Bunuh Diri Keempat Baru Berhasil

MALANG – Kasus bunuh diri dengan minum racun, yang dilakukan Bowo Hadi Purnomo, 40 tahun dengan mengajak anak angkatnya Sofi Salsabila, 5 tahun, masih meninggalkan banyak cerita. Pria yang bekerja sebagai sopir angkot Karangploso – Arjosari (KA) ini, ternyata tidak hanya sekali itu melakukan usaha bunuh diri. Sudah empat kali, dia melakukan hal yang sama. Tapi baru berhasil Jumat (15/3) sore kemarin.
Itu terungkap dari pengakuan Fitri Susilowati, mantan istrinya sekaligus ibu angkat Salsa, panggilan akrab Sofi Salsabila. Kepada Malang Post, wanita 35 tahun yang kemarin ditemui di rumahnya di Jalan Teluk Cenderawasih Malang ini mengatakan, mantan suaminya itu sudah sering mencoba bunuh diri.
‘’Seingat saya sudah empat kali ini, dia (Bowo Hadi Purnomo, Red.) berusaha bunuh diri. Tiga kali sebelumnya, tidak pernah mengajak Salsa. Baru kemarin itu, kok sampai mengajak anaknya dan berhasil,’’ tutur Susi, sapaan Fitri Susilowati.
Tiga kali usaha percobaan bunuh diri yang dikenang Susi, pertama dilakukan saat Susi dan Bowo baru dua tahun menikah, pada 2002 lalu. Saat itu, karena cekcok mulut, Bowo mencoba makan obat nyamuk bakar. Usahanya saat itu gagal. Obat itu tidak terlalu bereaksi.
Kedua, saat proses cerai 2009 lalu. Bowo yang tidak mau dicerai, mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi tangannya. ‘’Tetapi saat itu bukan urat nadinya yang teriris, melainkan kulit dan daging tangannya,’’ kata Susi.
Kemudian ketiga kalinya juga pada 2009 lalu, di belakang warung tempat Susi bekerja di Terminal Arjosari. Saat itu malam hari, sekitar pukul 22.00, Bowo mencoba bunuh diri dengan menenggak cairan obat nyamuk. Meski sempat sekarat, saat itu nyawanya sempat tertolong karena cepat diketahui warga yang kemudian dibawa Puskesmas.
‘’Dan keempatnya baru berhasil kemarin itu. Dia melakukan itu karena mau minta rujuk sama saya mas,’’ ujarnya.
‘’Saya sendiri juga tidak mengira kalau dia bunuh diri dengan mengajak Salsa. Biasanya Salsa memang sering diajak main oleh ayahnya. Kalau tidak ke rumahnya di Dampit atau tempat kontrakannya, kadang juga diajak narik angkot,’’ sebut Susi.
Jumat kemarin, tambahanya, dia mengira Salsa diajak narik angkot. Karena setelah minta rujuk ditolak, Bowo mengatakan kalau tidak mau rujuk, dia akan ‘budal’ bersama Salsa.
‘’Anggapan saya budal itu pergi ke Dampit. Tidak tahunya malah bunuh diri,’’ jelas Susi dengan mata berkaca-kaca.
Disinggung tentang alasan tidak mau rujuk sendiri, Susi mengaku kalau dirinya trauma dengan kejadian sebelumnya. Menurutnya dia bercerai dengan Bowo pada 2009 lalu itu, alasannya karena selain masalah ekonomi juga karena Bowo saat itu ketahuan selingkuh dengan wanita lain.
‘’Alasan lain karena saya juga sering dipukul pada saat proses cerai itu. Bahkan saya sempat melaporkannya ke Polres Malang Kota, tetapi saat itu Bowo hanya dikenakan wajib lapor,’’ paparnya.
Sembari meratapi foto Salsa dalam ponselnya, Susi mengatakan kalau dirinya juga kerap diancam akan dibunuh oleh Bowo, karena dia diajak rujuk tidak mau. Akibat ancaman itu, Susi mengaku sempat was-was dan tidak tenang ketika berangkat kerja.
Dengan kematian Salsa sendiri, tidak hanya Susi yang kehilangan tetapi keluarga besarnya juga mengaku sangat kehilangannya. ‘’Dulu saat diangkat anak, Salsa ini kondisinya sakit karena kurang gizi. Namun sekarang sudah sehat dan lucu, malah pergi selama-lamanya. Kami merasa sangat kehilangan dia. Sebetulnya kami juga ingin Salsa dimakamkan di daerah sini. Tapi kami tak kuasa,’’ ungkap salah satu kerabat Susi.
Sementara itu, polisi sendiri masih belum bisa menyimpulkan apa jenis racun yang diminum oleh kedua korban. Dari hasil otopsi sementara, berdasarkan keterangan petugas forensik, secara kasat mata dimungkinkan racun itu adalah potas.
‘’Dugaan potas itu karena dari baunya. Namun untuk memastikan jenis racunnya apa, masih harus menunggul tes dari labfor,’’ tutur Kanitreskrim Polsekta Blimbing, AKP Nanang Widodo.
Mantan Kanitreskrim Polsekta Klojen ini menambahkan, kedua jenazah korban usai diotopsi kemarin langsung dibawa pulang ke rumah orangtua Bowo di Dusun Sekarbanyu, Desa Sumbersuruh, Sumbermanjing Wetan untuk dimakamkan. Itu sesuai atas permintaan korban di surat wasiatnya.
‘’Proses otopsinya sendiri kemarin sempat berjalan alot. Beberapa keluarga korban sempat menolak. Sedangkan kami sendiri, untuk memastikan penyebab kematiannya, harus dilakukan otopsi. Setelah saya beri penjelasan, akhirnya baru mau dilakukan otopsi,’’ jelasnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Bowo Hadi Purnomo dan anak angkatnya, Sofi Salsabila, ditemukan tergeletak tak bernyawa di salah satu tanah kosong Jalan Raden Intan, Jumat sore. Mereka diduga bunuh diri dengan minum sebotol minuman merek Fruitea bercampur potas. Barang bukti itu ditemukan petugas Polsekta Blimbing dan Satreskrim Polres Malang Kota yang datang ke lokasi. (agp/avi)