPF ini, yaitu Irma dan Prima, keduanya warga Tunggulwulung dan Siti, warga Jalan LA Sucipto Malang. Irma yang diwakili suaminya, mengatakan mengalami kerugian Rp 110 juta saat mulai ikut bulan Maret 2011 lalu, sedangkan Prima mengaku masih sempat menyelamatkan uang Rp 40 juta dari dana Rp 100 juta yang disetorkan bulan April 2011.  
Sedangkan yang paling tragis, dialami Siti. Wanita ini, mengatakan uang Rp 200 juta ludes tak berbekas hanya dalam waktu dua bulan setelah mengikuti penawaran investasi emas BPF, tahun lalu. ”Padahal uang itu hasil jual tanah di Desa Ampeldento, Pakis. Setelah dibayar oleh pembelinya lewat bank, saya lalu ditawari untuk ikut investasi emas BPF. Saya setuju lalu uang itu saya transfer ke rekening BPF. Hanya dua bulan langsung ludes,” terangnya. Ibu rumah tangga ini juga mengaku kesulitan menarik dananya saat diberitahu oleh wakil pialang bila dana yang dimilikinya sudah menyusut mencapai Rp 110 juta. ”Saya tarik tidak bisa. Katanya dana saya akan kembali normal. Saya percaya saja. Ternyata malah habis sama sekali,” ujar dia.
Ditambahkan Nadzib, panggilan pengacara muda ini, kemarin sebenarnya ada lima nasabah yang hendak melapor. ”Namun karena dua korban ini sibuk, hanya tiga yang melapor,” ujarnya. Masih menurut dia, para korban ini terbujuk rayu untuk menanamkan uangnya dalam investasi emas oleh para tetangganya yang bekerja sebagai marketing BPF. ”Bu Irma dan Pak Prima ini, ditawari oleh tetangganya bernama Agus Prasetyo sedangkan Bu Siti ditawari oleh tetangganya bernama Sukardi,” terang Nadzib. Dalam proses korban meminta pertanggungjawaban para marketingnya, mereka malah ditantang untuk melapor ke polisi. Sementara itu, juru bicara Aliansi Korban BPF, Dwi Rubingi dan Tjoe Kang Long yang turut hadir mengantarkan para korban mengatakan akan mengawal kasus korban kelompok tiga ini termasuk ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Malang.
”Kami akan bantu mereka untuk juga melapor ke BPSK, sama dengan kelompok korban sebelumnya,” kata Dwi. Hingga kemarin, beberapa korban lain di luar kota, mengaku segera merapatkan barisan ke Aliansi Korban BPF di Malang. Rata-rata, permasalahan yang dihadapi setiap korban sama. Mulai dari password dan username yang diganti oleh marketing atas perintah wakil pialang dan wakil pialang melakukan transaksi tanpa memberitahukan kepada pemilik dananya sendiri. ”Yang pasti, kita konsen dan kompak untuk memperjuangkan dana kita yang sudah dirampok BPF kembali lagi,” pungkasnya. (mar)