Lengkap, Tak Ada yang Hilang

SINGOSARI- Tudingan polisi bahwa dua siswa SMK PGRI Singosari, ikut kabur bersama Handoko, diduga pelaku pembunuhan terhadap Cahyani Elis Susanti, ditampik sekolah itu. Tudingan tersebut dianggap tidak beralasan. Sebelumnya, pemuda asal Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang ini dikatakan Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, kabur ke Jawa Tengah bersama dua teman sekolahnya. Kepala SMK PGRI Singosari, Bagyo SPd menjelaskan, hingga saat ini muridnya yang diketahui tidak masuk sekolah hanya Yani, panggilan korban pembunuhan dan Handoko. “Kalau kata polisi, Handoko lari bersama dua murid kami lainnya, saya rasa tak mungkin. Dilihat dari presensi, hanya Handoko dan Yani saja yang tak masuk sejak lama,” ungkapnya.  Kalaupun ada dua siswanya turut serta dalam pelarian Handoko itu, mestinya dua siswanya itu tak terlihat di sekolahan. “Faktanya, siswa kami yang lainnya saat ini masih lengkap dan tak ada yang hilang,” tegasnya.
Dia menyebutkan, saat ini SMK PGRI Singosari tercatat mempunyai 800 siswa.  Berkurangnya Handoko dan Yani, siswanya hanya tinggal 798 orang. “Saat ini, 798 siswa kami tak ada absen cukup lama. Kalau ada yang absen satu dua hari itu biasa. Mungkin karena sakit,” terangnya. Dia sendiri belum menemukan satupun siswanya yang terindikasi terlibat dengan kasus ini, termasuk pelarian Handoko.  “Setelah diperiksa polisi, Anin (siswi SMK PGRI Singosari) juga bilang kepada kami, bahwa mereka terakhir terlihat di depan pintu masuk, areal latihan militer Kodam V/ Brawijaya. Jadi saya tak tahu polisi dapat keterangan darimana mengenai perihal kaburnya Handoko ke Jawa tengah. Termasuk keterangan yang menyebut Handoko terlihat di Karanglo,” tanyanya.
Bagyo menduga penyidik kepolisian mendapatkan keterangan yang menyebutkan Handoko kabur ke Jawa Tengah, saat memintai keterangan di luar sepengetahuan pihak sekolahan. Hanya saja, selama ini kepolisian selalu memberitahukan kepada sekolah, bila akan memintai keterangan terhadap siswanya.  “Terakhir Sabtu (30/3) lalu, polisi meminta izin ke kami untuk memeriksa siswa. Saat itu, dua orang siswa kami diajak menuju TKP. Setelah itu, kami tak dihubungi oleh kepolisian lagi. Ya mungkin bisa saja kepolisian memintai keterangan, di luar sepengetahuan kami,” lanjut pria ini. Namun, sejurus kemudian, Bagyo mengaku membenarkan bila Handoko kabur dengan temannya ke Jawa Tengah.  “Sebenarnya, ada dua siswa kami kelas XI yang pindah ke sekolah ke Bali, dua bulan lalu. Tapi keliatannya tak mungkin Handoko dengan keduanya, lantaran selain beda kelas dan memang tak kenal,“ tandasnya. (big/mar)   

Minta Bantuan Polda Jawa Tengah
PERBURUAN terhadap Handoko, boleh dikatakan tidak main-main. Pemuda berusia 16 tahun yang diduga kuat terlibat dalam pembunuhan terhadap Cahyani Elis Susanti yang menjadi kerangka di dasar jurang Gunung Ringgit, Dusun Ngandeng, Desa Sidodadi, Lawang (27/3) lalu, kini dikejar dua tim polisi beranggotakan 13 personil. Menurut Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, tim dibagi menjadi dua. Yakni tim penyelidikan dan tim penyidikan. Tim penyidikan dipimpin Kanit Idik IV Satreskrim Polres Malang, Ipda Sutiyo SH Mhum sedangkan tim penyelidikan dibebankan kepada anggota Buru Sergap (Buser) Satreskrim Polres Malang, Aiptu Anwar.
“Fokus kami saat ini memang untuk menangkap pelaku yang diketahui sudah kabur. Tugas itu yang dibebankan kepada Ipda Sutiyo. Sedangkan yang lainnya, fokus memintai keterangan para saksi serta mengumpulkan alat bukti lainnya, yang mungkin tersisa atau tertinggal,“ ujar mantan Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini. Lantaran Handoko diketahui kabur ke wilayah hukum lain, membuat penyidik Polres Malang meminta bantuan Polda Jateng. “Pasti kami meminta bantuan kepada kepolisian wilayah lain, dimana saat ini pelaku berada. Untuk perkembangannya saat ini sejauh mana, saya masih menunggu informasi dari tim yang sudah bergerak,” jelas Deriyan.
Dia mengatakan, tak memberikan target khusus kepada tim penyidik untuk menangkap pemuda ini. Lantaran menurutnya, dikhawatirkan kinerja penyidik tak berjalan maksimal bila dia memberikan target waktu yang harus terselesaikan. “Yang penting hasilnya dapat terealisasikan dengan dapat menangkap pelakunya. Kalau terburu-buru nanti, malah hasilnya tak maksimal. Bisa jadi pelaku malah kabur lagi ke daerah lainnya,” ucap pria murah senyum ini. Namun, dia pun berkomitmen serta menyelesaikan kasus ini dalam tempo sesingkat-singkatnya. “Saya kasihan melihat kondisi keluarga korban yang ingin tahu siapa pelakunya,” pungkas dia. (big/mar)