Rektor UM Ngaku Gak Dapat Apa-apa

MALANG POST – Sidang kasus dugaan korupsi alat FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), memasuki babak baru. Setelah beberapa kali gagal dihadirkan, kemarin Rektor UM, Prof Dr Suparno menjadi saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.
Mengenakan baju bergaris-garis hitam, celana hitam dan sepatu hitam, lelaki paruh baya ini, sesekali memegangi dahinya, sebelum menjawab pertanyaan. Baik dari majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum (JPU), kuasa hukum terdakwa atau pun saat hendak menjawab pertanyaan dua terdakwa, Abdullah Fuad dan Sutoyo.
Pertanyaan yang disampaikan ke Suparno, sebagian besar menyangkut posisinya sebagai rektor, saat pengadaan lelang alat-alat Laboratoratorium FMIPA UM, 2010 lalu.
Sesekali muncul pula pertanyaan keterkaitan dirinya dengan Subur Triyono (anggota DPRD Kota Malang) dan direksi CV Alfindo, Rosa Mindo Manulang serta Clara Maureen.
Begitu juga soal kaitan dirinya dengan pembagian uang keuntungan sebesar 40 persen dari tender (lelang), yang diberikan PT Alfindo melalui PT Anugerah Nusantara.
Semuanya dijawab Suparno secara lancar, meski kadang-kadang keluar kata-kata : ‘‘sangat memungkinkan’’.
‘’Pak Rektor jangan menjawab seperti itu (sangat memungkinkan, Red.). Bapak tidak berhak melakukan analisa dalam sidang kali ini. Semua yang ada di ruangan ini, ingin mendapat jawaban pasti,’’ sergah Sudiman Sidabuke, kuasa hukum Fuad dan Sutoyo, yang merasa kurang puas dengan jawaban Suparno.
Sementara itu setelah sekitar 1,5 jam berada di ruangan Tipikor, Suparno menyebutkan kalau dirinya tidak pernah merasa menerima uang Rp 400 juta sampai Rp 500 juta, yang disebutkan Clara dalam sidang sebelumnya.
Keterangan ini, lanjut dia, juga dipaparkannya saat dirinya dua kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ‘’Tadi (kemarin, Red.) sudah saya jawab, tidak ada. Saya tidak pernah menerima apapun dari mereka,’’ tandas Suparno kepada Malang Post sebelum masuk mobil yang hendak membawa dirinya kembali ke Malang, Senin sore.
Berikut kutipan pertanyaan-pertanyaan untuk Suparno secara bergantian dari majelis hakim, JPU, tim penasehat hukum dan dua terdakwa:
Menurut Clara Maureen (saksi PT Anugerah Nusantara) dia bersama Rosalina Mindo Manulang mengaku pernah bertemu bapak dan Rofiuddin (Purek II) di Hotel Cenruty Jakarta. Kalau ada pertemuan bagaimana bentuknya?
Saya tidak ingat. Tapi saya yakin bukan pertemuan. Karena kalau pertemuan, konotasinya sudah direncanakan lebih dulu. Lagi pula Century adalah tempat berkumpulnya rektor-rektor se Indonesia, yang selalu dikoordinir menteri terkait (Mendikbud)