Siswi SMP Diperas Polisi Gadungan

DIAMANKAN: Ahmad Junaedi, saat diamankan di Mapolsekta Kedungkandang.

MALANG–Ahmad Junaedi, kemarin diamankan petugas Polsekta Kedungkandang. Pemuda asal Jalan Muharto V, RT 09 RW 06 Kedungkandang ini, ditangkap karena mengaku seorang polisi untuk melakukan pemerasan. Korbannya siswi kelas IX SMP Negeri 7 Malang, yakni Shintiya Agnes Suwandi, 15 tahun, warga Jalan Ki Ageng Gribig, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang.
Pria 32 tahun tersebut, dibekuk petugas di jalan raya dekat Polsekta Kedungkandang. Penangkapan itu tak lama setelah petugas mendapat laporan dari korban. Sebagai barang buktinya, petugas mengamankan HP Sony Ericson milik korban yang sempat disita tersangka untuk jaminan.
“Ngakunya kepada korban memang anggota Intel Polsekta Kedungkandang. Tetapi tersangka masih belum mengakuinya. Saat ini tersangka masih kami periksa, apakah ada korban pemerasan lainnya,” ungkap Kapolsekta Kedungkandang, Kompol Sutiono.
Shintiya sendiri mengatakan, pemerasan yang dilakukan Ahmad Junaedi ini, terjadi Selasa (12/3) lalu sekitar pukul 17.30. Ceritanya, petang itu bersama temannya Anggie Maulidya, korban datang ke warnet Noah Net di Jalan Danau Raya Kerinci, Sawojajar.
Begitu di warnet, keduanya langsung main internet. Korban Shintiya bermain internet di lantai II sedangkan temannya di lantai I. Tak lama ketika sedang asyik ngenet ini, tiba-tiba korban didatangi oleh tersangka Ahmad Junaedi, yang kemudian langsung mengambil HP Sony Ericson milik korban yang ada di atas meja.
Tersangka yang mengaku anggota Intel Polsekta Kedungkandang ini, menuduh korban telah berbuat seks di dalam warnet dan terekam oleh CCTV. Kontan gertakan itu, langsung membuat korban ketakutan dan meminta maaf.
Supaya korban tidak dibawa ke kantor polisi, tersangka meminta uang sebesar Rp 200 ribu. Tetapi karena tidak punya uang, korban hanya memberi Rp 50.000. Namun tersangka tetap ngotot dan minta tambahan Rp 100 ribu. Akhirnya oleh korban dipinjam ke temannya dan diberikan kepada tersangka.
“Saya sama sekali tidak ngapa-ngapain di warnet itu, selain hanya bermain game saja. Dan saat dimintai uang itu, saya pasrah saja karena takut dan mengira polisi beneran,” ujar Shintiya.
Setelah mendapat Rp 150 ribu, tersangka masih kurang dan meminta tambahan Rp 50.000. Karena sudah tidak ada uang lagi, tersangka lalu meminta HP korban sebagai jaminannya. Tersangka minta supaya kekurangannya diberikan Rabu siang kemarin.
Tertangkapnya tersangka ini sendiri, bermula saat korban mencoba mau mengambil HP-nya. Namun saat dihubungi, justru meminta uang lagi sebesar Rp 200 ribu. Karena merasa diperas, akhirnya Shintiya melapor ke petugas Polsekta Kedungkandang. Atas laporan itulah, petugas lalu mencari Ahmad Junaedi yang kemudian menangkapnya.
“Saya tidak mengatakan kalau saya ini polisi. Tetapi saya mengatakan kalau dia akan saya bawa ke kantor polisi. Itu karena memang dia (korban, red) sedang melakukan seks di dalam warnet. Dan uang yang saya minta itu, masih utuh dan ada kok,” tutur Ahmad Junaedi. (agp/jon)