Tuntut Pezina Dihukum Setimpal

KEPANJEN- Masih ingat kasus mesum dalam ‘mobil goyang’ di halaman Masjid Darussalam Desa Sukosari, Gondanglegi, Oktober tahun lalu? Kasus yang membuat geger warga sekitar hingga melakukan demo di Polsek Gondanglegi itu, kemarin disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Malang. Sidang kedua tersebut, agendanya adalah pemeriksaan saksi-saksi dari kedua terdakwa, berlangsung tertutup. Hal itu sangat disesalkan oleh puluhan warga Desa Sukosari, Gondanglegi, yang sengaja datang ke PN Kabupaten Malang, untuk melihat sidang itu.
Abu Salam, 47 tahun, salah seorang warga sekitar, menyatakan seharusnya sidang tersebut berlangsung terbuka. “Kami datang ke sini hanya ingin tahu proses persidangannya, itu saja kok. Takutnya nanti proses maupun keputusannya tak sesuai dengan aturan hukum yang telah ditetapkan,” ungkapnya kepada Malang Post. Keinginan Abu Salam beserta warga Desa Sukosari, Gondanglegi untuk melihat proses sidang itu, dilandasi dengan kekhawatiran yang cukup beralasan. Karena salah seorang pelaku mesum wanita yang benama Qoyimah, 40 tahun, justru dikenal sebagai putri salah satu tokoh masyarakat di Gondanglegi.
“Kami tak ingin kasusnya di persidangan ini berhenti begitu saja. Lantaran pelakunya adalah seorang putri dari tokoh ternama,” kata Ketua Koordinator Kebersihan Masjid Darussalam ini. Kedatangan puluhan warga ke PN Kabupaten Malang itu, membuat kepolisian melakukan pengamanan ekstra ketat. Lantaran kedatangan warga itu nantinya menimbulkan gejolak. Hanya saja, kekhawatiran itu tak terbukti. Usai persidangan selesai, kedua pelaku lebih memilih langsung meninggalkan area persidangan. Baik itu Qoyimah maupun Nanang Qosim yang diketahui berprofesi sebagai guru ini, juga enggan berkomentar kepada wartawan. (big/mar)