Nasabah Sepakat Gugat BPF Lewat Bakti

MALANG - Nasabah PT. Bestprofit Futures (BPF) Malang, sepakat untuk menggugat perusahaan perdagangan berjangka komoditi ini melalui Badan Arbitrase Perdagangan Berjangka Komoditi (Bakti).
Upaya hukum ini ditempuh para nasabah setelah mereka merasa yakin Bakti dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) akan membantu menyelesaikan sengketa ini.
“Saat pertemuan dengan nasabah, BPF, Bakti, Bappebti, Disperindag Kota Malang serta Komisi A DPRD Kota Malang di Hotel Aria Gajayana, para nasabah merasa yakin kalau gugatan mereka akan dimenangkan Bakti. Beberapa contoh kasus, banyak gugatan nasabah perusahaan futures diterima oleh Bakti,” tutur Gunadi Handoko, SH, MM, M,Hum, kuasa hukum para nasabah.
Alasan lain, Bakti juga dianggap lebih paham tentang aturan-aturan hukum ataupun perjanjian dalam bisnis perusahaan perdagangan berjangka komoditi ini.
Diterangkannya, setelah pertemuan Jumat (3/5) siang itu, ada tujuh nasabah langsung menandatangani kesepakatan untuk menyelesaikan masalah tersebut lewat Bakti. Kemarin pagi, 14 nasabah yang tergabung dalam Aliansi Korban BPF juga mengajukan hal yang sama.
“Mereka juga akan menandatangani perjanjian untuk menyelesaikan lewat badan arbitrase tersebut. Ini masih kita susun materi gugatan yang baru. Yang pasti, materinya tidak jauh beda dengan gugatan yang kita layangkan ke PN Kota Malang termasuk angka nominal kerugian. Empat nasabah yang sempat mengajukan gugatan perdata kepada BPF lewat PN Kota Malang, juga akan dicabut dalam minggu ini,’’ urainya.
Di samping itu, pihaknya juga akan melakukan pertemuan terkait dua gugatan perdata yang dilayangkan BPF kepada dua nasabahnya, Tjoe Kang Long dan Dwi Rubingi. Gunadi, sapaannya menjelaskan, total kerugian pokok yang dialami 21 nasabah itu mencapai sekitar Rp 5 miliar. “Itu belum kerugian seperti bunga dan sebagainya. Pasti ada kerugian materil atau immaterial. Kami berharap, proses sidang di Bakti juga tidak memakan waktu lama. Informasi yang kami dapat, rata-rata kasus gugatan ini hingga enam bulan. Namun prediksi saya, sekitar dua bulan bisa ada hasilnya,” terangnya.
Sayangnya, Sekjen Bakti, Tri Legono Yanuarachmadi tidak bisa dihubungi kemarin. Nomor ponselnya dalam kondisi mati. Namun, ketika mengikuti pertemuan di Hotel Aria Gajayana, dia menegaskan akan segera menyelesaikan kasus tersebut secepat-cepatnya.
“Tetapi meski proses sidang, langkah perdamaian juga harus tetap ditempuh nasabah dan BPF,” katanya saat itu.
Seperti diketahui, Bappebti mencoba membantu nasabah yang dirugikan akibat perdagangan komoditi ini. Dalam pertemuan informal di Ijen Meeting Room Hotel Aria Gajayana, Kabag Pelanggaran Transaksi Biro Hukum Bappebti, Very Anggrijono yang didampingi Kabag Pelanggaran Administrasi Bappebti, Mualim Syuib berharap ada kata mufakat atau titik temu antara BPF dan nasabahnya.
Apalagi diketahui, banyak pokok perjanjian yang tidak diterangkan kepada nasabah oleh pihak BPF. “Seperti tidak dijelaskan kerugian mengikuti bisnis itu, bagaimana menyelesaikan perselisihan dan sebagainya,” ungkap Very. (mar)