Hilang Rp 14,6 M, Dikorupsi Hanya Rp 35 Juta

MALANG POST – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi di FMIPA Universitas Malang (UM), Kamis hari ini, dipastikan bakal seru. Tim penasehat hukum dua dosen UM, M Fuad dan Suhartoyo, akan mengejar posisi raibnya uang Rp 14,6 miliar. Sementara tuduhan korupsi yang dialamatkan ke kliennya, hanya Rp 35 juta.
‘’Karena itu, kami minta rektor UM, Direktur PT Alfindo, Clara dan Nasaruddin dihadirkan. Kami melihat kasus ini penuh dengan rekayasa,’’ tandas Sudiman Sidabuke, Kuasa Hukum dua dosen UM kepada Malang Post di kantornya, kemarin siang.
Dikatakan dia, permintaan saksi-saksi kunci itu, sudah dilayangkan resmi ke majelis hakim, agar bisa dihadirkan di Pengadilan Tipikor Surabaya, Kamis hari ini.
Jika mereka tidak mau hadir di persidangan, secara hukum majelis hakim bisa mendatangkannya secara paksa. Kecuali Nasaruddin yang kini posisinya masih bermasalah di Jakarta.
‘’Kalau mereka tidak datang, terutama Rektor UM, kasus ini tidak akan pernah selesai. Karena itu, jika persoalan UM ingin segera selesai, tentunya saksi-saksi yang kami minta bisa dihadirkan,’’ ungkapnya.
Soal dugaan rekayasa, Sidabuke menyebutkan, dari anggaran lelang alat-alat laboratorium senilai Rp 46 miliar lebih, ada selisih angka sekitar Rp 14,6 miliar. Selisih anggaran ini, diarahkan kepada tiga kliennya, sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Anehnya, lanjut Sidabuke, dari anggaran yang hilang sekitar Rp 14,6 miliar ini, dua kliennya M Fuad dan Suhartoyo, hanya didakwa melakukan korupsi Rp 35 juta saja. Sedang salah satu dosen lainnya, tidak termasuk kliennya, dituduh menilep uang lelang sebesar Rp 50 juta.
‘’Lho kok aneh. Dari angka Rp 14,6 miliar yang diduga raib dari kegiatan lelang pengadaan alat laboratorium, hanya sekitar Rp 35 juta saja yang didakwakan ke klien saya. Seolah-olah kasus ini akan diselesaikan asal sudah ada korbannya,’’ ungkapnya bernada tanya.
Diasumsikan Sidabuke, hadirnya Rosalina Mido Manulang dengan diantarkan Subur Triono, anggota DPRD Kota Malang, ke ruang kerja Rektor UM, tentu memiliki arti sangat penting.
Kenapa? Karena sebagai KPA, tentunya Rektor UM banyak mengetahui kemana saja larinya anggaran pengadaan alat FMIPA sebesar Rp 46 miliar tadi.
‘’Ibaratnya kita punya rumah, tidak mungkin kita tidak tahu tamu dan keperluan tamu di rumah kita. Begitu juga kedatangan Rosalina di ruang Rektor UM, tentu memiliki tujuan penting. Apalagi datangnya harus diantar anggota dewan,’’ katanya.
Ditambahkan dia, seharusnya tiga kliennya secara hukum tidak terbukti melakukan dugaan korupsi, seperti yang dimaksudkan. Tetapi, karena Sidabuke ingin mengungkap kasus dugaan korupsi di rumah pendidikan di Malang ini, maka pihaknya akan terus menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. (has)