Malang Post

You are here: Kriminal Kacang Lupa Kulitnya

Kacang Lupa Kulitnya

Share
HARI  kemarin, tanggal 5 April 2013, saya terhenyak membaca sebuah iklan politik yang berjiwa kerdil. Ya, betapa saya disajikan sebuah arogansi yang tampak jelas dalam iklan tersebut. Bagi orang-orang di luar kader DPC PDI Perjuangan Kota Malang, mungkin iklan tersebut tampak seperti sebuah pengumuman, tentang pemecatan Drs. Peni Suparto, M.AP., Dra. Heri Pudji Utami, M.AP., dan Wijianto, Amd., dari keanggotaan PDI Perjuangan Kota Malang.
Dalam iklan tersebut, diberikan nomer surat dari masing-masing personal yang dinyatakan dipecat oleh DPP PDI Perjuangan. Dan menurut nomer surat tersebut, terlihat bahwa surat pemecatan dikeluarkan pada bulan Maret 2013. Pertanyaannya adalah, kenapa surat tersebut baru diumumkan ke publik pada saat ini, yaitu bulan April dan setelah penetapan nomer urut pasangan calon Pilkada? Apa maksud tersembunyi dari iklan/ pengumuman tersebut melalui media massa? Apa korelasi iklan/ pengumuman tersebut terhadap kondisi riil dilapangan DPC PDI Perjuangan Kota Malang? Apa ada udang di balik batu busuk?
Sejauh yang saya ketahui, sebelum keluarnya surat pemecatan tersebut, juga telah dikeluarkan surat yang berisi ‘penon-aktifan’ Drs. Peni Suparto, M.AP. sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, dan digantikan oleh Edy Rumpoko sebagai Ketua Pelaksana Harian DPC PDI Perjuangan Kota Malang.
Selain itu, juga dikeluarkan surat yang berlaku sama terhadap Wijianto sebagai Sekertaris DPC PDI Perjuangan Kota Malang, digantikan oleh Priyatmoko.
Pertanyaannya adalah, apa dasar pengeluaran surat ini? Apa kontekstualisasi munculnya surat tersebut dengan dinamika internal DPC PDI Perjuangan Kota Malang? Bukankah tampak jelas arogansi politik yang tersaji dalam latar belakang munculnya surat tersebut?
Bagi kader PDI Perjuangan Kota Malang yang cerdas dan kritis, tentu dapat membaca dengan jelas intrik-intrik politik yang terjadi dibelakang penon-aktifan Pak Peni dan Wijianto. Dan kenapa surat penon-aktifan tersebut tidak ikut diumumkan ke publik? Kenapa tidak memberikan penjelasan yang detail, terkait kronologis dan rasionalisasi yang melatar belakangi keluarnya surat tersebut? Apa takut terbaca segala intrik politik busuk yang sedang terjadi?
Bagi kader PDI Perjuangan Kota Malang yang paham dan mengerti sejarah berdirinya DPC PDI Perjuangan Kota Malang, tentu dapat melihat dengan jelas adanya drama “Kacang Lupa Kulitnya” yang tersaji dalam dinamika politik internal di tubuh DPC PDI Perjuangan Kota Malang.
Ya, demi ambisi kuasa pribadi, demokrasi yang berakar dari bawah, mulai dari tingkat kader Anak Ranting, Ranting, PAC dan Cabang, telah dikalahkan oleh loby-loby politik tingkat elite. Suara kader dari bawah, dibantai habis oleh arogansi DPP PDI Perjuangan karena pengaruh loby politik tingkat elite. Apa yang sudah menjadi keputusan bersama, dari musyawarah tingkat Ranting, PAC dan Rakercabsus, bisa dikalahkan oleh “Politik Rekomendasi” yang berdasar logika loby politik yang tidak rasional dan menolak suara kader dari bawah.
Bung Karno pernah berkata, “JAS MERAH! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”. Ya, mari kita kembali menengok sejarah berdirinya DPC PDI Perjuangan Kota Malang. Serta bagaimana perjuangan Pak Peni dan Bunda Heri dalam hidup menghidupi DPC PDI Perjuangan Kota Malang? Lalu, kita semua harus bisa berpikir dengan jernih dan bijaksana, siapa sesungguhnya yang berkhianat? Siapa yang sesungguhnya hanya memenuhi ambisi kuasa pribadi? Siapa yang sesungguhnya menjadi perusak PDI Perjuangan Kota Malang? Dan terakhir, siapa sesungguhnya yang jasanya paling besar dan bermakna bagi PDI Perjuangan Kota Malang? Lantas, layakkah orang-orang yang sudah berjuang penuh dengan pengorbanan dijadikan “tumbal” demi ambisi kuasa pribadi kader-kader yang hanya mengejar kursi dan kekuasaan semata? Lantas, siapa sesungguhnya yang telah didzalimi?
Pagi itu, setelah saya membaca iklan politik yang tidak cerdas tersebut, saya menelpon Pak Peni. Saya menanyakan apakah Beliau sudah mengetahui perihal iklan politik tersebut. Dengan nada kalem, Pak Peni menjawab, “Ya, saya sudah tahu. Dan saya yakin, bahwa Mas Harsono tahu, demi berdirinya PDI Perjuangan Kota Malang, segenap jiwa dan raga saya telah menjadi nafas hidupnya. Saya sudah ihklaskan apapun yang terjadi. Ini adalah dedication of life yang sepenuhnya saya persembahkan bagi PDI Perjuangan.” Dengan jawaban dari Pak Peni tersebut, saya secara pribadi telah menilai bahwa Pak Peni memang telah layak menjadi begawan politik yang dibesarkan dengan “bulat-utuh” dari Rahim PDI Perjuangan. (advertorial)

