Bos Perumahan Graha Dewata Ditahan

MALANG- Bos perumahan Graha Dewata, Dewa Putu Raka Wibawa akhirnya berhasil ditahan di Mapolres Malang Kota, sejak Kamis (25/4) malam, setelah beberapa jam sebelumnya diperiksa di Unit 4 Pidsus Satreskrim Polres Malang Kota. Penahanan ini terpaksa dilakukan polisi, dengan alasan agar Putu, panggilan pemilik PT. Dewata Abdi Nusa, pengembang perumahan itu, tidak melarikan diri. Kemarin pagi, selama lebih kurang empat jam, dia kembali diperiksa intensif penyidik. Informasi yang didapat Malang Post, warga Perumahan Puncak Dieng Malang ini sudah ditetapkan sebagai tersangka Pasal 378 sub 385 KUHP tentang penipuan serta penyalahgunaan hak atas tanah. Dia dilaporkan dua warga Perumahan Graha Dewata, yakni Christa Wulan dengan laporan nomor B/573/SP2HP-1/VIII/2012/Reskrim tanggal 29 Agustus 2012 dan Royke, laporan nomor B/866/SP2HP-1/XI/2012/Reskrim tanggal 22 Nopember 2012.  
Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH. SIK mengatakan pihaknya masih perlu waktu untuk memeriksa Putu lebih jauh. “Masih kami periksa secara intensif karena kasusnya sangat banyak,” ujarnya singkat. Sementara sumber Malang Post menjelaskan, Putu tetap membantah bila perusahaannya telah menggadaikan sertifikat rumah beberapa penghuni Graha Dewata.  Menurut Putu, sertifikat tersebut tidak digadaikan, tetapi digunakan untuk mengajukan kredit konstruksi di BRI Kawi.  “Ia tetap menjamin bahwa sertifikat tersebut masih atas nama pengembang bukan pemilik rumah. Dia mengatakan, bila urusan dengan BRI selesai, sertifikat itu akan diambilnya dan langsung balik nama atas nama pemilik rumah," ujar sumber ini.
Diakui Putu pula, PT. Dewata Abdi Nusa memang mengalami masalah keuangan hingga akhirnya bubar karena bekerja sama dengan pihak ketiga nonbank. Di bagian lain, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batu, Bagyo Prasasti yang tinggal di perumahan Graha Dewata mengaku cukup bersyukur karena Putu berhasil diamankan. Namun dia berharap, penyelesaian dengan cara musyawarah akan lebih baik. “Saya sudah lupa berapa nilai angsuran dan uang mukanya. Namun, yang pasti saya sudah melunasi rumah itu dan semua kuitansinya masih kami simpan. Yang saya tahu, sertifikat rumah saya sudah berpindah ke orang lain. Kami berharap ada jalan terbaik dari pak Putu untuk menyelesaikannya,” ujarnya.     
Sementara itu, kuasa hukum warga perumahan Graha Dewata lainnya, Gunadi Handoko SH, MM, M,Hum mengaku akan bertemu dengan pihak BRI Kawi untuk menyelesaikan 125 sertifikat yang ‘disekolahkan’ pengembang perumahan tersebut. “Kami mendapat informasi, Senin (29/4) nanti, pihak BRI Kawi mengundang kami untuk bertemu,” ungkapnya semalam. Namun dia juga berharap, kasus penipuan yang dilakukan Putu tidak hanya berhenti dalam penetapannya sebagai tersangka. “Harus ada orang lain juga yang jadi tersangka dan ikut bertanggungjawab dalam kasus 125 sertifikat ini. Sebab, seharusnya dalam aturan KPR, bila kredit sudah lunas, sertifikat sudah harus diberikan oleh pihak BRI Kawi. Nyatanya, sertifikat itu sudah berpindah tangan lagi,” tegasnya. (mar)