Malang Post

Kambing Hitamkan Karyawannya Henni

Share
SINGOSARI- Direksi PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Anugerah Kusuma, membela diri terkait kasus dugaan penggelapan deposito sebesar Rp 717.500.000 milik salah seorang nasabah, Sinto Anggoro. Direksi bank yang terletak di Jalan Raya Singosari Malang itu, membantah telah menggelapkan deposito milik Anggoro.
Seperti disampaikan oleh Iwan Hermawan Ismail, Direktur PT BPR Anugerah Kusuma, bahwa Anggoro sendirilah yang telah mencairkan dana depositnya pada tahun 2010. “Dia (Anggoro) mencairkan dana depositonya lewat karyawan kami, Henni Kusuma Wijayanti,“ ujarnya saat ditemui oleh Malang Post, di kediamannya kemarin.
Dia menjelaskan, sejak awal pembukaan deposito hingga belum mencuatnya kasus ini, Anggoro mempercayakan kepada Henni untuk mengurus segala sesuatunya di BPR Anugerah Kusuma. “Henni itu tetangga Anggoro di Kepanjen. Mungkin karena rumahnya berdekatan, Anggoro mempercayakan pengurusannya kepada Henni,“ katanya.
Lebih lanjut Iwan menceritakan, pada tahun 2010 memang deposito Anggoro telah jatuh tempo. Saat itu, yang menurut sepengetahuannya, Anggoro memang mencairkan seluruh depositonya ejumlah Rp 717.500.00 yang dikumpulkannya sejak tahun 2001 lalu. Itu dibuktikan dengan adanya tanda tangan asli Anggoro di akte pencairan dana deposito.
“Kalau dia tak menerima uang dari Henni, ya harusnya tidak tanda tangan di akte pencairan. Kalau dia melakukan tanda tangan itu, berarti kesalahan terletak kepada Anggoro sendiri, bukan kami sebagai fihak bank,“ tegas Iwan. Kata dia, Anggoro pernah mengakui kepadanya, bahwa tanda tangan di pencairan itu adalah tanda tangannya.
Iwan menegaskan, sesungguhnya pokok permasalahan ini terletak pada Henni yang merupakan kawryawan administrasi banknya. Dia pun tak memungkiri hal itu. Lantaran dia kembali menjelaskan, saat pencairan dana milik Anggoro terjadi, Henni diketahui melakukan pemalsuan tanda tangannya sebagai Direktur PT BPR Anugerah Kusuma
“Setelah dana milik Anggoro cair, Henni langsung memasukan uang itu ke rekeningnya sendiri. Kemudian, Anggoro dibuatkan oleh Henni, akte deposit yang baru tapi bukan berasal dari bank kami alias palsu. Itulah modus yang digunakan oleh Henni, kepada Anggoro“ beber bapak dua anak ini.
Dia kembali menjelaskan, selama tahun 2010 hingga bulan januari 2013, Anggoro menerima bunga dari rekening Henni langsung, bukan dari rekening bank. “Jadi saya tegaskan sekali lagi, bank tak salah dalam kasus ini. Hanya saja ada oknum karyawan kami yang memang melakukan tindak kejahatan perbankan,“ pungkasnya. (big)
comments

This content has been locked. You can no longer post any comment.