Gelapkan Puluhan Libom, Legislator Dipolisikan

KORBAN : Fauzi Akbar (dua dari kiri), Syamsul Ramli, H Nur Kholiq dan Fahris Afandi, saat lapor ke polisi.

KEPANJEN – Satu lagi anggota DPRD Kabupaten Malang, bakal tersandung hukum. Setelah HM Suhadi SE MAP, anggota Komisi A yang dilaporkan dengan tuduhan penggelapan mobil dan sudah ditetapkan sebagai tersangka, kemarin giliran H Yazidul Choir, S.Sos yang juga dari Komisi A dari partai PPP yang diadukan ke Polres Malang. Tuduhannya sama, yaitu penggelapan mobil.
Hanya saja, yang menjadi pelapor atau korbannya berbeda. Jika Suhadi, dilaporkan oleh Suratman, sedangkan Yazidul Choir, warga Jalan Letjend S Parman, Kecamatan Gondanglegi ini, diadukan oleh empat orang. Salah satunya adalah Wakil Ketua DPC PPP Kabupaten Malang, Fauzi Akbar.
‘’Sebetulnya hari ini (kemarin sore, Red.) pengaduan penggelapan mobil itu kami buat. Tetapi karena berkas masih belum lengkap dan diminta harus dilengkapi dulu, paling lambat Senin akan kami buat pengaduan resmi,’’ Fauzi Akbar, warga Cepokomulyo Kepanjen ini, saat ditemui di Polres Malang.
Bukti-bukti yang harus disertakan adalah  perjanjian sewa dan kwitansi-kwitansi. Meski mereka belum melaporkan secara resmi, tapi secara lisan, kasus itu sudah dilaporkan ke polisi.
‘’Tetapi kalau Pak Syamsul dan H Nur Kholiq ini, sudah bisa laporan resmi ke Polres Malang Kota. Karena bukti-bukti sudah lengkap dan TKP penyerahan mobil ada di Kota Malang. Kemungkinan besok (hari ini, Red) akan dilaporkan secara resmi,’’ kata Fauzi.
Tiga korban lain yang kemarin mendampingi Fauzi Akbar, diantaranya Syamsul Ramli, 54 tahun, warga Perum Bumi Mondoroko Raya, Kelurahan Watu Gede Singosari, pemilik mobil rental Maha Jaya Tour & Travel. Lalu, H Nur Kholiq, 42 tahun, warga Jalan IR Rais, Kelurahan Tanjungrejo – Sukun, pemilik travel Batu Trans. Dan Fahris Afandi, 35 tahun, warga Dusun Selobekiti, Desa Plandi, Kecamatan Wonosari.
Dalam keterangannya, Fauzi Akbar mengatakan, dirinya telah tertipu satu unit kendaraan Nexium tahun 2010. Kendaraan tersebut disewa oleh Yazidul pada Agustus 2012. Akadnya, kendaraan itu disewa dengan biaya sewa Rp 400 ribu per bulan. Tetapi sampai sekarang kendaraan tidak dikembalikan.
‘’Bilangnya hanya pinjam sebulan, tetapi sampai sekarang tidak dikembalikan. Biaya sewa hanya dibayar sekali saja,’’ ujar Fauzi. Selain kendaraan, sertifikat tanah seluar 1.200 M2 yang berlokasi di Gunung Kawi, menurut Fauzi, juga digelapkan pada tahun 2012 lalu. ‘’Dulu katanya mau dijualkan. Tapi sampai sekarang malah tidak ada kabarnya,’’ sambungnya.
Sedangkan Syamsul Ramli sendiri, mengaku ada 13 unit mobil yang awalnya digelapkan oleh Yazidul. Seluruh mobil itu digelapkan setelah sebelumnya disewa mulai 2010 sampai Juni 2012. Dengan biaya sewa untuk jenis Avanza Rp 5,2 juta per bulan dan Xenia Rp 4,5 juta per bulan.
Namun kenyataannya, mobil yang dipinjam dengan alasan keperluan partai itu, malah digadaikan oleh Yazidul kepada orang lain. Akibatnya Syamsul sendiri yang harus menanggung kerugiannya. Sebab mobil yang disewakan kepada Yazidul itu adalah mobil titipan.
‘’Dari 13 unit mobil itu, 11 diantaranya sudah kembali. Itu saya sendiri yang menarik dari orang yang menerima gadai. Total biaya untuk menarik mobil habis Rp 30 juta. Sedangkan untuk dua unit mobil yang belum kembali yaitu Xenia N 1338 B dan Avanza N 1464 XD. Jika ditotal semua kerugian yang saya alami sekitar Rp 257 juta,’’ terang Syamsul, sembari mengatakan untuk menutupi kerugiannya itu dia harus menjual rumahnya.
