Main ‘Kucing-Kucingan’, Handoko Kalahkan Polisi

KEPANJEN- Handoko, warga Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang benar-benar hebat. Ibarat main kucing-kucingan, hingga kemarin, polisi tidak bisa mengendus keberadaan pemuda berusia 16 tahun tersebut. Meskipun, untuk mencari Handoko, jajaran Satreskrim Polres Malang sudah memeriksa hingga malam orang tuanya, Ngateno dan Rusmini di Mapolsek Singosari. Informasi yang didapat Malang Post, keduanya tetap ngotot tidak tahu keberadaaan anaknya tersebut. “Bisa dikatakan, setiap hari orangtuanya terus kami periksa secara intensif. Bahkan, termasuk memeriksanya di rumahnya, mereka tetap tidak tahu dimana Handoko,” ujar sumber terpercaya Malang Post di Polres Malang. Menurut dia, polisi melihat ada kejanggalan dalam pengakuan Ngateno dan Rusmini. Mereka diyakini tahu persis keberadaan siswa SMK PGRI Singosari tersebut.  Seperti diberitakan sebelumnya, Handoko dicurigai menjadi pelaku pembunuhan terhadap Cahyani Elis Susanti, 16 tahun, warga Dusun Morotanjek, Desa Purwoasri, Singosari.
Kecurigaan polisi ini cukup beralasan. Alasan pertama, Handoko orang terakhir yang bersama Yani, panggilan korban. Alasan kedua, Handoko dan Yani diketahui berpisah dengan teman-temannya di depan pintu masuk tempat latihan militer milik Kodam V/Brawijaya di Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang usai menemui Anin Santika Dewi sendiri yang pindah rumah ke Desa Bedali, Lawang, Rabu (6/3). Sedangkan alasan ketiga, tujuh hari setelah itu, Handoko diketahui melintas di daerah Karanglo, Singosari.  Susahnya penanganan kasus pembunuhan itu, membuat Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta pun turun tangan. Dikonfirmasi kemarin, dia mengaku melakukan evaluasi kinerja tim penyidik Satreskrim hari ini. “Besok (hari ini), saya akan melakukan evaluasi kinerja tim penyidik reserse,” ujarnya. Namun, dia enggan merinci apa yang akan dievaluasi oleh jajarannya.  
Dia sendiri mengakui, jajarannya mengalami kesulitan untuk mengungkap penemuan kerangka di dasar jurang Pegunungan Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang. “Langkah maupun proses tim penyidik untuk mengungkap tiap kasus, tak selamanya mudah dan cepat. Ada kalanya berjalan lambat seperti kasus yang terjadi saat ini, karena beberapa faktor. Itu namanya dinamika,” kilahnya. Namun, perwira tersebut menegaskan, akan ada waktunya bagi kepolisian untuk menekan Handoko agar menyerahkan diri. “Saat ini masih saya percayakan kepada penyidik untuk melacak keberadaan Handoko. Kami tidak ingin gegabah karena takutnya yang bersangkutan malah melarikan diri. Beri kesempatan kepada kami untuk bekerja lebih dulu,” tegas Deriyan. (big/agp/mar)