Tiga Siswa SDN 4 Bumiayu Hanyut

MALANG POST -  Empat siswi SDN 4 Bumiayu diketahui hanyut di Sungai Brantas, bawah jembatan lori yang menghubungkan Gadang dan Bumiayu, Malang, kemarin siang. Yakni Delia Eka Purnama, Ulfa, Sukemi dan Faisyah Fitri. Mereka rata-rata berusia 12 tahun dan tinggal di Jalan Kiai Parseh Jaya, Bumiayu, Kedungkandang.  Faisyah berhasil diselamatkan oleh Imron, salah seorang teman sekolahnya, sementara Delia, Ulfa dan Sukemi hilang ditelan air sungai. Hingga semalam, anggota SAR gabungan masih melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian. Informasi yang dihimpun, para korban yang hilang ini bersama 10 teman sekolahnya mendatangi sungai Brantas yang membelah wilayah Bumiayu dan Gadang ini.
“Mereka sempat foto-fotoan di pinggir dan di dalam sungai. Ada yang bilang kedatangan mereka ke sungai juga untuk latihan masa orientasi siswa (MOS) setelah selesai ujian sekolah,” tutur Edi Slamet, salah seorang warga di TKP semalam.
Setelah foto-fotoan dengan menggunakan HP itulah, Delia, Ulfa, Sukemi dan Faisyah menceburkan diri ke dalam sungai. Beberapa kali, mereka dilihat teman-temannya memasukkan kepala ke dalam air dan mengeluarkannya. Tanpa sadar, hujan yang terjadi kemarin siang mengancam keselamatan para bocah SD ini. Begitu hujan semakin deras, tiba-tiba keempat siswi SDN 4 Bumiayu tersebut tertelan air sungai. “Saya hanya bisa menolong Faisyah,” kata Imron yang datang ke sungai setelah diajak beberapa teman-temannya. Sedetik kemudian, dia tidak melihat tiga temannya lagi. Mulanya, Imron dan beberapa siswa lainnya tidak berani memberitahukan peristiwa itu ke orang tua para korban.
“Saya sendiri tahu kalau anak saya hilang sore hari. Saat saya pulang dari kerja di pabrik rokok Cakra pukul 12.00, tidak melihat anak saya di rumah. Dia saya cari kemana-mana tapi tetap tidak ketemu. Termasuk beberapa orang juga mencari Ulfa dan Sukemi. Ternyata, sekitar pukul 16.00, saya diberitahu kalau anak saya hanyut di sungai,” ujar Halimah, 31 tahun, ibu kandung Delia. Kabar itu langsung menyeruak ke seluruh warga Bumiayu dan sekitar tempat tinggal para korban. Ratusan warga ini lantas melakukan pencarian dengan menggunakan peralatan seadanya. Termasuk pula memukul-mukul panci atau alat masak lainnya agar tubuh ketiga korban bisa segera ditemukan dan dikeluarkan dari dasar sungai.  Sedangkan beberapa warga lainnya memilih memberitahukan kejadian ini ke polisi dan Tim SAR.
Sementara itu, Tim SAR Mahameru langsung melakukan persiapan pencarian semalam. “Kami berangkat malam ini juga (semalam,red) dengan 20 anggota dan dua perahu. Tim kita bagi. Penyisiran dimulai dari TKP. Ini dilakukan 12 orang dan ada beberapa anggota tim yang menunggu atau mencari di daerah Blobo. Kita juga siapkan tim di Bendungan Sengguruh,” terang Andy Susetyo, penasehat Tim SAR Mahameru ditemui di markasnya, Jalan Tumbal Negara, Sawojajar, Malang. Menurut dia, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Tim SAR lainnya yang sudah ada di TKP. “Kami sudah berkoordinasi dulu dengan Tim SAR yang sudah ada di sana agar tidak masuk ke sungai dulu kalau tidak membawa peralatan lengkap. Ini saja, kita siapkan dua perahu dan pelampung serta tali-tali sebagai pendukung operasi SAR terhadap tiga korban,” tegasnya. (sir/mar)