Apakah tidak ada upaya penagihan? Syamsul mengatakan, usaha untuk menagih sudah sering dilakukan, bahkan hampir setiap hari. Namun yang diterima hanya janji dan surat pernyataan perjanjian. ‘’Sudah ada beberapa surat perjanjian. Tetapi yang tanda tangan bukan Yazidul, melain keluarganya. Mulai 30 September 2012, 30 Oktober 2012, 4 Nopember 2012 dan 30 Nopember 2012. Faktanya sampai sekarang, tidak ada wujudnya,’’ paparnya.
Begitu juga dengan H Nur Kholiq, dia mengatakan ada 8 unit mobil yang digelapkan oleh Yazidul sejak 2010. Modusnya juga sama, yaitu menyewa mobil dengan sistem sewa bulanan. Tetapi faktanya setelah disewakan mobil malah digadaikan.
‘’Dari delapan mobil, 5 unit sudah kembali. Itupun juga saya sendiri yang menarik dari orang penerima gadai. Sedangkan 3 unit mobil sampai sekarang belum tahu. Yaitu jenis Espass, Xenia dan Avanza. Dan jika ditotal kerugian yang saya alami, sekitar Rp 250 juta,’’ jelas Nur Kholiq.
Sedangkan Fahris Efendi sendiri, mengatakan ada 1 unit mobil Xenia N 1653 DU yang digelapkan. Mobil dikatakan disewa oleh Yazidul pada 5 Januari 2012 lalu dan akan dikembalikan pada 15 Februari 2012 dengan biaya sewa Rp 6 juta. Tetapi sampai sekarang mobil tidak dikembalikan.
Selain mobil, dikatakan Fahris, juga ada tiga sepeda motor jenis Yamaha Mio dan Honda Beat, yang dipinjam pada Nopember 2012. ‘’Namun dari tiga motor itu, hanya satu yang dikembalikan. Sedangkan dua lainnya digadaikan kepada orang lain sebesar Rp 5 juta. Akibatnya saya sendiri yang harus menebusnya,’’ katanya.
Dengan kejadian itu, mereka berempat sebenarnya sudah berusaha mencari keberadaan Yazidul. Baik di gedung DPRD, di kantornya ataupun di rumahnya. Tetapi tidak pernah ketemu. Keempatnya justru malah ditemui oleh Ahmad Suhur, yang dikatakan sebagai kerabat sekaligus juru bicara dari keluarga Yazidul.
Tetapi pertemuan beberapa kali itu, tidak membuahkan hasil. Hanya janji-janji untuk mengembalikan. Yaitu pada 27 Maret 2013, lalu mundur 31 Maret 2013, dan mundur lagi 5 April 2012 dan sekarang diundur lagi dijanjikan 25 Maret 2012.
‘’Karena hanya janji-janji itulah, akhirnya kami sepakat untuk melaporkannya. Meski sebelumnya kami sudah diintimidasi untuk tidak melaporkan ke polisi. Jika melaporkan ke polisi uang kami tidak akan dikembalikan. Yang menjadi korban penggelapan, sebenarnya bukan hanya kami, tetapi ada beberapa orang lagi,’’ terang keempatnya.
Terpisah salah satu penyidik Reskrim Polres Malang yang kemarin menerima pengaduan keempat korban ini, membenarkan keempat korban penggelapan itu mau melapor. ‘’Tetapi karena bukti kurang lengkap, saya minta untuk melengkapi. Baru setelah itu membuat pengaduan,’’ katanya.
Sementara itu, hingga semalam Yazidul Choir masih belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi di nomor ponselnya 08123368xxxx tidak aktif. Ketika dihubungi di nomor fleksi 0341-4333xxx meski ada nada sambung, tapi tidak ada respon.
Ketua DPC PPP Kabupaten Malang, Syaiful Efendi ketika dikonfirmasi terkait kasus yang dialami Yazidul, mengaku tidak tahu. Dia justru baru tahu ketika dikonfirmasi oleh Malang Post.
‘’Saya tidak tahu soal itu. Bahkan sejak saya menjabat sebagai pengurus 2 bulan lalu, sampai sekarang belum pernah ketemu dengan Yazidul Choir,’’ katanya.
Namun terkait dengan permasalahan ini, Syaiful mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti dengan memanggil Yazidul Choir, untuk dimintai keterangan. Jika memang benar apa yang dilakukan, bukan tidak mungkin Yazidul akan menerima sanksi.
‘’Apa sanksinya nanti akan kami pikirkan. Tetapi ini kan masih dugaan, karena belum ada ketetapan hukum,’’ tegas Syaiful Efendi. (agp/avi)