Pembantu Rektor II UM Diusir Hakim

MALANG POST  – Majelis hakim sidang dugaan korupsi alat FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), kemarin siang, terpaksa mengusir Prof Rofi’uddin, Pembantu Rektor II UM. Tindakan itu dilakukan, karena Rofi’uddin dianggap tak pantas mendengarkan keterangan saksi, yang sedang bersaksi di ruang Cakra Pengadilan Tipikor, Juanda, Sidoarjo.
‘’Anda tidak boleh di ruangan ini. Anda harus di luar. Nanti kalau diperlukan Anda akan dipanggil,’’ perintah Antonius Simbolon, Ketua Majelis Hakim saat sidang lanjutan kasus FMIPA UM baru saja dimulai, Senin siang.
Agenda sidang kemarin siang, majelis hakim rencananya akan menghadirkan saksi-saksi untuk dikonfrontir, terkait perbedaan kesaksian mereka.
Tapi, dari sekian saksi yang diminta ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), ternyata hanya ada dua orang saksi saja. Arifin Ahmad (Dirut PT Alfindo Nuratama Perkasa) dan Prof Rofi’uddin (Purek II UM).
Karena ada dua saksi yang dinyatakan hadir oleh JPU, kesaksian akan dilakukan satu persatu. Tidak bersamaan. Artinya, sesuai tatanan dan etika, jika satu saksi tengah melakukan kesaksian, saksi lainnya tidak diperbolehkan berada di ruang sidang.
Majelis pun minta saksi pertama, Arifin Ahmad untuk dihadapkan lebih dahulu. Sedang Rofi’uddin, entah tidak tahu atau bagaimana, seharusnya keluar dari ruang sidang dan menunggu giliran.
Ketika pertanyaan-pertanyaan sedang mengalir dari majelis hakim dan JPU, tiba-tiba Antonius bertanya ke JPU. ‘’Kemana saksi satunya tadi,’’ tanya Antonius yang mengetahui kalau Rofi’uddin masih berada di ruangan.
Mendengar pertanyaan majelis, dua perempuan JPU pun menunjuk posisi Rofi’uddin yang duduk di sisi kiri ruang sidang. ‘’Itu yang mulia,’’ jawab JPU sembari menunjuk Rofi’uddin, yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
Setelah berada di luar ruang sidang, sekitar kurang lebih satu jam, pukul 13.30 WIB, Rofi’uddin akhirnya diberi kesempatan untuk bersaksi. Mengenakan baju batik lengan panjang dan celana warna gelap, lelaki kelahiran Jombang 3 Maret 1962 ini, dicercah berbagai pertanyaan seputar kedudukannya sebagai Purek II dan munculnya proposal pengadaan alat FMIPA UM.
Rofi’uddin, yang mengaku tinggal di Jl Danau Tondano Sawojajar ini, harus berpikir keras untuk menjawab pertanyaan, yang dilontarkan majelis, JPU dan kuasa hukum tiga dosen.
Bahkan, Rofi’uddin sering memandang langit-langit ruangan sidang, memejamkan mata atau memegangi dahinya agar bisa menjawab berbagai pertanyaan.
Menurut Rofi’uddin, posisi dirinya dalam pelaksanaan lelang alat pengembang laboratorium FMIPA tidaklah begitu mendalam. Fungsi kontrol pelaksanaan lelang, yang menjadi tanggung jawabnya, hanya dilakukan ketika hendak menandatangani SPM (Surat Perintah Membayar) alat yang sudah dibeli FMIPA UM.
‘’Sesuai Keppres Nomor 80 (tidak disebutkan tahunnya), yang saya lakukan hanya sebagai penandatangan SPM barang yang sudah dibeli. Lalu saya masukkan ke sistem informasi BNN yang ada di UM,’’ paparnya.
Ketika ditanya munculnya dua proposal pengadaan yang berbeda, Rofi’uddin menyebutkan, proposal pertama memang sudah menyebutkan taksiran anggaran. Karena anggaran itu diperoleh dari Kementerian Keuangan melalui Dirjen Anggaran senilai Rp 50 miliar.
‘’Proposal pertama muncul 8 Mei 2008 dan proposal kedua 28 September 2008. Proposal pertama memang lebih tebal dibanding proposal kedua, karena data pendukungnya sudah dipisahkan,’’ ujarnya.
Rofi’uddin juga menyebutkan, dari Rp 46 miliar lebih anggaran yang dialokasikan untuk alat laboratorium FMIPA, tidak semuanya terserap habis. ‘’Tidak. Hanya sekitar Rp 44 miliar saja yang terpakai,’’ katanya.
Sebelum sidang ditutup, Rofi’uddin juga ditanya tentang pertemuan dirinya dengan Clara Maureen dan Rosa Mindo Manulang di Hotel Century Jakarta.
Tetapi, dalam pertemuan itu disebutkan kalau dirinya bersama Rektor UM, Prof Suparno, tidak sempat membicarakan persoalan seputar proses lelang di FMIPA.
‘’Karena waktu itu, saya bersama Pak Rektor ketemu di depan lift. Ketika itu ada pertemuan rektor se Indonesia dan kami tengah rehat untuk salat dan makan siang. Saya memang sempat berjabat tangan dengan mereka. Lalu saya pergi menuju kamar untuk salat,’’ akunya. (has)