Tujuh Rampok Satroni Toyomarto

TKP : Toko bangunan sekaligus rumah yang menjadi sasaran perampok dipasang garis polisi dan petugas melakukan olah TKP di lantai dua.

SINGOSARI–  Pencurian uang nasabah bank senilai Rp 403 juta akhir Maret lalu belum terungkap, dini hari kemarin aksi perampokan kembali terjadi di wilayah Singosari. Toko bangunan dan molen ‘Dhani Jaya’ di Jalan Serunai Rambat, Desa Toyomarto, Singosari milik Purwadi, 62 tahun, menjadi sasarannya. Uang dan barang-barang berharga senilai Rp 200 juta raib dibawa kabur pelaku. Kasus perampokan itu sendiri, kemarin langsung ditangani petugas Polsek Singosari. Dibantu tim identifikasi Polda Jatim, siang kemarin petugas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Beberapa barang bukti seperti lakban, tali rafia yang digunakan menyekap diamankan. Dua pasang sandal yang diduga milik pelaku ikut diamankan. Perampokan sendiri, terjadi sekitar pukul 00.30. Pelaku diketahui berjumlah tujuh orang. Selain menggunakan cadar, mereka juga menghunus celurit dan parang.
“Hanya satu pelaku yang tidak memakai cadar,” ujar Yani, menantu Purwadi. Para pelaku ini, masuk ke dalam rumah dengan memanjat tangga di samping rumah. Kemudian mereka menuju ke lantai dua. Untuk masuk ke dalam rumah, pelaku mencongkel jendela kamar kosong. Selanjutnya, mereka turun ke lantai satu.  Kemudian lewat tangga lainnya, pelaku menuju ke lantai dua. Isnania, 49 tahun, istri Purwadi, yang saat itu nonton televisi dilumpuhkan. Kedua kaki serta tangan ibu lima anak ini, diikat dengan tali raffia. Mulutnya juga dilakban. Setelah itu pelaku menuju ke kamar Purwadi. “Bapak saat itu sempat dengar keributan di ruang tengah, ketika mau lihat keluar kamar untuk sudah dihadang pelaku. Kepala bapak sempat dipukul dengan gagang celurit, dan pahanya dipukul dengan parang. Setelah itu, bapak langsung disekap di kamar,” terang Imam Khoirul, anak kedua korban yang tinggal di Pandaan.
Usai menyekap Purwadi dan istrinya, pelaku lalu menuju ke kamar Nia Pranita Sari, 27 tahun, anak ketiga korban. Namun Nia tidak sampai disekap, karena Devan, 1 tahun, anaknya menangis. Pelaku hanya meminta Nia untuk mendiamkan anaknya, dan mengunci dari luar. Sedangkan pelaku lainnya, menyekap anak sulung korban, Kartika Dewi Agustina, 16 tahun.
“Mereka juga mengancam akan membunuh dan memperkosa adik saya, kalau sampai melawan dan berteriak,” tutur suami Yani ini.
Setelah seluruh penghuni rumah dilumpuhkan ini, pelaku langsung menjarah beberapa barang berharga. Diantaranya uang untuk pembayaran semen sebesar Rp 45 juta, beberapa perhiasan emas seperti gelang, kalung, cincin dan anting-anting, enam buah HP, sepeda motor Honda Revo dan mobil pick up Mitsubishi. Begitu semua barang berhasil dikuasi, pelaku langsung kabur lewat pintu garasi depan. Tak lama setelah pelaku kabur ini, Kartika berusaha melepaskan diri. Dia merangkak ke dapur untuk mengambil gunting yang kemudian melepasi ikatannya. Baru setelah itu melepaskan ikatan orangtuanya dan melapor ke Polsek Singosari. “Masih kami selidiki. Dugaan kami mereka ini adalah pelaku lama yang beraksi lagi,” terang Kapolsek Singosari, AKP Arif Eko Prasetyo.
Sementara itu, informasi yang diperoleh dari beberapa sumber, sebelum kejadian perampokan, biasanya setiap hari di gardu (pos) di depan rumah korban ini sering dijadikan tempat berkumpulnya beberapa pemuda. Mereka tidak hanya nongkrong, tetapi juga sering mengadakan pesta minuman keras. Dan kebetulan, saat kejadian dini hari kemarin kondisi pos tersebut sepi. Tak ada satupun pemuda yang ada di dalam pos tersebut. “Namun sekitar pukul 21.00, ada dua orang laki-laki yang duduk di depan rumah korban,” ujar salah satu sumber di lokasi kejadian. (agp/mar)