Diburu Polisi, Disembunyikan Orang Dekat

LAWANG -  Sedikit demi sedikit, kasus pembunuhan terhadap Cahyani Elis Susanti, 16 tahun, warga Dusun Morotanjek, Desa Purwoasri, Singosari mulai terbuka.
Handoko, pemuda asal Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang dinyatakan polisi masih hidup. Keyakinan ini terjawab dari hasil penyelidikan selama tiga hari ini.
Salah satu dari sekian banyak saksi yang diperiksa tim khusus Satreskrim Polres Malang, melihat siswa SMK PGRI Singosari itu, melintas di daerah Karanglo, Singosari, Rabu (13/3) lalu. Tepatnya, tujuh hari setelah dilaporkan hilang bersama Yani, panggilan korban yang ditemukan jadi kerangka di dasar jurang Pegunungan Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang, Rabu (27/3) siang.
“Ada saksi yang melihat dia di sana. Pengakuan terbaru ini, masih kita dalami dan mencari informasi di seputar Karanglo. Tapi saksi yang melihat, kita rahasiakan namanya demi kepentingan penyelidikan,” ucap salah satu sumber di Polres Malang (berita terkait baca halaman Metro).
Dengan pernyataan saksi itu, diakui sumber terpercaya Malang Post itu, makin menguatkan kecurigaan bahwa Handoko terlibat dalam pembunuhan terhadap Yani.
Selain itu, hilangnya Handoko juga menjadi salah satu tanda, ada orang dekatnya yang terlibat menyembunyikan pemuda berusia 16 tahun tersebut. “Ada pihak ketiga yang menyembunyikan Handoko,” tegasnya.
Untuk mempercepat pengungkapan, polisi memanggil orangtua Handoko, yakni Ngateno dan Rusmini serta enam teman sekolah mereka di SMK PGRI Singosari, Dani Santoso, Faisal Akbar, Deva Putra, Anin Santika Dewi, Miftahul serta Eko Nursiyo Aris Ibisono.
Informasi yang diperoleh Malang Post, Faisal Akbar, Deva Putra dan Dani Santoso merupakan teman sekelas Handoko.
“Saya dan Dani Santoso ditanya seputar dimana saja tempat main Handoko dan sama siapa saja. Kalau masalah lainnya kami tidak tahu. Meski teman sekelas, kami jarang sekali main dengan Handoko,” tutur Faisal Akbar. 
Sementara Anin dan Miftahul adalah teman sekelas Yani. Sedangkan Eko Nursiyo Aris Ibisono adalah tetangga sekaligus teman Handoko yang juga menerima SMS ancaman permintaan tebusan Rp 50 juta. Selain mengorek keterangan para saksi ini, khusus Miftahul dan Deva Putra diajak polisi ke lokasi penemuan kerangka. Mereka diajak untuk menunjukkan tempat dimana mereka berpisah dengan Handoko dan Yani.  Di bagian lain, Polres Malang melakukan pemeriksaan DNA terhadap kerangka Yani. Hal itu dilakukan untuk meyakinkan serta memastikan identitas sebenarnya dari tengkorak yang ditemukan itu.
“Memang dari barang bukti yang diamankan di lokasi, merupakan barang-barang milik korban. Namun, untuk lebih membuktikan bahwa kerangka itu korban, tes DNA sangat diperlukan,” ungkap Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, kemarin.
Dia menjelaskan, penyidik Satreskrim, sudah mengambil sampel DNA dari Jiono, ayah Yani berupa rambut, potongan kuku dan darah untuk dicocokan dengan tengkorak yang ditemukan.  “Paling cepat, hasil DNA dari Labfor Cabang Surabaya akan diketahui dua pekan lagi. Dibutuhkan kecermatan serta ketelitian untuk membandingkannya antara DNA dari kerangka itu sendiri dengan sampel DNA yang diambil dari keluarga korban,“ bebernya. Disinggung siapa pelaku pembunuhan, dengan tegas, Deriyan mengatakan pelaku benar-benar mengarah pada Handoko.  “Namun motifnya apa masih didalami penyidik. Yang bisa saya sampaikan, saat ini penyidik masih memburu Handoko. Yakni dengan memintai keterangan dari saksi-saksi di lapangan,” tandasnya. (agp/big/mar)