Rektor PTN Malang Disiapkan Rp 400-500 Juta

Sidang Tipikor Alat FMIPA UM
SURABAYA - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi Universitas Negeri Malang (UM), banyak terungkap hal baru. Ini setelah saksi kunci, Clara Maureen, berhasil dihadirkan dipersidangan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya, Kamis siang.
Di persidangan, yang berjalan sejak 13.10 WIB hingga 20.30 WIB semalam, terungkap beberapa aliran dana dari PT Alfindo ke pihak-pihak yang diduga ikut menikmati 40 persen nilai keuntungan PT Anugerah Nusantara, sebagai pemenang lelang di FMIPA. Nilai lelangnya Rp 46,6 miliar.
Dari kesaksian Clara pula, terungkap jelas kalau dirinya, secara langsung atau tidak, ikut menikmati hasil keuntungan PT Anugerah Nusantara. Ini setelah majelis hakim yang dipimpin Antonius Simbolon SH MH, mencecar sekitar 35 pertanyaan kepada Clara.
Diantara aliran dana itu, Clara menyebut nama Subur Triyono, anggota DPRD Kota Malang. Subur, sesuai keterangan Clara, pernah menerima uang Rp 50 juta, yang diterima Subur di kantor PT Anugerah Nusantara di kawasan Tebet, Jakarta.
‘’’Waktu itu, Pak Subur datang ke kantor Jakarta dan meminta uang Rp 50 juta. Penyerahan uang waktu itu atas sepengetahuan ibu Rosalina Mindo Manulang,’’ kata Clara, yang ketika hadir di PN Tipikor Surabaya dikawal empat orang anggota LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) dari Jakarta.
Selain Subur, Clara, perempuan bertubuh subur ini, juga mengungkapkan pemberian uang untuk Abdullah Fuad, Sutoyo dan Suhandoyo. Abdullah Fuad dan Sutoyo, disebutkan telah menerima uang Rp 25 juta yang diserahkan di Jakarta untuk klarifikasi barang-barang yang ditenderkan.
Bahkan, nama Purek II Prof Dr Rofiuddin dan Rektor UM pun, disebutnya juga menerima uang dari PT Anugerah Nusantara. Menurut kesaksian Clara, Purek II UM ini telah menerima Rp 10 juta dan Rp 2,5 juta, yang diterimakan juga di Jakarta.
Berapa yang diterima Rektor UM? ‘’Sesuai perintah Bu Rosa, untuk rektor-rektor perguruan tinggi di Malang, dialokasikan Rp 400 juta sampai Rp 500 juta,’’ kata Clara.
Clara, yang mengaku lulusan Sarjana Kimia ini, tidak menyebut secara implisit nama Suparno, yang posisinya sebagai Rektor UM. Karena, alokasi dana Rp 400 juta dari PT Anugerah Nusantara, rencananya akan diberikan untuk Rektor UM dan Rektor Universitas Brawijaya (UB). ‘’Apakah sudah dicairkan,’’ tanya Sudiman Sidabuke, pengacara dua dosen UM. ‘’Saya tidak tahu. Tetapi, untuk rektor PTN di Malang disediakan antara Rp 400 juta sampai Rp 500 juta,’’ jawab Clara ragu-ragu.
Selain aliran dana di atas, Clara juga membeberkan kalau dari 10 perusahaan yang ikut lelang di FMIPA UM, delapan diantaranya adalah milik M Nazaruddin, mantan bendahara Umum Partai Demokrat. Sehingga, kemungkinan PT di luar Nazaruddin untuk menang sangat tipis. ‘’Biasanya kalau ada lelang, kita selalu menyiapkan 8 sampai 10 PT,’’ tutur Clara.
Karena pemenangnya adalah perusahaan sendiri, tidak sulit bagi M Nazaruddin untuk menentukan besarnya keuntungan. Karena vendor-vendor yang bertugas menyediakan alat-alat yang dipesan FMIPA, semuanya juga sudah dikuasai PT Anugerah Nusantara sebagai lokomotif lelang di FMIPA UM.
