Kamituwo Tabrakkan Diri ke KA Penataran

EVAKUASI : Warga sekitar lokasi kejadian, polisi dan anggota SAR mengumpulkan tubuh korban yang cerai berai.

BLIMBING- Nekat! Kata tersebut pantas ditujukan kepada Tujianto, 43 tahun. Bayangkan saja, dalam kegelapan malam, warga Perum Priya Permata alam (GPA) Blok IG, Desa Ngijo, Karangploso tersebut nekat menabrakkan dirinya ke KA Penataran yang melaju ke arah Malang di rel KA Jalan Bakti, Balearjosari, Malang. Akibat peristiwa Minggu (24/3) itu, tubuhnya hancur cerai berai. Kepala dan tubuh Tuji, panggilan akrabnya terpisah. Hingga semalam, anggota reskrim Polsekta Blimbing yang menangani masalah ini masih melakukan penyelidikan intensif. Polisi hanya mendapat data, korban yang diketahui merupakan Kamituwo Desa Ngijo, Karangploso ini nekat bunuh diri karena masalah keluarga. Kanitreskrim Polsekta Blimbing, AKP Nanang Widodo mengungkapkan, Ribawanti, 31 tahun, istri korban mengaku bila mereka memiliki masalah internal keluarga yang tidak bisa dipecahkan.
“Namun, permasalahan apa yang dihadapi, istrinya tidak mau mengatakan sama sekali,” terangnya. Sebelum kejadian itu, dijelaskan Nanang, korban pergi bersama istrinya berboncengan  naik motor menuju rumah orangtuanya di Donomulyo. Hal ini dibenarkan Pujan, kakak kandung korban asal Ponorogo yang datang kemarin. “Dia menjemput ibu,” katanya. Setelah itu, mereka kembali ke Malang. Tuji membonceng Tami, ibunya sedangkan istrinya yang bekerja di bagian dropping minuman Yakult ini pulang naik bus. “Adik saya mengantarkan ibu ke rumahnya di Perum GPA. Setelah itu, dia pergi lagi untuk menjemput istrinya di pertigaan Kacuk,” lanjut Pujan.
Namun, beralasan akan jalan-jalan dulu dan membeli sesuatu, Tuji menghentikan motor yang dibawanya di Jalan Kedawung Malang. Dia lantas menyerahkan motor beserta kunci, STNK dan identitas lainnya kepada Ribawanti. Pria ini juga menyuruh istrinya pulang.  Ada dugaan, sebelum memberikan motor ini, keduanya sempat bertengkar di jalan. Sebab saat menyerahkan motor itu, korban langsung buru-buru pergi. Istrinya yang sempat mengejar, kembali lagi ke motornya karena ingat kunci motor masih menempel. Setelah itu, Ribawanti pulang ke rumahnya. Tak dinyana, sekitar pukul 21.00, korban yang mengenakan kaos warna orange dan celana jins biru ini menyusuri rel KA di Jalan Bakti.  
Ketika itu, bersamaan dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi KA Penataran CC 2018 yang dimasinisi Suprio. “Saya sudah membunyikan klakson berulangkali, tapi dia tetap berjalan di tengah rel,” ungkapnya kepada polisi. Saat itu juga, korban pun ditabrak hingga tubuhnya terpental hingga 10 meter dengan kondisi hancur. KA Penataran ini lantas berhenti di Stasiun Blimbing dan melapor ke polisi. Warga sekitar sendiri yang mendengar kejadian itu, berdatangan ke lokasi kejadian. Mereka, polisi dan tim SAR yang datang, mengumpulkan tubuh korban untuk dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang. “Dia sempat dinyatakan orang tak dikenal. Tapi setelah diperiksa, ditemukan selembar kertas bertuliskan jadwal piket pegawai Desa Ngijo,” papar Slamet, salah satu saksi mata di TKP. (agp/mar)