Managemen Lalu Lintas Swiss, Negeri yang Diidentikkan Kota Batu (1)

NYAMAN dan AMAN: Bersama wisatawan dari berbagai penjuru dunia, wartawan Malang Post merasa nyaman menikmati monorel di Old Town, Basel, Swiss.

Kemacetan, Jadi Potensi Bisnis Terbarukan

Tempo dulu, orang Belanda memuji keindahan Kota Batu ibarat De Kleine Switzerland (Swiss kecil di Pulau Jawa). Nah, dengan pesatnya perkembangan kota ini apakah sebutan itu masih layak utamanya dari sisi kemacetan akhir pekan ? Hary Santoso Wartawan Malang Post, yang baru melakukan perjalanan di negeri jam tangan itu tertarik model pengaturan lalu lintas di Basel, salah satu kota di Swiss.
 Kemacetan arus lalu lintas di Kota Batu setiap akhir pekan maupun liburan, sebenarnya bukan malapetaka. Sebaliknya, kemacetan itu justru bukti perekonomian di kota sejuk ini, jauh berkembang dibanding sebelumnya. Masalahnya sekarang, tinggal bagaimana me-manage kemacetan itu menjadi sebuah potensi bisnis terbarukan.
Barang kali Pemkot bersama DPRD kota ini, perlu berkunjung ke Basel, Swiss. Meski dikenal sebagai kota industri sekaligus kota wisata, tetapi di Basel tidak pernah mengalami kemacetan. Jutaaan wisatawan domestik dan luar negeri, yang berkunjung tetap merasakan kenyamanan.
Itu karena, pemerintah canton Basel mampu menghubungkan satu titik wisata dengan lokasi wisata lainnya, dengan kereta monorel. Sistem ini memang tidak mungkin atau sulit diwujudkan di Kota Batu, karena kondisi geografisnya. Namun bukan angka mati, masih bisa diganti dengan bus wisata atau paling tidak merealisasikan angkutan wisata yang armadanya tidak segede bus, sebagai sarana pengangkut wisatawan dari obyek satu ke obyek wisata lainnya.
‘’Segala ide atau perubahan, memang sulit diwujudkan. Tetapi, kalau tidak segera dimulai, kamacetan akan menjadi masalah paling komplek di Kota Batu,’’ ujar Djoko Susilo, Duta Besar Swiss untuk Indonesia saat keliling Kota Basel, Swistzerland bersama Malang Post belum lama ini.
Seperti kota-kota lainnya di daratan Eropa, tingkat perekonomian masyarakat Basel yang jumlahnya sekitar 187 ribu jiwa (hampir sama dengan penduduk Kota Batu), sangat berkecukupan. Mereka juga memiliki kendaraan pribadi. Tetapi, karena rapi dan tertibnya monorel di Basel, penduduk setempat lebih banyak memanfaatkan monorel ketimbang mobil pribadi jika bepergian. Utamanya di hari Jumat, Sabtu dan Minggu.
Sedang wisman lokal yang datang dari kota sekitar Basel, seperti Luzern, Bern atau dari Perancis (berjarak 2,5 jam) menggunakan mobil pribadi, yang oleh pemerintah Kota Basel sudah disiapkan parkir umum (semacam rest area). Rata-rata areal parkir ini, bentuknya bertingkat (paling tinggi 6 lantai).
Gedung parkiran umum ini, ditempatkan di pintu-pintu masuk menuju Kota Basel. Kemudian untuk berkeliling kota, mereka cukup menggunakan monorel dengan tujuan kemana mereka mau. ‘’Tidak hanya bersih dan tepat waktu, monorel di sini juga aman untuk turis lokal maupun mancanegara,’’ papar Djoko, sang Dubes RI.
Sebenarnya luas Kota Basel dan Kota Batu, hampir sama atau lebih besar sedikit. Yakni, Basel seluas 37 KM2, sedangkan kota apel ini 46 KM2. Tetapi tidak seperti Kota Basel, titik obyek wisata di Kota Batu jaraknya tidak terlalu berjauhan. Sehingga kalau disediakan monorel atau armada khusus wisatawan, tentu bisa membantu kemacetan seperti sekarang ini.
Wisman yang berkunjung dari pintu masuk arah Surabaya maupun Malang, bisa saja diwajibkan memarkir mobilnya di kawasan Junrejo, seperti keberadaan rest area yang sedang dijajaki Pemkot Batu. Begitu juga untuk wisman yang datang dari arah Barat melalui Kecamatan Pujon, bisa memarkir mobil dan bus di rest area di sekitaran Payung 1 yang mungkin lahannya bisa kerjasama dengan Perhutani.
Di dekat parkiran umum itu pula, lantas disediakan monorel atau armada khusus menuju ke pusat Kota Batu, bisa langsung menuju hotel tempat mereka hendak menginap. ‘’Pengunjung yang menginap di hotel, wajib diberi kebebasan alias gratis menggunakan bus khusus tadi. Sama seperti di Basel, pengunjung hotel gratis memanfaatkan monorel kemana mereka mau, cukup menunjukkan kunci pintu hotelnya,’’ papar Djoko.
Lantas bagaimana dengan transportasi taksi? Di Kota Basel taksi tetap dibiarkan beroperasi. Tetapi, hanya mereka yang memiliki uang lebih saja biasanya yang memanfaatkannya. Bagi masyarakat Basel atau wisatawan di Basel, naik monorel jauh lebih nyaman, aman dan murah.
‘’Kereta monorel ini, datangnya tepat waktu sesuai jadwal yang tertera di halte-halte. Contohnya, monorel nomor 6 arah wisata kota tua akan datang 2 menit, maka 2 menit lagi pasti datang. Ada atau tidak ada penumpang, mereka tetap jalan. Karena pengemudinya sudah digaji Pemerintah Kota Basel,’’ ujarnya. (has/lyo/bersambung)