Penjual Kue di Kampus Ditemukan Membusuk

KARANGPLOSO-Sungguh merana akhir hayat Diah Siti Rahmawati, 56 tahun, warga Perumahan IKIP Blok 1E -02 Tegalgondo, Karangploso. Penjual kue di kantin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu ditemukan tewas membusuk, kemarin. Jasadnya dimakan belatung sebab tak ada yang mengurus ketika meninggal dunia.
Ninuk, demikian sapaan almarhumah memang hidup sebatang kara di perumahan itu. Jati diri Ninuk juga tak banyak diketahui oleh warga. Warga hanya tahu, dia penjual kue, hidup sebatang kara dan asli Surabaya. Diperkirakan, perempuan sepuh itu sudah meninggal dunia sejak tiga hari yang lalu.
“Warga curiga karena ada bau menyengat dari rumah kontrakan itu,” ujar Heru Widodo, 50 tahun, warga perumahan IKIP Tegalgondo.
Menurut Heru,  Ninuk dulu kontrak di rumahnya blok 1.F. Kemudian pindah kontrakan tepat di depan rumah milik Heru. Ninuk menempati rumah 1E -02 milik Puji Rahayu, 55 tahun, warga Perumahan Srikandi Comal 5 Bunul.
“Sudah kontrak sejak bulan Juni 2012, habis tanggal 9 bulan Juni 2013, beliau sudah bayar lunas Rp 3 juta,” aku Puji Rahayu.
Sebelum kontrak di kawasan Perumahan IKIP, Ninuk pernah tinggal di kawasan Dusun Gondang RT 3 RW 1 Tegalgondo. Hal itu dituturkan oleh Istirohma, 42 yang pernah menampung Ninuk. Perempuan sepuh itu memang datang ke Surabaya sendirian.
“Pernah saya bilang, kalau sakit lebih baik pulang ke Surabaya, tapi katanya tidak mungkin balik karena sama keluarga sudah tidak diterima,” akunya.
Kata Istirohma, Ninuk punya riwayat kanker payudara. Dia melihat langsung, sebab pernah memijit sang penjual kue itu. Biasanya, Ninuk minta dikeroki olehnya, juga salah satu sahabat lainnya.
“Terakahir dikeroki ya tiga hari lalu, selama ini jualan pastel, lumpur dan lemper di seluruh kantin areal UMM,” akunya.
Dedi Firdianto, salah satu kerabat Ninuk, mengatakan bahwa perempuan itu ada masalah di Surabaya. Ninuk asli Jalan Gundi Gang 3 Pasar Turi Surabaya. Dedi sebenarnya bukan kerabat langsung dari Ninuk.
“Ayah saya pernah indekost di rumah orang tua ibu Ninuk, jadi beliau dikenalkan kepada saya sebagai keponakan,” ujar pria asal Sidomulyo Batu itu.
Menurut Dedi, Ninuk belum pernah berkeluarga. Hal itu membantah, keterangan warga setempat bahwa Ninuk seorang janda. “Ibu Ninuk belum pernah menikah, dia memang punya riwayat kanker payudara, pernah di kemoterapi  pada 2006- 2007,” tegasnya.
Hari Santoso Ketua RT 41 RW 09 Perumahan IKIP Tegalgondo menyesalkan keluarga Ninuk. Sebab, selama sakit tak satupun keluarga datang menjenguk. Pihaknya sendiri sudah tiga kali merujuk Ninuk untuk konsultasi kanker ke RSSA melalui jamkesmas. “Kami sudah memberi perhatian, bahkan ibu PKK juga sering menangani beliau,” jelas dia.
Ironisnya, kematian Ninuk tak diketahui warga. Mereka baru tahu ketika bau busuk menyebar di sekitar perumahan. Kemudian, Hadi Triwiyogo (43 tahun) keamanan perumahan memberanikan diri melihat rumahnya. “Sudah membusuk dalam posisi tidur, kami kemudian lapor polisi,” akunya.
Kapolsek Karangploso AKP Sugeng Hardianto menduga korban diperkirakan meninggal karena riwayat penyakitnya. Dia membusuk karena hidup sebatang kara di rumah kontrakan tersebut. “Kami akan lacak keluarganya melalui HP yang masih aktif,” tegas Sugeng.
Evakuasi korban melibatkan tim forensic Polres Kabupaten Malang dan PMI Kabupaten Malang, kemarin. Di ruang tamu Ninuk masih tercecer wortel bahan untuk isi kue pastel. Sepeda motor  MIO nopol N 5181 JV miliknya masih terparkir.(ary/jon)