Sidabukke : Jaksa Tidak Profesional

Sudiman Sidabukke

Sidang dr Hardi
MALANG- Ketidakpuasan melihat kerja perangkat peradilan ditunjukkan Sudiman Sidabukke, SH, kuasa hukum dr Hardi Soetanto.  Usai sidang lanjutan perkara pencurian dan penggelapan 14 sertifikat milik Direktur PT. Hardlent Medika Husada (HMH), FM  Valentina SH, M.Hum mengungkapkan ketidakpuasannya tersebut. Dia mengatakan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak profesional dalam menjalankan tugasnya untuk menghadirkan saksi ahli. ”Jaksa tidak profesional. Padahal, sesuai komitmen sidang sebelumnya, jaksa siap menghadirkan dua saksi ahli. Tapi sekarang hanya satu saksi,” tegasnya. Kemarin, JPU memang menghadirkan satu saksi ahli, yakni Drs. H. Adami Chazawi, SH. Kepada majelis hakim, dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) ini hanya menjelaskan tentang pasal-pasal yang dipolemikkan untuk menjerat mantan suami Valentina tersebut.
”Itu tidak fair karena seharusnya sekarang ini kesempatan kami untuk menunjukkan saksi yang meringankan bagi Hardi, utamanya bagaimana proses jual beli sertifikat-sertifikat tersebut. Kami bisa buktikan bahwa proses jual beli itu sama sekali tidak melibatkan Valentina,” paparnya. Kalau sekarang, menurutnya, JPU akan menghadirkan saksi ahli yakni notaris Eko Handoko, sama juga dianggapnya tidak berhubungan dengan kasus ini. ”Kalau notaris Eko dihadirkan oleh JPU, tidak ada konotasinya sama sekali,” lanjut dia. Sidabukke, panggilannya menduga ada hal yang tidak beres dalam penerapan hukum terhadap Hardi. ”Kasusnya biasa saja, tapi kenapa sampai ruwet seperti ini. JPU terus mengolor-olor waktu. Kalau begini, klien saya yang dirugikan. Majelis hakim harusnya lebih tegas lagi,” terang pengacara kondang itu.
Dia juga merasa heran dengan sikap Valentina yang ngotot untuk memasukkan masalah sertifikat itu ke dalam perkara pidana. Sebab menurutnya, Hardi sudah memiliki itikad baik untuk mengembalikan sertifikat meskipun sudah masuk dalam proses penyelidikan polisi. ”Tapi nyatanya, Valentina tidak mau menerima,” katanya. Disinggung tudingan ini, Valentina melalui kuasa hukumnya, Sutrisno SH mengaku sama sekali tidak pernah menerima pengembalian apapun dari Hardi. ”Valentina tidak pernah ketemu Hardi. Lalu dia mengembalikan sertifikat kepada siapa? Dia kan memberikan ke pembeli. Kalau klien saya menyerahkan sertifikat kepada notaris Eko Handoko itu untuk dipecahkan,” ucap Sutris. Pria ini balik menuding, Hardi sengaja berulah dengan jalan menyandera sertifikatnya untuk melakukan pemerasan. (mar)