Cinta Handoko Ditolak

SINGOSARI- Siapa sangka bila ternyata Handoko pernah menyatakan cinta kepada Cahyani Elis Susanti, teman sekolahnya di SMK PGRI Singosari. Namun cinta pemuda asal Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang ini bertepuk sebelah tangan. Yani, panggilan akrab  korban pembunuhan yang ditemukan hanya tinggal kerangka di dasar jurang Pegunungan Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang menolak cinta itu tanpa alasan yang jelas. Namun, belakangan keduanya tetap jalan bersama. Hal ini diungkapkan Miftahul, siswa SMK PGRI Singosari ditemui di Mapolsek Singosari, kemarin. “Setahu saya mereka tidak berpacaran, hanya teman biasa. Karena dulu Handoko yang sempat menyatakan cinta, ditolak oleh Yani,” ujarnya.
Namun, setahunya setelah itu, hubungan Handoko dan Yani tetap tidak ada masalah. “Ya, setelah itu hanya TTM-an (Teman Tapi Mesra),” lanjutnya. Saat dinyatakan hilang, Rabu (6/3) lalu, Miftahul mengaku pisah dengan kedua temannya itu, ketika berada di jalan masuk tempat latihan militer milik Kodam V/ Brawijaya tersebut. “Saya terakhir bertemu tanggal 6 itu. Kami memang berangkat bersama ke rumah Anin Santika Dewi yang pindah rumah. Setelah itu, kami pisah ketika pulang. Pisahnya persis di depan pintu masuk tempat latihan militer itu,” ungkapnya.  Anin Santika Dewi sendiri, diketahui pindah rumah ke Desa Bedali, Lawang. “Ya, mereka datang ke rumah saya karena pindahan,” kata Anin, sapaannya. Sekitar dua jam di rumahnya, pukul 15.00 mereka berempat pamitan pulang.
Menurut Anin, Yani dibonceng Handoko, sedangkan Miftahul dibonceng sepeda motor oleh Deva Putra. “Kemana mereka perginya saya sudah tidak tahu. Dan sejak saat itu, saya sudah tidak komunikasi dengan mereka,” tutur Anin. Miftahul juga tidak menduga bila Yani dan Handoko ternyata tidak pulang. “Saya kira mereka sudah pulang ke rumahnya masing-masing,” paparnya. Sementara itu, Eko Nursiyo Aris Ibisono mengaku dirinya kali terakhir bertemu dengan Handoko, 6 Maret sekitar pukul 07.00 di jalan depan rumahnya. Ketika bertemu itu, Handoko sempat mengajaknya pergi ke SMP PGRI 1 Lawang, tetapi ajakan tersebut ditolaknya. Baru pada Kamis (7/3) sore, pukul 16.00 setelah Handoko dikabarkan hilang, Eko mengaku mendapat SMS dari nomor ponsel Handoko. Isi SMS itu bunyinya ancaman dan minta tebusan Rp 50 juta. Isinya : ‘Ojok telpon-telpon aku maneh lek kepingin anakmu slamet. Siapno uang Rp 50 juta’.
Mendapat SMS itu, dia langsung ke rumah Handoko dan memberitahukan kepada keluarganya. “Tidak tahunya keluarga Handoko, juga mendapat SMS yang sama,” kata Eko. Sementara itu, SMK PGRI Singosari merubah pengakuan tentang waktu hilangnya kedua siswanya tersebut.  Wakil Kepala SMK PGRI Singosari, Nova Lukman yang kemarin mendampingi murid-muridnya, menyatakan bila Yani dan Handoko sudah tidak sekolah sejak Rabu (6/3) lalu.  “Setelah saya kroscek dan menanyakan ke teman-temannya, keduanya tidak masuk sejak tanggal 6 Maret. Dan terkait dengan kejadian ini, kami pihak sekolah akan membantu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh polisi. Termasuk sekolah juga akan membantu melacak keberadaan Handoko,” terang Nova Lukman. (agp/mar)