Rampok Obok-Obok Poncokusumo

PONCOKUSUMO - Aksi perampokan kembali menggunjang Kabupaten Malang. Minggu (26/5) dini hari kemarin, kawanan perampok menyatroni kediaman H Mudhor, 40 Tahun, warga Dusun Sumbersari, RT 30 RW 06, Poncokusumo. Tidak hanya membawa kabur harta benda berharga milik korban, pelaku yang beraksi dengan membawa celurit dan besi ini juga membacok korban.
Luka yang dialami pengusaha selep ini tidak terlalu parah, sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Korban yang ditemui Malang Post di kediamannya menceritakan, jika peristiwa sadis itu terjadi sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu dia terbangun, lantaran mendengar suara berisik yang berasal dari depan rumahnya.
Curiga dengan suara berisik itu, sontak membuatnya melihat apa yang terjadi. Ketika akan melihat situasi tersebut, tiba-tiba kawanan perampok mendobrak pintu depan rumah korban. “Ada enam perampok yang masuk ke rumah, kemudian seorang diantaranya mengancam saya dengan menggunakan bahasa madura,” ujar H Mudhor kemarin.
Tak cukup hanya mengancam, enam perampok itu juga mengacungkan celurit ke arahnya. Tak terima begitu saja,  korban mencoba melawan dengan beradu fisik dengan para perampok. Namun, kawanan perampok nekat membacok tubuh Mudhor sebanyak tiga kali. Yang akhirnya membuat korban lemas dan mengehentikan perlawanannya.
“Punggung saya dibacok dua kali, sisi kiri dan sisi kanan. Perut saya juga sempat ditusuk dengan pisau, alhamdulillah lukanya tak dalam,“ terang bapak satu cucu ini.
Setelah berhasil melumpuhkan Mudhor, kemudian kawanan perampokan melumpuhkan empat penghuni rumah lainnya yang sedang tertidur lelap. Mereka adalah istri korban, Hj Asena, 45 tahun, anak korban, Puji Susianti, 20 tahun, menantu korban, Nur Yasin, 35 tahun, dan cucu korban, Achmad Fauzi, enam tahun.
“Kemudian, kami semua dilakban mulutnya, kedua kaki tangan diikat dengan tali rafia, dan wajahnya ditutupi sama kain hitam,“ bebernya.
Setelah berhasil melumpuhkan semua penghuni rumah, kawanan perampok menyuruh korban untuk memberitahukan tempat letak uang, perhiasan, dan barang berharga lainnya. “Perampok mengancam akan memperkosa anak saya, bila tak menunjukan letak uang dan perhiasan. Terpaksa, sayapun memberitahukan tempatnya,“ ucapnya lirih.
Dari rumah korban, kawanan perampok tersebut berhasil menggarong cincin emas seberat tiga gram,  anting-anting emas seberat enam gram, uang tunai delapan juta rupiah, sepeda motor merek Yamaha Vixion nopol N 2776 GK beserta STNK, helm, jaket kulit warna hitam, HP Nonia E 63.
“Total kerugian kami sebesar Rp 25 Juta. Sebelumnya kami tak pernah mengalami perampokan, kemalingan aja tak pernah,“ keluhnya.
 Usai menggarong barang berharga, kawanan perampok itu tanpa rasa bersalah, ngacir begitu saja. Sekitar pukul 02.30, Nur Yasin yang berhasil melepaskan diri dari ikatan yang memblenggunya.
Kemudian Yasin, melepaskan ikatan seluruh penghuni rumah, kemudian meminta bantuan kepada warga sekitar. Oleh warga sekitar, lalu diteruskan melapor ke Polsek Poncokusumo. Sedangkan Mudhor yang bersimbah darah, seketika itu juga langsung dibawa ke Polindes setempat oleh para tetangga yang menolongnya.
Dia memperkirakan, pelaku perampokan berjumlah 10 orang. “Di luar rumah, saya masih mendengar banyak orang. Sedangkan enam perampok yang masuk di dalam rumah mereka semuanya memakai kerpus. Sehingga wajahnya memang tak kelihatan. Usia para perampok, saya perkirakan masih muda. Itu terdengar dari suaranya,” bebernya.
Sementara itu, kepolisian yang menerima laporan, langsung mendatangi rumah korban dan melakukan olah tempa kejadian perkara (TKP). “Kami dibantu Polres Malang untuk mengusut kasus ini. Sementara ini, tahapannya masih dalam penyelidikan,” ungkap Kapolsek Poncokusumo, AKP Timbul Wahono. (big/aim)