Anggota DPRD Di-Lowokwaru-kan

MALANG POST - Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Malang, HM Suhadi SE MAP, sejak kemarin mendekam di LP Lowokwaru, Kota Malang. Politisi asal PDIP tersebut, ditahan Kejaksaan Negeri Kepanjen, terkait kasus dugaan penggelapan mobil, yang dilaporkan Suratman dan Toni Krispian Yuniarto, 2012 lalu.
Kepastian ditahannya Suhadi, disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kepanjen, Supriyadi Ahmad SH, kemarin. ‘’Benar, sekitar pukul 12.45, Suhadi ditahan di LP Lowokwaru hari ini (kemarin, Red.),’’ ujarnya kepada wartawan, kemarin.
Sebelum ditahan, tambahnya, Suhadi yang juga mantan Ketua DPRD Kabupaten Malang itu, memang dipanggil kejaksaan dalam kasus penggelapan mobil. Dia pun hadir bersama tim kuasa hukumnya.
Setelah berada di Kejaksaan, JPU melalui rapat internal, memutuskan menahan Suhadi. ‘’Yang bersangkutan, sangat koperatif saya kira. Hanya saja, kuasa hukum Suhadi sempat minta penangguhan penahanan. Kami menyarankan, nanti saja setelah dilaksanakannya pengadilan,’’ terangnya.
Supriyadi Ahmad juga membenarkan, penahan Suhadi ini terkait kasus dugaan penggelapan mobil. Bahkan sebelumnya, Suhadi beberapa kali mangkir dari panggilan. Termasuk ketika dipanggil kepolisian.
Penahanan Suhadi juga dilakukan, setelah JPU menyatakan seluruh berkas pemeriksaan Suhadi oleh Polres Malang, sudah lengkap (P21).
Kelengkapan berkas Suhadi atas kasus dugaan penggelapan mobil, dibenarkan oleh Kasatreskrim Polres Malang, AKBP Decky Hermansyah.
‘’Selain berkas yang sudah lengkap, alat bukti yang kami kumpulkan sudah cukup untuk membawa tersangka ke sidang di pengadilan,’’ katanya saat dihubungi Malang Post kemarin.
Alat bukti yang dimaksud adalah, beberapa mobil yang digelapkan oleh tersangka dan berhasil dikumpulkan serta diamankan oleh penyidik Polres Malang.
‘’Tindakan yang kami ambil, adalah suatu bentuk keseriusan kami mengusut tuntas kasus ini. Jadi, di mata hukum adalah sama. Termasuk seorang anggota DPRD sekalipun,’’ sebutnya.
Terpisah, kuasa hukum Suhadi, MS Al Haidary SH mempertanyakan dasar penahanan yang dilakukan Kejari Kepanjen terhadap kliennya. Dia menyebut, dasar yang digunakan tim penyidik Kejari untuk menahan kliennya, sangat subyektif.
Menurutnya, selama dilakukan pemeriksaan di kepolisian, kliennya bersikap kooperatif. Kalaupun ada yang tidak memenuhi panggilan, juga karena ada alasannya. Buktinya, selama ditetapkan sebagai tersangka, kliennya tidak sampai ditahan. Apalagi, dia bukan penjahat atau koruptor.
‘’Kalau untuk melarikan diri, sangat tidak mungkin, karena dia sebagai anggota dewan. Kalau menghilangkan alat bukti, alat buktinya sudah disita. Penahanan klien saya lebih pada sikap subyektif penyidik,’’ ungkap Haidary, usai mendampingi kliennya yang ditahan di LP Lowokwaru.
Ditambahkannya, kliennya punya hak untuk mengajukan penangguhan. Upaya pengajuan penangguhan akan segera diajukan. Dia juga berharap, kasus kliennya dapat segera disidangkan di pengadilan.
Seperti diketahui, Suhadi dilaporkan ke Polres Malang oleh beberapa orang dengan tuduhan penipuan. Kali pertama yang melaporkan adalah Suratman, warga Kedungkandang yang merupakan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Malang. Termasuk Toni Krispian Yuniarto, warga Pasuruan yang memiliki usaha rental mobil, pada pertengahan Mei 2012 lalu.
Suratman melaporkan, mobil miliknya Daihatsu Xenia N 1666 AN dipinjam Suhadi untuk kegiatan kampanye selama pilkada pada 2010 lalu. Namun, mobil tersebut malah digadaikan kepada orang bernama Alex Suwito.
Sedangkan Toni Krispian Yuniarto mengaku, mobilnya Daihatsu Xenia N 524 VH disewa pelaku, namun pembayarannya menunggak dan mobilnya tidak kunjung dikembalikan.
Setelah Suratman dan Toni Krispian Yuniarto, kemudian pada pertengahan Juni 2012, menyusul tiga orang yang juga menjadi korban politisi PDI-P itu melapor ke Polres Malang.
Mereka yakni pemilik Lorent Tour and Travel, Suprianto warga Jalan Candi Panggung Indah II Malang, pemilik Rental 35 Surabaya, Muklis warga Kebonagung Pasuruan dan pemilik Merdeka Rental,  Muhammad Komar warga Jalan Danau Bratan Timur I / C3 Sawojajar, Malang. Dalam laporannya, ketiganya sama-sama tertipu sejumlah uang sewa mobil. (big/aim/avi)