Testimoni di Depan Hakim

MALANG POST  – Kasus hukum yang menimpa tiga dosen Universitas Negeri Malang (UM), ternyata membuat  Suparno, menyesal. Karena itu, secara akademika, dirinya terus mendukung ketiga dosen agar bisa terbebas dari dugaan korupsi pengadaan alat-alat laboratorium FMIPA UM, tahun 2009 lalu.
Hal di atas diungkapkan Prof Dr H Suparno, Rektor UM ketika memberikan testimoni di ruang sidang Pengadilan Tipikor Surabaya, Senin kemarin. ‘’Saya sangat menyesal. Karena citra dunia pendidikan menjadi tercoreng di mata masyarakat,’’ tandasnya terbata-bata.
Sebelumnya, Suparno meminta izin majelis hakim agar diberi kesempatan mengungkapkan perasaannya sebelum meninggalkan ruang Cakra gedung Tipikor. Permintaan itu dilakukan sebagai bentuk rasa keprihatinan dirinya sebagai penanggung jawab UM.
Diakui Suparno, kasus yang menimpa rektor sekaligus anak buahnya itu, tidak diketahui dan disangka-sangka. Sebab, usai pelaksanaan lelang, pihaknya minta lembagai bantuan hukum yang telah dipercaya UM untuk melakukan penyelidikan, apakah ada kasus hukum dalam pelaksanaan lelang pengadaan alat FMIPA.
Tetapi, keterangan dan laporan yang diberikan lembaga bantuan hukum kepada dirinya ternyata salah besar. Sebab, ketika ada pihak lain melakukan investigasi tersendiri, ternyata pelaksanaan lelang FMIPA UM ada masalah. ‘’Laporan lembaga bantuan hukum tidak ada masalah. Tapi ada investigasi pihak lain terbukti ada masalah,’’ ucapnya lirih.
‘’Apa yang bapak alami sekarang sebagai pimpinan?’’ tanya hakim Antonius Situmorang. Menurut Suparno, selaku rektor dirinya sangat prihatin atas kejadian ini.
Karena itu, semua yang menimpa tiga dosennya menjadi tanggung jawab dirinya. Pada dasarnya, dia tidak ada niatan apapun dan pekerjaan itu diharapkan tidak membawa malapetaka dikemudian hari.
‘’Baik bagi UM atau pun pribadi-pribadi didalamnya. Karena itu, proses hukum yang sedang berjalan saat ini kami doakan berjalan lancar dan staf-staf kami berada di pihak yang tidak bersalah,’’ katanya.
Sembari matanya berkaca-kaca, Suparno menegaskan, kalau dirinya sangat merasakan sekali penderitaan yang dialami tiga dosennya sekarang ini. Karena itu, dirinya terus berharap tiga dosennya tidak dihukum karena sebuah kesalahan.
‘’Karena itu saya telah minta pada pihak kejaksaan agar mereka (tiga dosen) tidak ditahan. Soal proses hukumnya, saya memang tidak tahu karena semuanya sedang dalam proses di pengadilan,’’ ucapnya.
Mendengar testimoni tersebut, Antonius pun tergerak untuk segera menghadirkan semua saksi-saksi yang disebut dalam bukti perkara yang dimilikinya. Karena majelis tidak ingin mereka yang sekarang ini duduk sebagai terdakwa menjadi korban permainan orang di luar sana.
‘’Jangan sampai mereka (tiga dosen) ini justru menjadi korban, sedang mereka yang di luar sana yang diduga menikmati permasalahan ini justru bebas dari segala tuntutan. Karena itu, tolong JPU diagendakan semua saksi-saksi hadir minggu depan untuk dikonfrontir,’’ kata Antonius kepada JPU yang kemudian mengetokkan palunya tanda sidang berakhir dan ditunda minggu depan. (has)