Handoko Kabur ke Jawa Tengah

Dua Teman Sekolah Terlibat
KEPANJEN- Dugaan bahwa Handoko, 16 tahun, jadi pembunuh Cahyani Elis Susanti, teman sekolahnya mendekati kenyataan. Tim khusus mencium keberadaan pemuda asal Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang ini berada di Jawa Tengah. Hal ini ditegaskan Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, kemarin saat jumpa pers keberhasilan anggotanya melakukan operasi pekat. Menurut dia, Handoko kabur bersama dua teman sekolahnya di SMK PGRI Singosari. “Dia kabur ke Jawa Tengah bersama dua temannya yang satu sekolahan,” tegas mantan penyidik KPK itu. Namun, dia merahasiakan lokasi kaburnya siswa kelas X ini dengan alasan beberapa anggotanya masih melakukan pengejaran ke sana. “Yang penting, keberadaannya saat ini sudah diketahui oleh tim khusus. Beri kesempatan tim penyidik untuk bekerja. Takutnya kalau kita sebutkan, nanti yang bersangkutan malah kabur,” ujarnya.
Namun dia menjelaskan, keberadaan Handoko ini diketahui setelah penyidik Satreskrim Polres Malang bekerja ekstra keras mengumpulkan keterangan dari para saksi. Menurutnya, ada sejumlah keterangan saksi-saksi dari teman satu sekolah Handoko di SMK PGRI Singosari, menyebutkan berada di Jawa Tengah. “Selain itu, keberadaan yang bersangkutan diketahui setelah saya lakukan evaluasi Senin lalu,” kata pria murah senyum ini. Dia membantah tim penyidik saat ini kesulitan untuk menangkap Handoko serta mengungkap kasus ini. Hanya saja, katanya, memang dibutuhkan waktu untuk menyelesaikan kasus yang pelik ini. “Kata sulit itu sebenarnya tak ada. Hanya saja, semuanya butuh proses serta tahapan yang harus dijalani oleh tim penyidik. Ya semoga yang bersangkutan segera tertangkap dan kasus ini secepatnya bisa terselesaikan,” harap Deriyan, sapaannya.
Menurut sumber Malang Post di Polres Malang, Handoko kabur ke Jawa Tengah. Minggu (14/3) lalu. Dia sengaja kabur karena sudah tidak nyaman kabur dari rumahnya usai melakukan pembunuhan. Pihaknya juga berkeyakinan bila SMS yang dikirim ke keluarganya melalui nomor ponsel Handoko, hanyalah bohongan belaka. “Itu hanya alibi dia agar terkesan juga menjadi korban penculikan orang tak dikenal. Anda tahu bahwa kejahatan itu tidak ada yang sempurna,” kata sumber ini. Seperti diketahui, Seperti diketahui, setelah hilang selama 22 hari, Yani, panggilan korban ditemukan hanya tinggal jadi kerangka di dasar jurang Pegunungan Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang, Rabu (27/3) siang. Itupun dengan kondisi tidak utuh dan berserakan di areal latihan militer Kodam V/ Brawijaya tersebut. Identitas terungkap dari barang-barang yang ditemukan di sekitar TKP, yakni ponsel merek Cross, jaket berpenutup kepala warna abu-abu, pakaian dalam, pakaian berwarna krem bergaris hitam dan celana ¾ warna biru. (big/mar)