Imigran Gelap ‘Buangan’ Malaysia

MALANG – Imigran gelap asal Srilanka, yang terdampar di Sendangbiru Kabupaten Malang, ternyata ‘buangan’ dari Malaysia. Bahkan ke 21 orang itu, sudah berada di Malaysia sejak sebulan lalu, sebelum diselamatkan nelayan Sendangbiru. Mereka bermaksud menuju Australia.
Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelasi I Malang, Romi Yudianto menuturkan, sebelum ditemukan terombang-ambing di tengah laut, rombongan imigran asal Srilanka ini, berangkat dari Kolombo – Srilanka pada Nopember 2012. Selanjutnya mereka transit di Malaysia selama sebulan.
Setelah itu, 21 imigran yang terdiri dari 19 orang dewasa dan dua anak-anak ini, harus menuju Australia. Tujuannya mencari suaka. Untuk melanjutkan perjalanan, mereka menggunakan perahu skoci yang dinakodai Rajapakhsa Arachchi, menuju Australia pada awal 2013.
Namun selama tiga bulan, mereka terombang-ambing di tengah laut lepas hingga akhirnya diamankan oleh petugas Satpolair Malang dan Polres Malang.
‘’Dari hasil pendataan yang kami lakukan, mereka ini termasuk imigran baru. Sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah kami amankan. Mereka berangkat langsung dari Kolombo – Srilanka,’’ ujar Romi.
Untuk Bahasa Indonesia yang dikuasai oleh salah satu imigran, Romi mengatakan, imigran atas nama Victor Robinvon itu, sebelumnya pernah bekerja di Malaysia selama tiga tahun. Saat bekerja di Malaysia itulah, Robinvon mempelajari Bahasa Indonesia.
Nasib imigran itu sendiri, kemarin setelah menjalani pendataan di Kantor Imigrasi Klas I Malang, mereka dikirim ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Bangil – Pasuruan. Mereka selanjutnya menunggu penanganan dari UNHCR. Yaitu sebuah badan PBB yang khusus menangani imigran.
Romi mengatakan, pemindahan 21 imigran tersebut dilakukan pagi kemarin pukul 08.00, dengan menggunakan kendaraan bus. Tiba di Rudenim Bangil – Pasuruan, pukul 09.00.
‘’Pemindahan imigran ke Rudenim itu, adalah prosedur penanganan terhadap para imigran yang diamankan. Pemindahan sendiri, sebagai upaya untuk memberikan perlakuan yang baik kepada mereka,’’ ungkap Romi Yudianto, ketika dikonfirmasi via telepon.
Terpisah Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah mengatakan, proses penyelidikan kasus imigran yang diamankan, diserahkan ke Kantor Imigrasi Klas I Malang. Baik itu, 21 imigran yang diamankan ataupun nakoda perahu Rajapakhsa Arachchi.
‘’Untuk penyelidikan, kita tidak ada kewenangan untuk menyelidiki. Itu karena mereka kami amankan di tengah laut lepas sekitar 180 mil dari bibir pantai. Kalau diruntut, yang berhak penyelidiki adalah TNI AL. Karena kurang dari 200 mil itu adalah kewenangan TNI AL. Sedangkan kalau sudah lebih dari 200 mil, mereka sudah merdeka. Kami hanya sekedar mengamankan, yang kemudian untuk penyelidikan kami serahkan semuanya ke Kantor Imigrasi,’’ terang Decky Hermansyah.
Sekedar diketahui, imigran gelap kembali berhasil diamankan, Selasa lalu. Kali ini, 21 imigran asal Srilanka yang terdiri dari 19 orang dewasa dan dua anak-anak, diamankan di tengah laut lepas. Mereka sebelum ditemukan, sempat terombang-ambing selama tiga hari di perairan Sendangbiru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. (agp/avi)