Janda Polisi Tewas Dikubur

KEPANJEN- Hanya dalam waktu empat hari, Satreskrim Polres Malang berhasil mengungkap kasus wanita misterius atau Mrs X yang ditemukan tewas terkubur di Pemakaman Umum Dusun Bantur Timur, Desa/Kecamatan Bantur, Minggu (10/3) lalu. Korban diketahui bernama Nuryanti, 42 tahun, warga Jalan KH Hasim As’yari RT01 RW02, Desa Penarukan, Kepanjen. Ibu dua anak ini dilaporkan hilang sejak Kamis (7/3) lalu. “Yang saya tahu, keluarga korban tidak melaporkan hilangnya Nuryanti ke polisi. Alasannya masih berusaha mencari,” tutur Ketua RT01 Desa Penarukan, Kepanjen, Randi Efendi ditemui di rumah duka kemarin. Diakui dia, saat berita penemuan mayat tanpa kain kafan merebak di sejumlah media cetak, keluarga korban mulai resah.
Curiga kalau kakaknya memiliki masalah, Ali Mubarok, 38 tahun, adik korban pun melaporkan hilangnya Nuryanti ke Mapolres Malang, Selasa (13/3) sore. Menurut Efendi, keluarga korban diantar ke kamar jenazah RSSA Malang untuk mengecek jenazah wanita tak dikenal tersebut. Begitu tiba, keluarga ini memastikan bahwa Mrs X tersebut adalah Nuryanti yang sudah menghilang empat hari. Informasi yang didapat Malang Post, tubuh janda pensiunan anggota Polres Malang tersebut diketahui dari sidik jari dan beberapa ciri lain. ”Wajahnya sudah rusak, sehingga proses identifikasinya dilihat dari sidik jari dan data-data seperti foto yang dibawa keluarganya ke kami,” ujar salah satu anggota Satreskrim Polres Malang yang enggan disebutkan namanya itu.
Seperti diketahui, Tambeng, 71 tahun, warga Dusun Bantur Timur, Desa/Kecamatan Bantur yang berniat mencari rumput di pemakaman tersebut, mencurigai gundukan tanah yang tak lazim di salah satu makam. Dirasa ada yang janggal, dia melaporkan penemuan itu kepada perangkat desa setempat, yang diteruskan ke Polsek Bantur. Petugas dan perangkat desa setempat, akhirnya makam itu dibongkar. Setelah makam itu dibongkar, kecurigaan Tambeng benar. Gundukan makam itu berisi mayat berjenis kelamin wanita tanpa dibalut kain kafan. Saat itu juga, tim Identifikasi Satreskrim Polres Malang pun diterjunkan.  Setelah polisi melakukan Olah TKP, jenazah dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. “Pengungkapan identitas mayat Mrs X ini, berkat kerjasama dan usaha keras penyidik Polsek Bantur dengan penyidik Polres Malang. Yang pasti, korban juga tewas karena dibunuh,“ ungkap Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Sholeh Mas’udi kemarin. (big/mar)

Bermotif Dendam Atau Asmara

POLISI bergerak cepat untuk memburu pelaku pembunuhan Nuryanti. Dini hari kemarin, tim Buru Sergap (Buser) Satreskrim Polres Malang berhasil mengamankan Hari Bandi, warga  Dusun Bantur Timur, Desa/Kecamatan Bantur di rumahnya. Menurut sumber Malang Post, pria yang bekerja sebagai Kepala Seksi Pengawasan Kebangsaan dan HAM di Kesbangpol Pemkab Malang dicurigai terlibat dalam pembunuhan itu. ”Dia mengakui ada hubungan dengan korban. Sekaligus, ada saksi yang mengetahui jika dia keluar bersama korban," ungkap sumber ini.
Ada dua motif yang diduga melatarbelakangi dilakukan pembunuhan itu. Yakni dendam dan asmara, lantaran saat jenazah ditemukan, perhiasannya masih lengkap melekat di tubuh Nuryanti. Seperti cincin emas dan perak dan kalung perak.
Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Sholeh Mas’udi mengatakan penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti keterlibatan Hari. ”Status HB masih kita tetapkan sebagai saksi untuk menjalani pemeriksaan intensif,” terangnya. Sementara itu, suasana haru menyelimuti rumah Nuryanti. Saat peti mati tiba di rumahnya, Tita, 18 tahun, putri semata wayangnya langsung pingsan. Beberapa menit kemudian Tita siuman. Tangisan dan rona kesedihan pun membuat puluhan pentakziah dan kerabatnya turut larut dalam kesedihan. Berkali-kali Tita menangis histeris. Remaja putri yang masih duduk dibangku sekolah SMA kelas satu itu terus menerus memanggil nama ibunya. "Mama jangan tinggalkan Tita, Mama," teriaknya.
Mendengar ratapan Tita, sejumlah kerabat ibu kandungnya berusaha menenangkan. Saat Tita meminta didekatkan pada peti mati ibunya, tangis Tita kembali pecah. Sambil merangkul peti mati, Tita beberapa kali menangis seraya ingin memeluk jasad ibu kandungnya untuk terakhir kali. "Mama. Tita ingin peluk mama," tuturnya dengan linangan air mata. ”Kami berharap pelakunya segera ditangkap dan diganjar hukuman setimpal," ungkap Ali Mubarok, adik korban.
Kata dia, korban memang janda dua anak. Tita adalah anak kandungnya. Sedang satu anak lagi bernama Nanang, 17 tahun, adalah anak angkatnya. (big/mar)