Kerangka Handoko Ditemukan

LAWANG– Handoko, 16 tahun, pemuda yang dicurigai menjadi pembunuh Cahyani Elis Susanti, 16 tahun, warga Dusun Morotanjek, Desa Purwoasri, Singosari akhirnya ditemukan. Namun, bukannya ditemukan di Jawa Tengah seperti yang diperkirakan polisi, namun warga Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Lawang ini ditemukan dalam kondisi sudah menjadi kerangka di tengah kebun tebu wilayah Gunung Ringgit, Dusun Pilang, Desa Sidodadi, Lawang. Kerangka itu, ditemukan sekitar jarak dua kilometer dari ditemukannya kerangka Yani, panggilan korban pembunuhan, Rabu (27/3) lalu. Untuk memastikan identitas kerangka ini, petugas Polsek Lawang dan Satreskrim Polres Malang membawanya ke kamar mayat RSSA Malang. Selain kerangka, polisi juga menemukan beberapa pakaian dan sebuah cincin yang terbuat dari monel.
Semalam, polisi mendatangkan orang tua Handoko, yakni Ngateno dan Rusmini ke kamar mayat. Informasi yang didapat Malang Post, Rusmini meyakini kerangka itu adalah anaknya yang bersekolah di SMK PGRI Singosari dari barang-barang yang ditemukan. Yakni celana jeans ¾ warna biru merek Macbeth, lengkap dengan sabuk warna cokelat, celana dalam warna merah muda, sebuah cincin perak (monel) serta kaos warna putih abu-abu. Menurut Rusmini, pakaian tersebut mirip dengan pakaian yang kali terakhir dipakai Handoko. “Iya pak, itu pakaian dan cincin anak saya,” katanya kepada polisi. Terpisah Kepala Dusun Blendongan, Purnomo menyatakan bahwa ciri-ciri pakaian yang ditemukan masih terpakai di kerangka laki-laki tersebut sama dengan milik Handoko. “Kalau dari keterangan orangtuanya, terakhir Handoko memakai memang memakai kaos putih dengan celana jeans ¾,” ujar dia.
Namun versi polisi, mereka enggan menyimpulkan bila kerangka itu dinyatakan sebagai Handoko yang tercatat sebagai siswa kelas X tersebut. Pasalnya, butuh pengecekan yang lebih mendalam seperti tes DNA dari kedua orang tuanya.  “Kami masih belum memastikan dan menyimpulkan bahwa kerangka itu adalah Handoko. Apa juga ada kaitannya dengan penemuan kerangka pada 27 Maret lalu juga masih belum tahu. Masih harus perlu pembuktian terlebih dahulu. Untuk sementara identitasnya masih Mr X,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah. Sumber lain dari Polres Malang mengungkapkan, jika memang benar kerangka tersebut adalah Handoko, maka dugaan pihaknya bila Handoko masih hidup dan sedang berada di Jawa Tengah mbleset.
“Fakta itu menepis dugaan bahwa Handoko  adalah pelaku pembunuhan terhadap Yani. Ini juga akan mengerucutkan bahwa ancaman penculikan yang meminta uang tebusan sebesar Rp 50 juta kepada orangtua Handoko benar-benar terjadi,” terang sumber yang wanti-wanti disebutkan namanya ini. Dia mengakui, bahwa keterangan tentang Handoko yang terlihat di daerah Karanglo, Singosari dan kabur ke Jawa Tengah, sifatnya hanyalah informasi. “Itupun masih perlu dicek ke keluarganya,” tegas dia.  Penemuan kerangka manusia yang sempat menggemparkan warga sekitar ini, terjadi sekitar pukul 12.30. Adalah Widianto alias Wito, 42 tahun, warga sekitar yang kali pertama menemukannya. Siang itu, dia sedang mencari rumput di sekitar kebun tebu. Ketika merumput itu, dia mencium bau tak sedap. Ketika ditelusuri dan dicari, ternyata adalah kerangka manusia. Saksi pun langsung memberitahukan kepada Juwoto, kakaknya yang bekerja sebagai satpam di PT. Molindo dan dilanjutkan ke perangkat desa. Setelah dipastikan benar kerangka manusia, mereka langsung melapor ke Polsek Lawang.
“Satu minggu lalu, ketika saya mencari rumput sudah bau tak sedap. Saya mengira adalah bangkai hewan. Ternyata saat tadi mencari rumput masih bau, dan setelah saya cari akhirnya menemukan kerangka manusia,” terang Widianto alias Wito. Polisi yang mendapat laporan itu, langsung mendatangi lokasi kejadian. Dibantu Tim SAR PMI Kabupaten Malang, selama empat jam, anggota Identifikasi Satreskrim Polres Malang melakukan olah TKP dan mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan. (agp/mar)