Sertifikat Ngambang, BRI Siap–Siap Digugat

MALANG- Pasca tertangkapnya bos PT. Dewata Abdi Nusa, Dewa Putu Raka Wibawa, warga perumahan Graha Dewata kembali menagih 125 sertifikat yang menjadi jaminan di Bank BRI Kawi. Kemarin, keinginan warga itu dimediasi BRI Kawi kepada salah satu warga yang juga Direktur LSM Lingkar Studi Wacana (LSW) Indonesia, Abdul Azis dan kuasa hukum warga, Gunadi Handoko SH, MM, M,Hum. Sayangnya, pertemuan di ruang rapat lantai dua BRI Kawi tertutup untuk wartawan. Keduanya ditemui Kepala Cabang BRI Kawi, Sulaiman Tahe, Legal Officer Kanwil BRI, Andi Andeska SH dan pengacara Wahyudi Dewantara SH yang disewa BRI dari Jakarta. “Intinya, kedatangan kami ini karena diundang BRI untuk menyelesaikan permasalahan 125 sertifikat yang lama ngambang ditambah 35 user yang masih menyelesaikan KPRnya di BRI kawi,” tutur Azis, panggilannya.
Dijelaskan dia, awal pertemuan itu, pihak BRI Kawi tetap ngotot bila 125 sertifikat tersebut masih berada di notaris Subandi di Jalan Rajekwesi Malang. “Tetapi setelah kita tunjukkan bukti-bukti bahwa ada orang lain yang memegang sertifikat itu, mereka terhenyak. Contoh saja, beberapa nama yang memegang sertifikat milik user itu adalah pengusaha-pengusaha di Malang, seperti Haryono, Suyanto, Cik Hwa dan Kastaji. Ini pasti ada orang BRI yang terlibat karena sertifikat-sertifikat ada di tangan orang-orang itu,” urainya. Gunadi mengaku sempat menantang BRI Kawi untuk melaporkan notaris Subandi, Kepala Kantor BPN Kabupaten Malang dan para pemegang sertifikat kepada polisi bila merasa tidak ada karyawan BRI yang terlibat. “Mereka harus melapor ke polisi kalau memang tidak ada orang BRI yang terlibat,” ungkap dia.
Dalam pertemuan tersebut, Gunadi dan Azis menuntut kepada BRI untuk menyelesaikan secepat mungkin tuntutan warga Graha Dewata. “Sebenarnya kalau dihitung, hanya butuh sekitar Rp 5 miliar untuk menyelesaikan atau mengambil 125 sertifikat dan 35 KPR itu. Ini win-win solution yang kami tawarkan. Kalau jumlah itu diambil dari agunan Putu (panggilan owner PT, Dewata Abdi Nusa) yang sebesar Rp 25 miliar, tidak ada masalah kan? Meskipun jumlah utang Putu untuk kredit konstruksi di BRI Kawi mencapai Rp 22 miliar,” katanya. Menurut pria ini, pihak BRI Kawi meminta waktu 10 hari untuk mencari solusi yang terbaik. “Kalau lebih dari 10 hari tidak ada jawaban pasti, warga Graha Dewata siap untuk berdemo kembali menuntut sertifikatnya kembali, yang kedua BRI akan digugat perdata dan ketiga, BRI juga akan dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena uang yang dipakai adalah milik negara,” pungkasnya.
Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK mengatakan, hingga sekarang ada 13 jumlah pengaduan terkait Graha Dewata yang masuk ke jajarannya. “Dua pengaduan sudah naik status menjadi laporan polisi dan sekarang masih disidik. Dalam waktu dekat, sisa pengaduan ini juga akan naik menjadi laporan polisi. Sekarang masih dalam tahap penyelidikan. Namun, tidak menutup kemungkinan, akan banyak yang melaporkan tersangka karena kasus penipuan itu,” ungkap perwira yang pernah menjabat Kasatreskrim Polres Tuban ini. Seperti diberitakan sebelumnya, sejak Kamis (25/4) malam, Putu ditahan setelah diperiksa di Unit 4 Pidsus Satreskrim Polres Malang Kota. Penahanan ini dilakukan polisi dengan alasan agar dia tidak melarikan diri. Jeratan hukum yang disangkakan, yakni Putu melanggar Pasal 378 sub 385 KUHP tentang penipuan serta penyalahgunaan hak atas tanah. (mar)