1 Kg Daun Surga Gagal Beredar

MALANG – Andai tak cepat tercium polisi, mungkin Malang sudah dijajah peredaran daun surga alias narkotika jenis ganja kering asal Aceh. Beruntung, petugas Satuan Reskoba Polres Malang yang mendapat informasi, cepat bertindak dengan menangkap dua orang pengedarnya. Berikut juga dengan barang bukti ganja sekitar satu kilogram, Kamis sore lalu.
Mereka Agus Santoso, 31 tahun, warga Desa Miru, Kecamatan Sekaran, Lamongan. Dan Nur Fadillah alias Wak Min, 31 tahun, warga Desa Nogosari, Kecamatan Pandaan, Pasuruan. Keduanya ini adalah pengedar sekaligus kurir ganja yang memiliki jaringan antar kota dan bahkan antar provinsi.
“Kedua tersangka ini ditangkap di sekitar Pasar Lawang sekitar pukul 15.00. Ketika itu, mereka hendak mengantarkan paketan ganja kering tersebut kepada seseorang warga Lawang,” ungkap Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Soleh Mas’udi.
Menurut Agus Santoso, barang haram ganja itu adalah pesanan dari seseorang warga Kecamatan Lawang berinisial NR. Proses pemesanan NR sendiri lewat perantara HR warga asal Lampung, melalui hubungan via telepon. Kemudian dari HR lalu disampaikan kepada Agus Santoso.
Setelah mendapat pesanan tersebut, Agus lantas menghubungi bandar besar sekaligus pemasok narkotika asal Aceh, yang biasa dipanggil Bang MMT. Begitu transaksi via telepon ada kesepakatan deal, Agus kemudian diminta untuk mengambil barang lewat anak buah Bang MMT, yang berada di Bandung. Harga satu kilogram ganja sebesar Rp 2 juta.
“Saya ke Bandung sekitar dua minggu lalu untuk mengambil sayuran (ganja) itu. Berangkat ke Bandung saya sendirian dengan naik bus. Saya membeli dua kilogram ganja dan uang langsung saya bayar dengan sstem transfer,” terang Agus Santoso.
Begitu mendapat barang haram tersebut, sebanyak satu kilogram ganja langsung dilempar (dijual) kepada pengepul ganja di Banyuwangi. Sedangkan satu kilogram lagi, hendak dijual kepada NR, warga asal Lawang itu sebesar Rp 3 juta. Namun belum sempat melakukan transaksi, dia sudah keburu tertangkap polisi. Ganja satu kilogram yang dibungkus lakban tersebut, ditemukan di dalam bagasi (tempong) sepeda motor Vespa. “Saya ini tidak tahu apa-apa. Saya hanya diajak saja oleh Agus untuk mengantarkan ganja itu,” tutur Nur Fadillah alias Wak Min.
Sementara itu, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, keduanya dijerat dengan pasal 114 sub 111 Undang-undang nomor 35  tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukumannya, minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun kurungan penjara.(agp/nda)