BPF Kalah Gugat Nasabah

MALANG POST - PT. Bestprofit Futures (BPF) Cabang Malang kembali menelan pil pahit. Perusahaan perdagangan berjangka komoditi tersebut, gagal menggugat perdata seorang nasabahnya, Tjoe Kang Long, asal Surabaya Utara lewat Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. BPF mengajukan gugatan perdata dengan nomor 120/Pdt.G/2013/PN.Sby karena menganggap Long, panggilan nasabahnya tersebut melakukan perbuatan melawan hukum seperti intimidasi ataupun mencemarkan nama baik BPF hingga mereka mengalami kerugian.
Isi gugatan, BPF juga meminta ganti rugi sebesar Rp 5.855 miliar. Dalam gugatan yang dilayangkan tanggal 9 Februari 2013 lalu, hakim PN Surabaya justru menerima eksepsi yang diajukan Gunadi Handoko, SH, MM, M.Hum, kuasa hukum Long, dalam sidang yang digelar Selasa (28/5).
“Setelah hampir 10 kali sidang, eksepsi kami diterima. Di dalam eksepsi yang kami bacakan, kami tetap mempermasalahkan seorang pemimpin cabang BPF, Andri Pung menandatangani penunjukan gugatan perdata kepada pengacaranya, Dwi Wimbo SH dan Joko Tri Cahyono SH,” tuturnya.
Menurut dia, Andri Pung sudah menyalahi aturan UU Perseroan Terbatas Pasal 103 yang menjelaskan, yang berhak memberikan penunjukan kepada kuasa hukum adalah direksi. “Atas dasar itulah, eksepsi yang kami ajukan diterima oleh majelis hakim. Mereka menyatakan, gugatan perdata yang diajukan BPF itu cacat hukum formil,” lanjut dia.
Dijelaskan Gunadi, panggilannya, sekarang hanya tinggal menunggu pihak BPF untuk mengajukan banding atau tidak. Masih menurutnya, keputusan majelis hakim itu menunjukkan keadilan yang serupa dengan sidang gugatan perlawanan sebelumnya.
Seperti diketahui, sebelumnya langkah nasabah BPF Malang mengharap keadilan akhirnya berhasil. Bila di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, keputusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Malang yang meminta BPF mengganti semua kerugian yang diderita nasabahnya dianggap cacat hukum, namun tidak bagi PN Surabaya. Kamis (16/5), PN Surabaya menolak gugatan perlawanan yang dilayangkan BPF terhadap putusan BPSK terhadap seorang nasabahnya, Tjoe Kang Long yang berdomisili di Surabaya Utara.
Majelis hakim yang diketuai Bambang Kustopo SH, menyatakan dalam putusan sela bahwa gugatan perlawanan putusan BPSK Kota Malang yang diajukan BPF dengan nomor perkara 214/Pdt.Plw/2013/PN. Sby tidak berdasar alias cacat hukum formil. “Di sisi lain, untuk penyelesaian nasabah lainnya lewat jalur Badan Arbitrase Perdagangan Berjangka Komoditi (Bakti), terus dilakukan. Kemarin kami mendapat informasi bila BPF diminta membuat addendum baru,” ujar dia.
Sementara itu, Long yang kemarin dikonfirmasi mengatakan cukup lega dengan keputusan hakim terhadap gugatan perdata yang dilayangkan BPF kepadanya.  “Akhirnya kami sebagai nasabah, menang total. Dua kali mereka kalah di PN Surabaya,” tuturnya. (mar)