Diminta Tebusan Rp 50 Juta

BARANG BUKTI : Polisi yang melakukan olah TKP mengamankan barang bukti baru dan (foto kanan) saksi yang mengetahui kali pertama kerangka dimintai keterangan.

Saksi Kunci Pembunuhan Siswi SMK PGRI Singosari Menghilang
LAWANG- Untuk mengungkap pembunuhan terhadap Cahyani Elis Susanti, boleh jadi akan memakan waktu lama. Meski polisi mengantongi salah satu nama orang terakhir yang bersama dengan  anak sulung dari dua bersaudara pasangan Jiono dan Saudah ini. Dia adalah Handoko, teman satu sekolah korban di SMK PGRI Singosari. Dia yang dinyatakan sebagai saksi kunci, hingga kemarin tak ditemukan keberadaannya. Beberapa petugas yang memburu ke rumahnya di Dusun Nglendongan, Desa Sidoluhur, Lawang tidak menemukan siswa kelas X itu.  “Cukup pelik karena Handoko sendiri juga menghilang bersamaan dengan raibnya korban,” ujar salah satu sumber di Polres Malang.  Informasi yang didapat Malang Post, orang tua Handoko mendapat ancaman untuk membayar uang tebusan Rp 50 juta, bila anaknya ingin hidup.
“Orangtua Handoko ini menerima kiriman SMS bernada ancaman. Kalau boleh dibilang, Handoko diculik dan dimintai tebusan,” lanjut sumber terpercaya ini. Saat orangtuanya mendapat SMS itu, Handoko diketahui juga pergi bersama Yani, panggilan siswi SMK PGRI Singosari yang ditemukan jadi kerangka di dasar jurang Pegunungan Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang, Rabu (27/3) siang. Apakah Handoko juga ikut tewas atau masih hidup, polisi mengaku belum mendapat titik terang.  Kalaupun Handoko diduga ikut meninggal, polisi tidak menemukannya di lokasi penemuan kerangka Yani.  Perihal uang tebusan itu, juga dikatakan Jiono.
“Siapa yang mengirim SMS ancaman dan minta tebusan itu saya tidak tahu. Namun yang jelas SMS itu dikirim ke Rusmini, ibu Handoko dengan menggunakan nomor HP Handoko. Dan apa ancamannya, saya tidak tahu. Tetapi sampai sekarang ini, Handoko juga diketahui tidak ada,” terangnya. Dia menerangkan, Yani diketahui hilang dari rumah sejak 6 Maret lalu. Saat pergi, dari rumah, dia dan istrinya mengaku tidak tahu karena sedang bekerja. “Dia hanya pamit pergi keluar rumah melalui SMS ke nomor HP saya. Ngakunya pergi bersama Handoko, teman sekolahnya,” papar dia. SMS yang terkirim pukul 13.20 ke HP Jiono berisi : ‘Pak aku muleh jam 1. Trus nang omahe Anin, soale Anin pindah omah’. Anin merupakan teman sekolahnya yang tinggal di Lawang. “Kalau dari keterangan tetangga, anak saya ini pergi dengan Miftahul, tetangga sekaligus teman sekolahnya. Mereka dijemput Handoko. Mereka lalu pergi naik tiga motor Yamaha Jupiter MX,” terangnya.
Setelah pergi itu, sekitar pukul 16.30, Yani masih bisa menerima SMS dari tetangga yang menanyakan keberadaan Khusnul, bibinya. “Dijawab anak saya kalau bibinya sedang di luar dan sebentar lagi mau pulang. Tetapi setelah SMS itu, HP anak saya mati dan tidak bisa dihubungi lagi,” lanjut bapak dua anak ini. Karena sampai esok harinya Yani tidak kunjung pulang, keluarga yang bingung lantas mencari keberadaan korban dengan menanyakan kepada Miftahul. Ketika ditanya Miftahul mengaku tidak tahu. “Katanya mereka pisah saat sebelum masuk lapangan latihan menembak tak jauh dari lokasi penemuan itu. Miftahul mengira kalau Yani, sudah pulang dengan diantarkan oleh Handoko. Karena yang terakhir dengan anak saya itu Handoko. Sedangkan Miftahul sendiri, saat itu mengaku pulang dengan Deva, temannya,” ungkap pria itu. Keluarga ini lantas melaporkan hilangnya Yani ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang. (agp/mar)