Suami Istri Iklankan Sex Live Show

Sex live show biasanya mempertontonkan tarian erotis atau tarian telanjang (striptease). Tapi di tangan Tommy, dua orang yang sedang bersetubuh atau berhubungan intim bisa dijadikan sebuah live show. Ironisnya, itu dilakukan Tommy sendiri bersama istrinya, Devi, 28 tahun. Namun sex live show tersebut tak bertahan lama karena polisi keburu mengendus dan mengamankan keduanya. “Kasus ini bermula dari iklan pijat di sebuah koran harian,” kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Anom Wibowo. Dijelaskannya, 22 Maret 2013 lalu. Tommy memasang iklan di sebuah surat kabar harian. Dalam iklan itu Tommy yang mengaku mempunyai sebuah panti pijat bernama Kevin dan Devi mampu menyediakan seorang pemijat perempuan keturunan yang putih dan bersih. Dalam iklannya, Tommy tak lupa mencantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Gayung pun bersambut, banyak calon pelanggan yang menghubungi pria 32 tahun itu.
Namun kepada calon pelanggan, Tommy menjelaskan jika bukan Chinese Massage yang ditawarkan, tetapi pertunjukan adegan intim yang bisa dilihat secara langsung. “Banyak yang menolak tetapi ada juga yang antusias dan penasaran," tambah Anom. Kepada yang berminat, Anton memasang tarif Rp 850.000. Pertunjukan dilakukan di sebuah hotel yang harus dibayar pelanggan. Dalam pertunjukan tersebut, pasangan suami istri (pasutri) ini berhubungan badan di atas ranjang. Sementara pelanggan dengan bebasnya melihat mereka berhubungan intim. Pertunjukan itu dibatasi selama 20 menit. Polisi yang mendapati informasi adanya pertunjukan tak lazim tersebut segera bertindak. Mereka berpura-pura tertarik dan ingin melihat. Saat bertransaksi di Hotel V3 di Jalan Tambak Bayan, Tommy dan Devi diamankan.
“Tersangka mengaku sudah dua kali melayani pelanggan,” ungkapnya. Kepada wartawan, Tommy mengaku terpaksa melakukan hal tersebut atas desakan ekonomi. Pekerjaannya sebagai pengumpul kertas dan kuli angkut tak mencukupi kebutuhan istri dan dua anaknya. Apalagi salah satu anaknya hendak masuk sekolah. Tommy mengaku ide adegan ranjang yang ditampilkan secara live itu datang dari dirinya sendiri. Warga Gubeng tersebut awalnya merasa risih saat melakukannya. Apalagi istrinya awalnya juga menolak. Tetapi karena desakan ekonomi yang begitu kuat, mereka mau tak mau harus melakukannya di hadapan mata yang menontonnya. (dk/mar)