*) Ketua Badiklat DPC PDI Perjuangan Kota Malang
comments

Comments

 
0 #7 penegak keadilan 2013-04-18 01:41
Justru Peni Yang Lupa Kacang Pada Kulinya karena ingin MEMBANGUN POLITIK DINASTI yang merusak tatanan negara.
Peni Suparto 10 tahun jadi walikota setelah tidak bisa maju lagi istrinya (Heri Puji Utami) disuruh maju menjadi walikota Malang.
Memangnya Kota Malang ini kerajaan.
Saya setuju apabila DPR RI merancang UU tentang syarat menjadi Kepala Daerah agar bisa MENGHAPUS POLITIK DINASTI yang saat ini dilakukan Peni Suparto
Quote
 
 
0 #6 bambang gw 2013-04-14 09:28
komentar mas harsono sangat tidak obyektif krn klu benar-benar memahami seharah beridirinya PDI Perjuangan sejak awal aku sangat terlibat aktif dengan berbagai resikonya tapi ketika aku digeser oleh saudara peni saat itu kenapa anda tak ada komentar sama sekali??? aku pikir DPP PDI Perjuangan telah mengambil sikap dengan berbagai pertimbangan dan itu adalah keputusan organisasi tertinggi partai coba bandingkan dengan kondisi saat aku tiba-tiba dinonaktifkan tidak adan selembar surat keputusan apapun dari DPP PDI Perjuangan...Bicara sejarah haruslah kita lebih obyektif dan realistis jangan subyektif begitu!!!
Quote
 
 
0 #5 Eddy 2013-04-10 05:49
Naif dan banyolan jika mengatakan tidak pindah partai tapi mencalonkan istri melalui partai lain.

Jika berani menentang keputusan partai kenapa takut dan curhat sewaktu dipecat
Quote
 
 
0 #4 Pikal 2013-04-09 14:20
Mas Prayitno, siapa yang memaksa Istri Pak Peni maju Walikota? Apa Mas Prayitno tahu dinamika politik di internal DPC PDI Perjuangan Kota Malang?

Mas Eddy, apakah Pak Peni pindah partai? Apakah Mas Wijianto juga pindah partai? Sehingga harus dipecat?
Quote
 
 
0 #3 lastri 2013-04-09 10:15
serahkan saja nomer 3 ke SR-MK(sampai kpn pun SR-MK cocok nomer 3.....), yg juara tetap Bunda...hahahahhhh
Quote
 
 
0 #2 prayitno 2013-04-09 05:52
membuka aib sendiri kacang lupa kulitnya, siapa kalau bukan peni soeparto dulu bagaimana kondisis peni sebelum menjadi walikota, setelah menjadi walikota sekarang kaya raya masih haus kekuasaan istrinya di paksa maju walikota, kontrisbusi terhadap partai mana selama menjadi walikota suara pdi perjuangan justru turun dratis, dari 17- 12- 9 kursi dewan yang di dapat. apa ada inentaris partai yang di berikan kepada partai tanpa pdi perjuangan tidak akan jadi walikota, kekuasaan ada batasnya, kejayaan seseorang ada waktunya kapan dia akan di atas kapan dia akan di bawa, hukum karma akan berlaku,siapa yang lupa dan siapa yang ingat waktu akan menjawabnya
Quote
 
 
0 #1 Eddy 2013-04-09 04:24
:-) dalam sebuah organisasi harus taat pada komando. Jangan hanya untuk melanggengkan kekuasaannya, harus dilihat kepentingan lebih besar.

Jika memakai perumpamaan kacang lupa kulitnya : berarti harus di lihat juga bagaimana seseorang itu bisa menjadi walikota , tentu pada awalnya pasti di besarkan partai.

Hal biasa jika seseorang pindah partai atau di calonkan partai lain kemudian di pecat. Tdk perlu di dramatisir.
Quote
 

This content has been locked. You can no longer post any comment.