Sama-sama Pendiam di Sekolah

NONTON : Warga sekitar lokasi penemuan kerangka Yani menonton polisi melakukan olah TKP.
PERNYATAAN hilangnya korban dari rumah justru berbeda dengan yang disampaikan pihak sekolah tempat korban mengenyam pendidikan. Ditemui di ruangannya siang kemarin, Kepala SMK PGRI Singosari, Subagyo Utomo mengatakan kalau Cahyani Elis Susanti dan Handoko tidak masuk sekolah sejak Kamis, 14 Maret lalu. “Rabu, 13 Maret, mereka masih masuk sekolah. Mereka pulang lebih awal karena liburan selama tiga hari karena ruangan kelas dipakai siswa kelas XII yang ujian akhir sekolah,” tutur Subagyo. Menurut dia, seharusnya Yani, panggilan korban dan Handoko masuk sekolah lagi pada Senin, 18 Maret. Namun keduanya tidak masuk sekolah dan sampai sekarang.  “Ketika tidak masuk sekolah itu, saya mendapat SMS dari orangtua Yani kalau dia hilang. Saya pikir mungkin Yani pergi ke rumah temannya. Tidak disangkanya hilang dan tadi mendapat kabar tentang penemuan kerangka itu,” sambung Nova, guru BP di SMK PGRI Singosari.
Dijelaskan dia, Yani adalah siswa kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sedangan Handoko siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR II). Selama di sekolah, keduanya tidak pernah memiliki catatan buruk. Baik itu soal pelajaran ataupun dengan absensi masuk. “Absensi mereka tidak pernah membolos. Terakhir mereka masuk tanggal 13 Maret. Catatan presensi menjadi bukti kalau mereka masuk sekolah,” lanjutnya. Lantas apakah memang ada hubungan khusus antara Yani dengan Handoko? Nova mengatakan kalau dirinya tidak terlalu mengetahui soal itu. Nova sendiri sempat memanggil beberapa teman dekat Yani dan Handoko, namun mereka mengatakan sama sekali tidak mengetahui. “Yang jelas mereka ini sama-sama pendiam,” pungkas Nova. (agp/mar)