Sahabat Karib Sama-Sama Masuk Bui

DITAHAN :  Eli Purnomo dan Edi Setiawan di Mapolsekta Lowokwaru.

MALANG– Dua sahabat karib, Eli Purnomo, 25 tahun dan Edi Setiawan, 20 tahun, sejak akhir pekan lalu meringkuk di balik sel Polsekta Lowokwaru. Keduanya yang diketahui warga Jalan Simpang Akordion, Malang dan Jalan Ikan Gurami Malang ini, ditahan karena melakukan pengeroyokan terhadap Muhammad Nur Abidin, 26 tahun, warga Jalan KH Yusuf Malang. Mereka diamankan di lokasi kejadian, sesaat setelah melakukan pengeroyokan. Korban sendiri yang menjadi korban pengeroyokan, mengalami luka memar di wajah dan kepalanya. “Sebelum kami amankan dan dibawa ke Polsekta Lowokwaru ini, mereka terlebih dahulu diamankan oleh warga yang melerai. Baru setelah kami mendapat laporan, anggota langsung datang ke TKP dan mengamankan keduanya,” ungkap Kapolsekta Lowokwaru, Kompol Bayu Indra Wuguno.
Aksi pengeroyokan sendiri, terjadi Sabtu malam lalu sekitar pukul 23.00. Sebelum kejadian, kedua tersangka terlebih dahulu pesta minuman keras di rumah Edi. Setelah kondisinya mabuk, keduanya pergi mencari makanan pangsit mie ayam di Jalan KH Yusuf Malang dengan berboncengan sepeda motor. Begitu tiba di warung pangsit, Eli langsung turun dari motor yang memesan pangsit. Sedangkan Edi sendiri, menunggu di atas motor. Ketika sedang menunggu dilayani inilah, tiba-tiba datang korban, yang juga hendak membeli pangsit.
Mungkin karena saat mau parkir terhalang dengan sepeda motor milik tersangka, korban yang tersinggung langsung berkata kasar. Kata-kata korban itu ternyata justru menyinggung perasaan Edi. Pria yang tubuhnya penuh lukisan tato ini, lantas memberitahukan kepada Eli. Saat diberitahu, emosi Eli terpancing juga. Akhirnya keduanya sepakat menunggu korban pulang. Begitu pulang, keduanya lalu mengikuti korban. Ketika sampai di depan rumahnya, tanpa banyak bicara mereka langsung mengeroyok korban. Pengeroyokan baru berhenti setelah warga datang untuk melerai. Warga langsung mengamankan kedua tersangka, yang selanjutnya menghubungi petugas Polsekta Lowokwaru. “Kami hanya tersinggung dengan kata-kata kasarnya,” kata Edi. (agp/mar)