Timbun Solar, Pria Keturunan Ditangkap

MALANG - Kelangkaan solar subsidi beberapa waktu lalu di Malang, rupanya juga diperparah dengan aksi penimbunan. Buktinya, Senin (29/4) sekitar pukul 21.00, anggota Tim Crime Cruiser (TCC) Satreskrim Polres Malang Kota, menggerebek rumah milik Wahyudi di Jalan Mayjen Sungkono Gang VI RT01 RW04 Kedungkandang Malang.
Dari tempat tersebut, polisi menemukan barang bukti 14 drum dan 6 jeriken kapasitas 30 liter yang semuanya berisi solar bersubsidi. Barang bukti tersebut, baru kemarin pagi dipindahkan ke halaman belakang Mapolres Malang Kota.
Penelusuran petugas, barang bukti itu milik Harto Wijoyo, 50 tahun, seorang pengusaha transportasi di Probolinggo. Pria keturunan ini, kemarin ikut dimintai keterangan di ruang Unit 5 Opsnal Satreskrim setelah datang dari Blitar.
Menurut Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK, penggerebekan itu dilakukan beberapa anggota TCC setelah mendapat laporan dari masyarakat, yang mencurigai aktivitas penimbunan ini. ‘’Berdasarkan laporan ini, anggota kemudian ke sana dan mengamankan barang bukti ini,’’ ujarnya.
Mantan Kasatreskrim Polres Tuban itu mengaku masih belum bisa berkomentar lebih jauh. Pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap pemilik timbunan solar bersubsidi ini.
Informasi lain yang didapat, modus penimbunan ini cukup sederhana. ‘’Anak buah HW (Harto Wijoyo) membawa motor berisi dua jeriken dan membeli solar ke beberapa SPBU. Yang kerap didatangi adalah SPBU Jalan Mayjen Sungkono Malang karena dekat dengan lokasi penimbunan,’’ ungkap sumber Malang Post.
Setelah terisi, solar-solar yang ada di dalam jeriken ditampung di drum-drum. Modus itu dilakukan setiap hari hingga hampir semua drum yang disimpan di rumah Wahyudi, mertua Harto Wijaya terisi penuh.
“Pengakuan sementara, solar itu tidak dijual lagi untuk mengambil keuntungan. Namun akan dipergunakan untuk operasional perusahaan batu di Probolinggo. Tapi itu masih sebatas pengakuan,’’ lanjutnya.
Yang menarik, saat mendatangi Mapolres Malang Kota, Harto Wijaya datang dengan salah satu perwira menengah di jajaran Polres Malang. Dia sempat meminta kasus ini tidak diteruskan dan siap memberikan uang damai.
Jelas upaya itu ditolak. Bahkan, Kapolres Malang Kota, AKBP Teddy Minahasa Putra sudah melaporkan keberhasilan ungkap kasus penimbunan solar bersubsidi itu ke Kapolda Jatim, Irjen Pol Hadiatmoko, sesaat setelah mendapat laporan dari anak buahnya.
‘’Saya imbau kepada masyarakat, agar tidak mencari keuntungan di tengah krisis BBM yang dilakukan secara illegal. Polres Malang Kota pasti menindak tegas dan tanpa pandang bulu,’’ tegasnya kemarin pagi. Disinggung tentang pasal yang disangkakan kepada Harto Wijoyo, Satreskrim Polres Malang Kota menerapkan Pasal 55 jo 53 UU RI No 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi diancam hukuman penjara enam tahun dan denda paling tinggi Rp 60 miliar. (mar)

Keluarga Anggap Salah Paham
Keluarga mertua Harto Wiyono, menyangkal bahwa sang menantu, tengah terbelit kasus penimbunan solar. Saat Malang Post coba mengkonfirmasi ke kediaman Wahyudi di Jalan Mayjend Sungkono Gang VI siang kemarin, pemilik rumah yang ditengarai adalah istri Harto bernama Sio dan ibunya (Ibu Kus), buru-buru membantah tudingan yang dialamatkan kepada pengusaha yang akrab dipanggil Koko itu.
Mereka langsung keluar rumah bercat abu-abu, yang tirainya terus tertutup tersebut. ‘’Sudah-sudah. Tidak ada apa-apa di sini. Di sini kami tidak menimbun solar, kok. Salah paham saja,’’ kelit wanita paro baya yang tampak emosional saat Malang Post hendak memotret.
Rumah yang berada persis di samping lapangan kampung tersebut, tampak lengang. Sepintas tampak seperti rumah yang sedang ditinggalkan penghuninya.
Tanda-tanda aktivitas rumah tangga di sekitarnya juga tak tampak. Hanya satu unit mobil Yaris warna putih saja yang terparkir di luar rumah menyiratkan sang pemilik ada di dalam.
Selama ini warga sekitar mengaku tidak mengetahui bila rumah keluarga Wahyudi tersebut menjadi lokasi penimbunan BBM. Sang pemilik rumah juga tidak terlalu akrab dengan warga kampung.
‘’Yang kami tahu suaminya Sio itu pengusaha di Probolinggo. Pegawainya banyak, tapi kalau kegiatan di rumah itu tidak pernah kelihatan. Jadi kaget saja ternyata ada timbunan solar,’’ ucap salah seorang tetangga yang menolak namanya dikorankan.
Sedang pihak Pertamina, langsung koordinasi dengan kepolisian terkait adanya penimbunan BBM. Koordinasi tersebut, sekaligus dalam rangka rencana kenaikan harga BBM, yang segera dilakukan pemerintah.
Hal itu ditegaskan oleh Asisten Customer Relation Pertamina Marketing Operation Region V (Jatim-Bali-Nusra), Rustam Aji, kemarin. Terkait peristiwa penimbunan yang dilakukan Harto Wijoyo, mereka menyerahkan kepada aparat kepolisian. ‘’Kalau sanksi hukum, tentunya kewenangan aparat hukum itu,’’ komentar Rustam.
Karena itulah, sebagai antisipasi penimbunan, sejak awal Pertamina melarang pembelian dengan jeriken tanpa surat rekomendasi. Bahkan Pertamina akan menindak tegas terhadap oknum atau lembaga penyalur resmi Pertamina, jika melanggar. Mereka bakal diberikan sanksi, termasuk pemblokiran.
‘’Di Gresik, sudah ada dua SPBU yang kami blokir seminggu karena melayani pembelian ke jeriken tanpa surat rekomendasi,’’ imbuhnya.
Peringatan yang diberikan Pertamina antara lain penghentian pasokan sementara/pemblokiran. Bahkan tak segan, Pertamina akan melakukan pemutusan hubungan usaha.
Tidak itu saja, Jumat (26/4) lalu, GM Pertamina Marketing Operation Region V, juga telah bertemu Kapolda Jatim, untuk antisipasi penimbunan dan kenaikan harga BBM. ‘’Antisipasi kebijakan terkait harga BBM, Polri akan menugaskan minimal dua personil di tiap SPBU,’’ ujar Rustam. (tom/ary/avi)