Tak Ada Dasar Hukum, Terpaksa Lepas Joki

MALANG - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan koordinasi intensif dengan kepolisian, terkait kasus perjokian yang terjadi pada tes penerimaan mahasiswa baru di UMM.
Sebab tidak menutup kemungkinan, sindikat joki yang beraksi di UMM, juga akan beraksi pada pelaksanaan seleksi di perguruan tinggi negeri (PTN) atau pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN).
‘’Kami terus berkoordinasi dengan kepolisian. Tadi (kemarin, Red.) rektor juga sudah berkoordinasi dengan polres,’’ ungkap Kepala Humas UMM, Nasrullah M.Si kepada Malang Post.
Sayangnya, karena tidak ada dasar hukum untuk menahan para peserta yang sudah berbuat curang, UMM melepaskan 2 joki dan juga 31 peserta tes.
Hanya saja kartu identitas dua joki yang ternyata mahasiswa ITS Surabaya, masih ditahan di UMM. Rencananya rektor akan segera berkoordinasi dengan ITS Surabaya terkait perbuatan dua mahasiswanya.
Kemarin, UMM juga mencoba menelusuri salah satu orang tua pendaftar yang berasal dari Kalimantan. Ia mengaku harus menyetor Rp 250 juta jika diterima di Fakultas Kedokteran (FK) UMM.
Padahal biaya masuk FK UMM hanya sekitar Rp 150 juta. ‘’Katanya uang belum diserahkan, namun diminta kartu keluarga (KK) asli sebagai jaminannya,’’ kata dia.
Dari hasil interogasi petugas, sebanyak 31 peserta tes UMM yang memanfaatkan jasa joki, mayoritas memilih FK. FK UMM tahun ini menerima mahasiswa baru sebanyak 150 orang dan jumlah peminatnya bisa mencapai ribuan pendaftar.
Selain UMM, Universitas Islam Malang (Unisma) juga memiliki fakultas kedokteran (FK). Persaingan masuk FK Unisma juga sangat ketat dengan perbandingan sekitar 1:10.
‘’Kuota FK Unisma hanya 80, karena itu seleksi selalu dilakukan dengan ketat,’’ ujar Pembantu Rektor 3 Unisma, Dr H Masykuri Bakri M.Si.
Kejadian perjokian di UMM menurutnya menjadi warning bagi Unisma. Karena itu akan dipertimbangkan untuk melakukan prosedur yang ketat termasuk kemungkinan penggeledahan pada peserta ujian. Hanya saja Masykuri mengaku tidak akan melibatkan aparat kepolisian untuk pengamanan ujian di FK Unisma. (oci/avi)