‘’Dari anggaran lelang Rp 46,5 miliar itu, berapa nilai keuntungan yang didapat perusahaan PT Anugerah Nusantara,’’ tanya Sidabuke. ‘’Sesuai ketentuan di perusahaan, minimal harus untung 40 persen,’’ kata Clara.
Sebetulnya masih banyak aliran dana yang keluar dari PT Anugerah Nusantara, untuk pihak-pihak di FMIPA UM. Ini terlihat dari bukti yang dipegang majelis hakim, yang jumlahnya berkisar Rp 70 juta. Uang itu dikeluarkan dalam tiga tahap. Yaitu Rp 30 juta, Rp 20 juta dan Rp 20 juta.
Sayangnya, aliran dana itu tidak semuanya terungkap secara gamblang. Karena ada beberapa uang yang ternyata dikembalikan dan tidak dilaporkan secara jelas oleh Clara.
‘’Tadi Anda bilang, mereka tidak mau menerima uangnya. Lantas, kemana uangnya?’’ tanya Antonius. ‘’Otomatis uangnya kembali ke perusahaan. Tapi, waktu mengembalikan, saya tidak menerima bukti hitam di atas putih,’’ jawab Clara kebingungan.
Sementara itu mendengar namanya disebut Clara telah menerima uang Rp 25 juta, Abdullah Fuad dan Sutoyo melalui Sidabuke menyebutkan, kalau keduanya tidak merasa menerima uang itu.
Kedatangannya ke Jakarta, saat proses lelang tengah berjalan, justru keduanya sedang mendatangi perusahaan lain untuk mencari perbandingan barang yang ditawarkan Clara. ‘’Saya juga datang ke perusahaan asuransi. Jadi tidak mereka menerima uang itu,’’ tutur Abdullah Fuad.

Hakim Berang
Keterangan Clara sendiri, sempat membuat ketua majelis hakim Antonius Simbolon, sedikit berang. Puncaknya terjadi ketika Antonius menanyakan aliran keluar masuknya uang, yang dipesan Clara ke bagian keuangan PT Anugerah Nusantara, yang kemudian tidak bisa dipertanggung jawabkan secara detail oleh Clara.
‘’Ingat, akibat tindakan saudara ini, mereka (Fuad Abdullah, Sutoyo, Suhandoyo) duduk di kursi terdakwa. Jangan sampai, mereka tidak berbuat salah sampai dihukum. Atau sebaliknya, jangan sampai mereka bersalah malah bebas,’’ ujar Antonius bernada tinggi.
Selam persidangan berlangsung, sebenarnya cara Antonius memberikan pertanyaan sangat santai dan gampang dimengerti. Tetapi, karena jawaban yang diberikan Clara dianggapnya berbelit-belit dan cenderung hendak menyembunyikan sesuatu kebenaran, membuat Antonius ‘naik darah’.
‘’Anda bicara di sini (di persidangan) di bawah sumpah. Tidak bisa Anda memberi jawaban selalu kayaknya-kayaknya. Tolong diingat dengan benar. Ini peristiwa hukum yang tidak bisa dijawab kayaknya-kayaknya,’’ tandas Antonius.
Melihat kondisi seperti itu, Sudiman Sidabuke, kuasa hukum Abdullah Fuad dan Sutoyo menilai, bisa jadi uang yang keluar dari PT Anugerah Nusantara tidak semuanya diperuntukkan bagi pihak-pihak di UM. Sebaliknya, patut diduga uang itu juga dipergunakan untuk pribadi Clara sendiri.
‘’Lho, dari pertanyaan hakim tadi kan sudah jelas. Uang yang sudah dipesan ke bagian keuangan, tidak semuanya diterima oleh calon penerima. Melainkan dikembalikan ke perusahaan. Tetapi, aneh kalau saat mengembalikan Clara tidak menerima bukti pengembalian dari bagian keuangan,’’ ucapnya kepada Malang Post saat masa rehat 10 menit. (has)