Sekali Teken Dapat Komisi Rp 120 Juta

SURABAYA – Amburadulnya proses lelang (tender), pengadaan alat laboratorium FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), kian terjelaskan. Kondisi ini tergambar gamblang dalam sidang lanjutan dugaan korupsi Rp 14,6 miliar.
Kejelasan lelang itu sekadar permainan, terungkap setelah Arifin Ahmad, Direktur Utama PT Alfindo Nuratama Perkasa, sebagai pemenang tender, dihadirkan sebagai saksi, di Pengadilan Tipikor Juanda, Sidoarjo.
Arifin yang bersaksi untuk tiga dosen terdakwa Abdullah Fuad, Suhandoyo dan Sutoyo, membeberkan ketidakjelasan posisinya sebagai Dirut dalam proses pengadaan alat FMIPA.
‘’Saya baru tahu kalau perusahaan saya menang tender di UM, setelah dihubungi Bu Rosa (Rosalina Mindo Manulang). Tapi, sebelumnya saya tahu, perusahaan saya dipinjam untuk tender di Universitas Malang,’’ ucapnya mengawali menjawab pertanyaan hakim, penuntut umum dan kuasa hukum tiga dosen di ruang Cakra Tipikor, Senin siang.
Menurut Arifin, seluruh pelaksanaan teknis terkait lelang di UM, dikendalikan PT Anugerah Nusantara.  Mulai pembukaan rekening BRI, pembuatan stempel dan tanda tangan cek. Bahkan soal bagi hasil keuntungan dari lelang alat laboratorium FMIPA, dikuasai penuh PT Anugerah melalui tangan Rosa dan Yulianis (Direktur Grup Permai).
Sebagai contoh, lelaki kelahiran Bima 1 Desember 1970 ini menyebut, perintah tandatangan kontrak kerjasama dengan PT UM pada 2 Pebruari 2009. Pasca dinyatakan menang, Arifin diperintahkan datang ke UM untuk teken kontrak dan oleh Rosa dibayar Rp 120 juta.
SURABAYA – Amburadulnya proses lelang (tender), pengadaan alat laboratorium FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), kian terjelaskan. Kondisi ini tergambar gamblang dalam sidang lanjutan dugaan korupsi Rp 14,6 miliar.
Kejelasan lelang itu sekadar permainan, terungkap setelah Arifin Ahmad, Direktur Utama PT Alfindo Nuratama Perkasa, sebagai pemenang tender, dihadirkan sebagai saksi, di Pengadilan Tipikor Juanda, Sidoarjo.
Arifin yang bersaksi untuk tiga dosen terdakwa Abdullah Fuad, Suhandoyo dan Sutoyo, membeberkan ketidakjelasan posisinya sebagai Dirut dalam proses pengadaan alat FMIPA.
‘’Saya baru tahu kalau perusahaan saya menang tender di UM, setelah dihubungi Bu Rosa (Rosalina Mindo Manulang). Tapi, sebelumnya saya tahu, perusahaan saya dipinjam untuk tender di Universitas Malang,’’ ucapnya mengawali menjawab pertanyaan hakim, penuntut umum dan kuasa hukum tiga dosen di ruang Cakra Tipikor, Senin siang.
Menurut Arifin, seluruh pelaksanaan teknis terkait lelang di UM, dikendalikan PT Anugerah Nusantara.  Mulai pembukaan rekening BRI, pembuatan stempel dan tanda tangan cek. Bahkan soal bagi hasil keuntungan dari lelang alat laboratorium FMIPA, dikuasai penuh PT Anugerah melalui tangan Rosa dan Yulianis (Direktur Grup Permai).
Sebagai contoh, lelaki kelahiran Bima 1 Desember 1970 ini menyebut, perintah tandatangan kontrak kerjasama dengan PT UM pada 2 Pebruari 2009. Pasca dinyatakan menang, Arifin diperintahkan datang ke UM untuk teken kontrak dan oleh Rosa dibayar Rp 120 juta.