Sidang Parkir WOW Dijaga Ketat

SAKSI : Kedua saksi korban ketika dimintai keterangan di PN Malang.

MALANG– Masih ingat dengan kasus rebutan lahan parkir di ruko WOW Sawojajar pertengahan Agustus 2012 lalu? Sekarang kasus tersebut sudah mulai masuk dalam meja persidangan Pengadilan Negeri (PN) Malang. Kemarin adalah sidang kedua dengan agenda mendengarkan keterangan dua saksi korban, setelah sidang pertama pembacaan dakwaan.
Dua saksi korban yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Kuswandi, yaitu Dwi Santoso, 33 tahun dan Hanafi, 38 tahun, warga Jalan Jodipan Malang. Sedangkan kedua terdakwa sendiri yakni Suliyanto alias Yanto alias Yanto Arak, 43 tahun, warga Jalan Sawojajar Gg IX Malang, dan Sulaksono alias Bogel, 39 tahun, warga Jalan Sawojajar Malang.
Sulaksono ini adalah Ketua Karang Taruna Sawojajar, sedangkan Suliyanto anggotanya. Keduanya ini didakwa dengan pasal 170 KUHP, pasal 351 KUHP sub pasal 358 KUHP tentang pengeroyokan.
Pada sidang yang diketuai Majelis hakim Eko Wiyono, SH ini kemarin mendapat pengamanan ketat puluhan personil Polres Malang Kota. Itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gesekan atau bentrok antara kedua kubu. Pasalnya, pendukung dari kedua kubu sama-sama datang untuk melihat jalannya persidangan. Sementara itu, dalam sidang kemarin sempat memanas. Antara saksi dengan terdakwa terlibat saling bantah. Saksi mengatakan sesuai apa yang ada, sedangkan kedua terdakwa membantah pernyataan saksi yang dianggap sangat menyudutkan. Namun meski sempat saling bantah, tetapi sidang berjalan lancar dan aman.
Usai sidang kedua saksi dan kubunya pulang dengan tertib. Begitu juga dengan kedua terdakwa yang tidak dilakukan penahanan ini, pulang dengan tertib tanpa ada gesekan.
Ismail Modal, SH, salah satu kuasa hukum dari dua terdakwa ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa pernyataan kedua saksi korban banyak yang tidak relevan atau tidak sama dengan kondisi yang ada. Dia menganggap pernyataannya sangat menyudutkan. “Salah satu contohnya pernyataan saksi Dwi Santoso, dia mengatakan kalau sebelum terjadi perselisihan, sempat bertemu dengan kedua terdakwa sebanyak lima kali. Logikanya kalau sebelumnya tidak ada kontak hubungan tidak mungkin bertemu. Dan kenapa ke Sawojajar bilangnya hanya sekedar main. Namun ketika kami tanya kenapa parkir di Sawojajar, alasannya karena setiap warga Negara Indonesia punya hak untuk parkir. Padahal dalam aturan hukum untuk wilayah parkir itu dikelolah oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), yang kemudian diserahkan kepada siapa,” terang Ismail. Begitu juga dengan keterangan Hanafi, juga diakui sama sekali sinkron. “Dia bilang kalau datang langsung dipukul dan mengatakan kalau kedua klien saya (terdakwa) adalah provokator. Tetapi ketika saya tanya apa melihat sendiri kedua klien saya yang memukul, mengaku tidak tahu,” ujarnya. (agp/mar)