Saksi Ahli ‘Diserang’ Kuasa Hukum

MALANG POST  – Saksi ahli yang didatangkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang lanjutan dugaan korupsi FMIPA UM, mendapat perlawanan dari kuasa hukum tiga dosen UM. Apalagi Setyo Basuki, saksi dari BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan) Jatim itu, dianggap tidak menguntungkan.
Bahkan karena kesaksiannya ini pula, Setyo secara bergantian, diserang kuasa hukum dosen yang berstatus tersangka tersebut.
Saking kerasnya serangan yang dilontarkan Sudiman Sidabuke SH (kuasa hukum Abdullah Fuad dan Sutoyo) serta Sentot Yusuf Pratica (kuasa hukum Suhandoyo), membuat Antonius Simbolon SH majelis hakim sering melerai ‘pertikaian’ antara Setyo dan para kuasa hukum.
‘’Para kuasa hukum, kita dalam persidangan ini mencari kebenaran. Hendaknya mari sama-sama kita juga mencari kebenaran,’’ sergah Antonius ketika melihat dan mendengar pertanyaan dengan nada tinggi yang dilontarkan para kuasa hukum ke Setyo.
Tetapi, karena kehadirannya diminta sesuai kapasitasnya sebagai BPKP, Setyo pun tidak terpengaruh keadaan. Sebaliknya, Setyo tetap meyakini kalau kesaksiannya memang sudah sesuai dengan temuan dilapangan.
‘’Pelaksanaan tender ada ketidakcocokan antara proses dan peraturan pemerintah,’’ tandas Setyo, yang mengaku lahir di Madiun 1959 ini. ‘’Karena itulah, lelang alat laboratorium UM ada penyimpangan,’’ paparnya di Pengadlan Tipikor, Senin petang.
Menurut Setyo, audit yang dilakukan BPKP didasarkan atas permintaan penyidik dalam hal ini Kejaksaan Tinggi Jatim, Juni 2012 lalu.  Selain itu, audit juga dilakukan dengan melakukan klarifikasi ke berbagai pihak, yang dirasa memang diperlukan secara tugas auditor.
‘’Sepanjang diperlukan kami pasti melakukan klarifikasi. Dan hasilnya dalam audit itu kami menemukan bentuk penyimpangan yang berakibat kerugian negara,’’ tandasnya mengulangi.
Dikatakan dia, bentuk penyimpangan dilakukan diantaranya dengan hanya dilibatkannya sembilan perusahaan pengikut tender, yang belakangan diketahui ternyata satu grup usaha milik Nazaruddin. Sehingga kerugian negara dalam bentuk mark up harga barang-barang yang dibutuhkan FMIPA UM.
‘’Untuk menguji penyimpangan itu, kami juga melakukan klarifikasi kepada dua perusahaan yang sebelumnya dinyatakan kalah saat pra kualifikasi. Tapi, tidak kami lakukan klarifikasi ke delapan perusahaan karena mereka sama-sama satu grup,’’ elaknya.
Setyo, yang tidak henti-henti menerima serangan dari kuasa hukum menyebutkan, hasil audit BPKP ditemukan kerugian negara sekitar Rp 14,8 miliar. Angka ini didasarkan atas perbedaan pembayaran antara uang yang dikeluarkan UM ke pemenang tender PT Anugerah Nusantara c.q ke para vendor-vendor.
‘’Kami temukan ada kemahalan harga dalam HPS (Harga Perkiraan Sendiri) yang oleh panitia tidak dilakukan tidak dicarikan perbandingan. Meski disebut sebagai agen tunggal tetapi panitia bisa mencari merek lain yang barangnya sejenis untuk perbandingan,’’ ujarnya.
Sementara itu mendengar jawaban-jawaban yang dilontarkan Setyo, tiga kuasa hukum tiga dosen terdakwa UM pun secara bergantian menyerang Setyo.
Sebagai saksi ahli, Setyo dianggap tidak melakukan kinerjanya secara profesional. Artinya, Setyo melakukan audit tidak berdasarkan lembaga tempat dirinya bekerja.
‘’Anda bekerja bertanggung jawab kepada siapa?’’ tanya kuasa hukum. ‘’Kami bekerja bertanggung jawab kepada presiden sesuai undang-undang. Bukan kepada jaksa atau kejaksaan,’’ jawab Setyo, yang dianggap kuasa hukum telah menyimpulkan perkara yang masih dalam proses persidangan.
Berikut beberapa petikan kesaksian Setyo:

Berapa kerugian negara dari audit saudara saksi ahli?  
Syarat audit harus ada pelanggaran hukumnya. Prosesnya dalam pra tahapan tender pasti pada istilah mark up. Kami temukan ada kemahalan harga dalam HPS oleh pantia. Ini terjadi karena sudah dikondisikan atau direkayasa oleh sembilan perusahaan peserta lelang. Karena mereka satu grup maka  otmatis harganya mendekati HPS.

Ahli, dari mana saudara tahu ada rekayasa?
Dari BAP (Berita Acara Pemeriksaan) para saksi awal 2009, sebelum dokumen anggaran turun sudah ada  2 orang dari PT Anugerah berusaha menemui pihak terkait di UM.

Sepengetahun Ahli, siapa ditemui siapa?
Ada Mindo Rosalina Manulang diantar Subur Triyono menemui rektor di UM, kemudian menemui purek II (wakil rektor II, Red.).  Dan setelah itu ada juga staf keuangan Clara (Clara Mauren) untuk presentasi di UM. Itulah indikasinya.
 
Apakah Ahli tahu, bahwa pihak UM c.q Pengadaan barang jasa,  tahu persis para peserta lelang datangnya dari satu grup?
Dari BAP.

Bagaimana saudara saksi ahli bisa menyimpulkan bahwa perusahaan tender itu datangnya dari satu grup dan itu indikasi rekayasa?
Yang kami maksudkan rekayasa dari pihak rekanan.
 
Saudara saksi ahli, sehubungan dengan eksistensi dan lembaga saudara bekerja, atas dasar apa dan sampia sejauh mana kewenangan saudara adalam melakukan audit kerugian negara?
Kami melakukan audit berdasarkan permintaan instansi penyidik. Misal kami tiba-tiba melakukan audit itu tidak bisa. (has)