Dibawa Lelaki yang Juga Ikut Raib

LAWANG – Siapa pelaku dan apa motif pembunuhan terhadap Cahyani Elis Susanti, 16 tahun, warga Dusun Morotanjek, Desa Purwoasri Singosari, hingga kemarin masih misterius. Tim khusus yang dibentuk Satreskrim Polres Malang, masih berkutat melakukan pencarian terhadap Handoko, teman satu sekolah korban di SMK PGRI Singosari, Malang.
Pemuda 16 tahun asal Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang ini, menurut polisi, sebagai kunci penting dalam mengungkap kasus tersebut. Sejak hilangnya Yani, panggilan akrab Cahyani Elis Susanto, keberadaan Handoko juga seperti hilang ditelan bumi.
Teorinya, bila siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR2) ini ditemukan dalam kondisi meninggal, maka disimpulkan ada orang lain yang melakukan pembunuhan terhadap Yani.
Namun sebaliknya, bila Handoko ditemukan dalam kondisi  masih hidup, dia bakal dicurigai polisi terlibat dalam pembunuhan Yani. (berita terkait baca halaman Metro).
Handoko merupakan orang terakhir yang pergi bersama Yani, untuk mengunjungi salah seorang temannya yang pindah rumah. Sayangnya, Handoko raib bersama motornya, Yamaha Jupiter MX.
‘’Namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),’’ ungkap salah satu sumber di Polres Malang.
Menurutnya, tim khusus yang dibentuk, bekerja cukup hati-hati. Muncul kecurigaan bila Handoko pergi untuk menghilangkan jejak. Salah satu yang mendasari hal ini, lanjut sumber Malang Post, adalah waktu hilang yang tidak sama antara pengakuan Jiono, orang tua Yani, dengan pihak sekolah.
Jiono mengatakan, anaknya hilang pada Rabu, 6 Maret. Pihak SMK PGRI Singosari mengaku, keduanya tidak masuk sekolah mulai Kamis, 14 Maret, dibuktikan dengan presensi kehadiran.
‘’Ini ada selisih delapan hari yang masih kami selidiki. Kemana korban dan Handoko pergi,’’ tegasnya.  Saat ini, selain Polres Malang, jajaran Ditreskrimum Polda Jatim juga ikut melakukan penyelidikan.
Handoko sendiri, pernah dilaporkan orangtua Yani ke Polres Malang, dengan tuduhan membawa lari gadis tanpa izin orang tua. Laporan itu dibuat beberapa hari, setelah Yani tidak pulang ke rumahnya. Polisi sempat mengamankan seluruh foto ataupun barang-barang yang berkaitan dengan Handoko dari rumahnya untuk proses penyelidikan.
Dalam penyelidikan awal, terungkap bila Rusmini, ibu Handoko, sempat menerima SMS yang dikirim dari nomor ponsel Handoko. Berisi permintaan uang tebusan sebesar Rp 50 juta.
‘’Rekaman SMS ini juga dipelajari. Apakah yang mengirimkan orang lain ataukah Handoko sendiri. Sebab, tidak masuk akal kalau ada yang menculik dan mengancam minta uang tebusan ke orangtua Handoko. Mohon maaf, orangtuanya bukanlah orang kaya yang akan menuruti permintaan itu. Kecuali kalau Handoko sendiri mengirimkan SMS itu. Sebab, dia sendiri yang mengetahui kondisi keuangan orang tuanya,’’ terang sumber yang wanti-wanti namanya dirahasiakan tersebut.
Sementara itu, Kapolsek Lawang, Kompol Eko Suminto mengaku, kasus pembunuhan ini diambil alih Polres Malang. Seperti diketahui, setelah hilang selama 22 hari, Yani ditemukan hanya tinggal jadi kerangka di dasar jurang Pegunungan Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang, Rabu (27/3) siang.
Itupun dengan kondisi tidak utuh dan berserakan di areal latihan militer Kodam V/ Brawijaya tersebut. Identitas terungkap dari barang-barang yang ditemukan di sekitar TKP, yakni ponsel merek Cross, jaket berpenutup kepala warna abu-abu, pakaian dalam, pakaian berwarna krem bergaris hitam dan celana ¾ warna biru. (agp/mar)