Gadis Kepanjen Dijual ke Kalimantan

HILANG : Slamet menunjukan foto anaknya yang diduga menjadi korban trafficking.

KEPANJEN-  Dugaan trafficking kembali terjadi. Kali ini pasangan suami istri (pasutri) Slamet, 51 tahun dan Siti Comsiah, 35 tahun, warga Kampung Baru RT02 RW02, Desa Ardimulyo, Kepanjen yang mengalaminya. Mereka kehilangan Siti Jamiah, 15 tahun, anaknya sejak dua bulan lalu. Ditemui di rumahnya, Slamet mengatakan anak kesayangannya itu raib sejak 27 Januari 2013 lalu. “Usai pulang sekolah, biasanya anak saya itu pergi bermain bersama teman-temannya yang lain. Perginya memang tak pamit,“ ujarnya. Mulanya, Slamet tak menaruh curiga dengan kepergian Siti tanpa pamit lantaran dia biasa pergi bermain di sekitar rumah tanpa pamit kepada orang tua.
“Namanya anak-anak, kalau pergi bermain tanpa pamit itu sudah biasa,“ ucap bapak dua anak ini. Dia lantas khawatir, setelah anak sulungnya itu tak kunjung pulang ke rumah, saat mulai Maghrib. Biasanya sebelum Maghrib, Siti itu sudah pulang ke rumah usai bermain. “Kemudian saya mencari ke rumah tetangga, tapi tak menemukannya,“ paparnya. Dia kemudian memilih menunggu hingga keesokan harinya, dengan harapan Siti pulang. Setelah ditunggu hingga esok hari, Siti tak kunjung pulang. Akhirnya Slamet berinisiatif mencarinya ke Blitar, tempat asalnya. “Saat itu saya berpikiran mungkin dia pergi ke Blitar sendirian karena kangen neneknya. Setelah saya cek ke sana, anak saya juga tak ada,“ katanya lirih.
Setelah 10 hari hilang, Slamet akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang. Dua hari setelah laporan, dia mendapat kabar anaknya berada di Tenggarong, Kalimantan Timur. “Kabar itu saya dapat dari teman yang ada di sana. Saya pernah kerja di sana,  jadi saya cukup kenal,“ ujar dia.
Menurut temannya, Siti dijual seseorang kepada seorang germo seharga Rp 7 juta.  Hanya saja hingga saat ini, Slamet tak mengetahui siapa yang membawa Siti ke Kalimantan. Termasuk siapa otak pelaku kejahatan trafficking itu. “Info terakhir dari teman saya, Siti dibawa ke Balikpapan. Setelah itu saya tak tahu berada dimana sekarang?,“ ungkapnya lirih. Di sisi lain, Slamet mengaku kecewa dengan kinerja polisi. Dia mengaku sudah melaporkan hilangnya Siti dua kali ke UPPA Satreskrim Polres Malang. Pertama saat 10 hari setelah hilangnya anak saya. Kemudian juga lapor lagi, saat saya memperoleh informasi keberadaan Siti di Tenggarong, Kalimantan Timur, melalui teman saya yang ada di sana,“ beber Slamet, kepada Malang Post kemarin. Dia beranggapan, penyidik yang menangani kasusnya, lambat serta kurang serius mengungkapnya. (big/mar)